I am freelance intelligence. Currently trying to understand capitalism.

Monday, 10 November 2014

Antara Aku dan Kamu

Ada setitik arti yang hadir, ketika waktu datang padaku bersamamu
Ada hening yang perlahan mencair, ketika waktu datang padaku bersamamu
Dan bersamamu, kuingin mengulang seluruh waktuku
Menjalaninya dengan sederhana, apa adanya aku dan kamu

Dahulu kala manusia pernah ingin hidup di ketinggian
Karena di sana, waktu berjalan dengan lebih lambat, dan mereka dapat hidup lebih lama
Namun kenyataannya mereka salah
Hanya ada sedikit oksigen di tempat yang tinggi, membuat mereka mati lebih cepat

Dahulu kala aku pernah ingin hidup bersamamu, selamanya
Karena di sana, waktu berjalan dengan lebih indah, dan bersamamu adalah indah untuku
Namun sepertinya aku salah
Hanya ada sedikit waktu untuk kita berbicara, yang entah apakah akan membuat cinta mati dengan lebih cepat



Read More

Saturday, 1 November 2014

Tears don't fall

With blood shot eyes I watch you sleeping
The warmth I feel beside me is slowly fading


Ada gundah yang tak lagi sama. Ada rindu yang tak lagi mengharu. Ada bayangmu yang perlahan memelukku, erat dan hilang. 

Would she hear me if I called her name?
Would she hold me if she knew my shame?


Kutunggu kau di hari yang mati, di waktu yang berhenti, di detak jantung yang tertatih. 
Ada awan dan gelap. Ada nurani dan api. Setidaknya untuk sesaat. Ijinkan aku menyentuhmu. 

The moments die, I hear no screaming
The visions left inside me are slowly fading



Entah mungkin, entah tidak dan debu-debu membawaku bersatu. Dan kutahu, jawabannya adalah tidak. Pandanganku mengabur, perlahan dan semakin cepat. Namun, kumohon dengarlah kecup terakhirku, see you dear..


song: Tears don't fall, BFMV
Read More

Friday, 31 October 2014

Cinta Datang Terlambat

tak kumengerti mengapa begini, waktu dulu ku tak pernah merindu..
tapi saat semuanya berubah, kau jauh dariku, pergi tinggalkanku..

Waktu seperti begitu cepat berlari. Meninggalkan kita yang terlalu lama untuk memahami kata hati. Memang penyesalan selalu datang di kemudian hari, tanpa pernah terbayang kehadirannya waktu kamu masih di sini. 

mungkin memang ku cinta, mungkin memang ku sesali, pernah tak hiraukan rasamu, dulu..
aku hanya ingkari kata hatiku saja, tapi mengapa kini, cinta datang terlambat..

Ketika dulu aku harus memilih, antara kamu atau dia. Ah, aku hanya tak pernah berfikir bahwa kamu punya perasaan yang lebih dari sekadar teman. Andai saja waktu dapat kembali lagi. 

                    "Aku pengen ngomong sama kamu"
                    "Aku juga pengen cerita sama kamu"
                    "Ok, kamu duluan"
...

Jarum pendek di arlojiku telah bergeser beberapa mili. Dan waktu seperti berhenti setelah sekian lama tak kujumpai senyuman itu. 

mungkin memang ku cinta, mungkin memang ku sesali, pernah tak hiraukan rasamu, dulu..
aku hanya ingkari kata hatiku saja, tapi mengapa kini, cinta datang terlambat..
                      "Udah lama ya nunggunya?"
                      "Enggak kok, nggak selama kamu"
                      "Hahaha, udah yuk, keburu macet"

                      
Song: Cinta datang terlambat, Maudy Ayunda..



Read More

Thursday, 9 October 2014

It's not really anything she said, and..

It's not really anything she said, or anything she did.. it was, the feeling that came along with it..
may be she know that, when she saw me.. and may be the worst part of this was not loosing her, it's loosing me.
- i knew you were trouble


you know, everything has changed. you, i. it looks like tomorrow will never gonna be the same. before i know you, i never imagine anything beautiful come and see my days. you, i.

you know, it will never gonna be the same. the time we passed, the flowers we kissed, the feeling i missed you. i know it's a simple matter. it just about, feeling. you, i.

you know, we will not live together. you, i. yes, we can't. no, you. i don't really mean, you leave. but let see the stars tomorrow, it should be beautiful. you, i. saw them last year.

you know, i'll always put your name in my coffee cup. it was the same. but not what i feel. it was different. you, i.

yes, you, and i..







Read More

Tuesday, 30 September 2014

There's so much to say, for you..

There's so much to say, for you
Since the time we first met, many things happened
Since the time we've parted, more things happened
I'm glad to saw you last time
You looked awesome. You looked so happy.
Me too

I was wondering whether we will really be parted after that conflict
I was always hoping the time to back at a moment when you walked with wet red eyes and turned back for a second
I was always hoped I can repeat what I did at that scene
I was always hoped at that second, I can run to catch you, say sorry
And then we talked about everything, release all anger

You know that I love you because I told you, I declared my love with a word I love you
Later I realized you didn't really got that from what I've done for you
You know, I was thinking that we were very difficult to be together
I don't even have a quarter of your mate criteria
And you don't even own a half of mine

If I have the ability to drive my feeling
I will never choose to love you

Since we were parted,
I tried to put someone inside my feeling
Several times I realized my heart stopped at the middle
I remembered you
I remembered all the stupidity I've made
I remembered your laugh, your words, your smile, your anger, your ignorance

It was never easy for me
I hope we can sit and talk together
Not to talk about the past
Nor to talk about the future
I just want to enjoy the moment,
I think I will say,
You looks a little bit different this time. em, you know I have so much to say, for you


Read More

Thursday, 25 September 2014

Memahami teks atau konteks?

Aku lebih suka berteman dengan orang yang bisa salah, dari pada berteman dengan orang yang pasti benar dan selalu benar. orang semacam itu mengerikan. -@noffret ..

Saya merasa ada sebuah perubahan situasi yang sangat terasa sejak saya mulai menginjak usia remaja. Dulu, ketika kecil saya tidak pernah membayangkan informasi dapat menyebar seluas dan secepat ini. Dulu saya selalu mengalami kesulitan untuk membaca habis surat kabar yang biasa saya beli di akhir pekan. Saya dulu merasa seperti informasi baru berubah setiap minggunya. Ya, saya dulu berfikir dan mengalami hal seperti itu.

Sekarang, saya melihat dunia ini seperti seringkali diramaikan oleh amarah yang kosong. Begitu cepat informasi sampai di pikiran orang-orang, dan begitu cepat pula pikiran mereka merespon tanpa mencoba memahami terlebih dahulu. Akhir-akhir ini begitu banyak kasus yang ramai di media sosial dan kita dapat menjumpai begitu banyak opini yang marah dan kosong.

Saya coba berfikir dan mencari pemikiran-pemikiran teman-teman lain, sampai pada sebuah kesimpulan; opini yang marah dan kosong itu karena pikiran hanya digunakan untuk memahami teks, bukan konteks. Satu hal yang sebenarnya sangat disayangkan juga, banyak kalangan akademisi yang kalau dipikir-pikir mendapatkan pendidikan yang bagus juga hanya menggunakan pikirannya untuk sebatas memahami secara tekstual. haha..  
Read More

Tuesday, 10 June 2014

Thursday, 8 May 2014

Is Value Investing Become A Relic Today?

Ketika berbicara mengenai value investing, biasanya yang muncul di pikiran sebagian besar orang ialah sosok Om Warren E. Buffet, seorang bintang investasi yang menggunakan strategi value investing. Value investing sendiri, sebenarnya merupakan strategi berinvestasi yang dikemukakan oleh Benjamin Graham dan David Dodd dalam buku mereka Security Analysis yang ditulis pada 1933 dan disempurnakan lagi dan terbit edisi ke-duanya tahun 1940.

Pada kata sambutannya di edisi ke-enam buku -Security Analysis- tersebut, Om Buffet mengatakan bahwa beliau memiliki tiga buku yang paling berharga dalam hidupnya, yang salah satu ialah Security Analysis ini.

Value Investing kemudian diambil intisarinya oleh sebagian besar orang sebagai strategi membeli saham yang undervalued atau dihargai murah oleh pasar, yang mana sebenarnya nilai intrinsik saham tersebut masih sangat menjanjikan. Intinya, membeli saham di harga yang aman, kalau turun ya nggak bakalan turun banyak, tapi kemungkinan naiknya bisa banyak. Saya sendiri baru membaca Security Analysis satu kali dan saya rasa masih perlu membaca ulang setelah ujian akhir semester nanti. Walau pun fokus pembahasannya adalah value investing, Security Analysis sendiri sebenarnya cukup memaparkan mengenai investasi mulai dari hulu hingga ke hilirnya. Yang artinya apa, cukup banyak data atau informasi yang diperlukan untuk meninjau atau menentukan harga wajar suatu saham. Karena biasanya intrepretasi harga wajar itu pun berbeda dari satu analis ke analis lainnya. Maka dari itulah sepertinya, mengapa Om Buffet lebih memilih saham-saham yang sudah listing di bursa setidaknya selama sepuluh tahun, karena ada cukup data di sana.

Ada beberapa metode dalam menghitung harga saham, melalui dividen, free cash flow, dan beberapa lainnya. Namun kemudian yang menjadi pertanyaan ialah, mengapa saham tersebut undervalued? Karena tidak ada investor atau analis yang dapat melihat kebagusannya, karena kinerja atau prospeknya dirasa buruk, atau karena pasar memang sedang koreksi?  Nah dalam value investing, biasanya investor memilih emiten yang performanya tetap bagus dan meningkat, namun harganya turun. Kan aneh kan ya sebenarnya? Orang kinerjanya nggak turun kok harganya turun, tapi ya begitulah, sepertinya memang banyak orang aneh di Wall Street.

Value investing sendiri sepertinya tidak begitu banyak diminati di Indonesia, yap, kebanyakan investor Indonesia adalah trader, karena menggunakan strategi trading, dirasa lebih rendah risiko dan keuntungannya bisa lebih besar. Dan sepertinya tidak terlalu harus berpusing-pusing ria seperti Om Buffet yang harus bergelut dengan laporan keuangan, company plan, dan model-model perhitungan, para trader hanya cukup menguasai analisa teknikal dan beberapa dasar analisa fundamental.

Karena selain risiko value investing cukup tinggi jika kita salah perhitungan, misal nih, kita beli Astra Internasional tahun 1998 dulu, yang harganya gocap (biar enak nyebutnya aja), dan kita belum tahu apakah kelak perusahaan ini bisa survive atau tidak, kan cukup riskan. Bandingkan dengan kita beli sahamnya Astra tahun 2014 ini yang mana harganya sudah lumayan dan perusahaannya juga sudah konstan memperoleh profit, risikonya kan lebih rendah. Well, sebenernya orang-orang berpendapat value investing ini justru sangat rendah risikonya karena membeli saham di bawah harga wajarnya. Tapi, alasan terjadinya harga tersebutlah yang menurut saya menjadi risikonya. Siapa coba yang tahu kalau ASII bisa survive dulu?? Tapi sekarang kalau ditanya, siapa yang bisa bilang ASII akan masih berkembang dalam 10 tahun ini?? Banyak yang bisa jawab dan ngasih justifikasi kan??

Maka dari itulah value investing menuntut analisa yang komprehensif, kayaknya juga melibatkan intuisi ya kalo nggak salah biasanya, tanya deh Pak Teguh Hidayat atau Opa LKH.

Nah, jika ceritanya seperti itu, berarti kan lebih baik kalau kita membeli saham yang sudah break out - menembus titik resistennya, atau titik jenuh jualnya-, untung 3% - 7%, atau ketika indikator teknikal udah mulai ngasih warning kita lepas sahamnya, terus nyari lagi yang break out, begitu seterusnya. Jadi ya buat apa capek-capek belajar value investing kan gitu?

Satu kalimat yang ingin saya ucapkan sekarang adalah, semua hal itu diawali dengan niat. Dan dalam berinvestasi, setiap orang tidak selalu memiliki tujuan yang sama. Dan satu hal yang membuat orang sukses adalah karena ia memiliki visi. Om Buffet jelas punya visi yang matang dan mantap ketika membeli Berkshir Hathaway dulu. Dan kenapa kebanyakan investor yang sukses besar adalah value investor karena seorang value investor selalu memiliki visi yang matang dan mantap ketika berinvestasi, namun bukan berarti trader tidak. Tapi secara logika pun kita bisa menyadari, ketika seseorang memutuskan untuk menggunakan strategi value investing dan ia tidak memiliki visi, ia biasanya mulai ragu-ragu dan memutuskan untuk tidak disiplin dengan rencananya. Tapi, untuk menjadi trader, menggunakan rekomendasi para analis, membuat perencanaan berdasarkan rekomendasi tersebut, cut loss kalau tembus harga sekian, take profit kalau tembus harga sekian, pun sudah lumayan cukup untuk mendapat profit. Jadi itulah mengapa trading populer sekarang.

Nah, lalu benarkah kemudian value investing senasib ama Black Berry? Em itu pertanyaan yang cukup berat sebenarnya, tapi jawaban saya adalah tidak. Karena ia merupakan suatu disiplin ilmu, dan disiplin ilmu seharusnya tidak peduli dengan jumlah pemakainya. Jadi begini, seperti yang dibilang Om Buffet; dalam jangka pendek, pasar saham itu kayak kontes kecantikan (baca: kontes popularitas), tapi di jangka panjang, baru lah itu benar-benar kontes kualitas. Saya sendiri masih belum begitu menemukan pemahaman yang cukup mantap mengenai Value Investing, jika ada temen-temen yang ingin ngobrol-ngobrol mengenai itu, silakan email di muwafah@yahoo.co.id ..

 





 
Read More

Saturday, 3 May 2014

The Idea of Smoking

Ngeroko atau smoking sepertinya terlihat sederhana saja. Tinggal dinyalain pake api, dihisap, dihembusin asepnya, habis, nyalain lagi, selesai. Tapi pernahkah kita memikirkan beberapa hal di balik rokok? em, industrinya mungkin, atau pemiliknya?
Beberapa orang mulai cukup ramai membicarakan mengenai industri rokok dan farmasi. Sesuatu seperti, jebakan kapitalis. Kampanye anti rokok digalakkan di seluruh dunia secara masif oleh mereka para pebisnis besar seperti bloomberg, morgan, dkk. dan dunia industri membuat aturan untuk tidak menerima pekerja yang meroko di posisi yang cukup baik. Jadi yang ngeroko entar cuma bisa jadi kuli deh. Akhirnya, semua orang akan lari ke industri farmasi untuk membersihkan dirinya dari pengaruh nikotin. Nah, industri farmasi yang siap menyambut itu ialah milik kapitalis besar seperti di atas. Artinya, tidak sia-sia sudah mereka menggelontorkan dana yang luar biasa banyak untuk disumbangkan ke pelbagai negara guna kampanye anti-rokok.
Benarkah memang seperti itu skenarionya? ya ngga tau juga deh. Sepertinya masih ada banyak hal di balik skenario di atas, informasi tersebut saya rasa hanya sebesar kapal Titanic dalam samudra. 
Read More

Wednesday, 5 February 2014

Penghapusan Beberapa Posting

Well bray, rencananya sih blog ini mau dihapus sebenernya. Yaa beberapa bulan kemarin lah akhir tahun 2013, sekitar November.
Ada alasan cukup kuat juga sih sebenernya, tapi, setelah dipikir-pikir lagi dan sedikit mengingat memori lama ketika dulu bakar buku harian (buku 2 tahun itu padahal T.T) dan sekarang nyesel, akhirnya diputuskan untuk tetep lanjutin ini blog dan menghapus beberapa konten yang berpotensi membahayakan keselamatan di kemudian hari jika diketahui orang-orang yang belum bisa dipercaya. Jadi mungkin blog ini lebih diarahin buat hiburan dan berbagi cerita-cerita sederhana aja ya.

Salam,
Fahmi
Read More

Kabut lembut di Papandayan #Part 2

Fiuh, aku cuman pengen bilang lewat tulisan ini.
Bahwa darah, otot, daging dan tulang, bukanlah sumber kekuatan yang utama, melainkan pikiran, dan hati.

Nggak ada kekuatan yang lebih besar dari sebuah keyakinan, sebuah kepercayaan.
Nggak ada kelemahan yang lebih besar, dari sebuah keragu-raguan, dari sebuah hati yang kecil.

Sepasang mata yang menyorot tajam ke atas

Nggak ada sebuah pelipur lara yang paling mujarab, melainkan cinta.
Nggak ada multivitamin yang paling ampuh, melainkan ketulusan.

Dan nggak ada sebuah tempat yang lebih indah, melainkan Indonesia.

Kali ini bukan sebuah kisah petualangan yang panjang dan membosankan. Atau kisah tentang iblis dan belati kematian malaikat yang pakai jaket hoodie. Jadi.. Ya udah, do'a.in biar proposal ane kelar dengan sempurna dan IFEF 2014 sukses.. aaamiiiin





Read More

Thursday, 30 January 2014

Senja di Bandung

mengapa engkau waktu itu putuskan cintaku
dan saat ini engkau slalu ingin bertemu
dan memulai jalin cinta

Malam ini hujan perlahan turun bersama beberapa kunang-kunang yang tiada kedinginan. Debu-debu beterbangan diterpa cahaya mereka.

Entahlah malam semakin dingin di sini. Rindu semakin beku dan entah akan pecah diterpa waktu.

mau dikata kenapa lagi kita tak akan pernah satu
engkau di sana aku di sini
meski hatiku memilihmu

Sudah sekian lama kita bersama. Berbagi waktu dan cerita-cerita indah lainnya. Denganmu, beberapa hal menjadi lebih indah. Dan banyak hal menjadi sempurna. Di setiap waktu aku mengingatmu, mengingat kita dan sepucuk rumput dandelion, sungguh aku rindu dan ingin semuanya kembali pada saat itu.

andai ku bisa, ingin aku memelukmu lagi
di hati ini hanya engkau mantan terindah yang selalu kurindukan

...

Di sudut ruang kamar remang-remang, seorang perempuan duduk tersenyum penuh rindu memandang foto-foto dalam album kenangan biru mudanya. Jemari manisnya mengelus sosok lelaki berpose alay dengannya dalam sebuah foto.

memang kita tlah jauh rasanya
memang kita sudah tak bersama
jika memang kita ditakdirkan tuk bersama slamanya
cinta tak kan kemana-mana

“Dear, kenapa ya dulu aku mutusin kamu. Demi apa coba kalau akhirnya tau susah banget ngelupain kamu. Hahagh.. Besok aku mau masuk ruang operasi jam setengah sembilan pagi. Doa'in ya :') . Semoga kita masih bisa ketemu lagi. Mampir ya kalau ke Bandung.”

masihkah ada padamu
sedikit bayang diriku
akankah suatu saat kau berubah pikiran
dan kembali
masihkah ada padamu
sedikit cinta untukku
akankah suatu saat kau kembali kepadaku?


Trrrrttt....
“Lagi dimana sih? Kering nih gigi nungguin kamu bebs”
“Em, bebs, kita ketemuannya di taman biasa aja ya, ga usah di mall, gmn?”
“Hrrrggh, udah tadi berangkat nggak nganterin, sekarang mau pulang bikin acara baru, ya udah la aku ke sana”
“Ciepz, :') “

– –

“Kenapa si ko' aneh banget akhir-akhir ini?”
“Ngga' kok, cuman bingung di mana nempatin sekeping cerita massa lalu, jjjiaah haha”
“Nih, dalem hidung”
“Eh, apaan si sakit bebs”
“Kamu cinta banget ya bebs sama itu cewek?”
“Emm kalau dijawab iya?”
“Ya udah, lu gue end!”
“Hahaha, jangan la. Cinta si kayaknya udah enggak, tapi to be honest, aku rindu banget ama dia akhir-akhir ini, udah hampir setahun ngga denger kabarnya”
“Mau ditemenin ke Bandung?”
“Ha?”
“Ya dari pada penasaran terus jadi aneh gitu”
“Ntar kalo aku suka lagi sama dia gmn? Hehe”
“Apaan si bebs, David udah mau punya adek juga”
“Bahkan aku juga belum kasih kabar ke dia kita udah nikah, lebih tepatnya nggak berani”


Senja di Bandung

“Permisi kang, ini ko' ramai ada apa ya?”
“Itu, mau nguburin orang kang, habis kena kanker. Mangga”
“Oh, mangga kang”

“Bebs??”
“Iya bener ini rumahnya, yang kamu lihatin di foto itu, bener kok”

“Permisi teh?”
“Eh kang, siapa yang kasih kabar? Udah sampai sini”
“Kabar apa ya teh?”

– –
“Aku cengeng banget ya bebs?”
“Udah, sini”
“Makasih ya, kamu yang nyetir gpp kan”

Datanglah sayang dan birkanku berbaring
dipelukanmu walaupun tuk sejenak
usaplah dahiku dan kan kukatakan semua
bilaku lelah tetaplah di sini jangan tinggalkan aku sendiri
bilaku marah biarkanku bersandar jangan kau pergi untuk menghindar
rasakan resahku dan buat aku tersenyum
dengan canda tawamu walau pun tuk sekejap
karena engkaulah satu-satunya untukku yang pastikan kita slalu bersama
karena dirimulah yang sanggup mengerti aku dalam susah atau pun senang

dapatkah engkau slalu menjagaku
dan mampukah engkau mempertahankanku


flash fiction: song-> Kahitna : Mantan Terindah
                                  Petra Sihombing : Cinta Tak kan Kemana-mana
                                  SO7 : Buat Aku Tersenyum


fahmiii ...
Read More

Saturday, 25 January 2014

Gunung Papandayan - Part 1

Well guys, jumpa lagi sama ane nih udah lumayan lama juga nggak berblogging ria. Jadi gunung ini
adalah gunung kedua yang saya naiki. Yang pertama, yak bener banget: Gunung Panderman, di Kota
Batu deketnya Malang. Petualangan sama Arik, Agis, Karlita, Nain, Adib, Fitrop, Adam, dan adeknya
Karlita yang nggak akan pernah terlupakan. It was really unusuall Panderman.

Nah gunung kedua ini namanya juga diawali dengan huruf P dan A, atau PA-pandayan. Mirip kan sama
Panderman. Iya dunk, pokoknya entar gunung ke-tiga yang ane naikin namanya juga harus
diawali dengan huruf P dan A. Kalo entar naik ke Semeru, nama Puncak Mahameru harus diganti jadi
Puncak Pahameru waktu ane naik. Haha..

Lumayan beda sama waktu naik ke Panderman, kali ini merupakan sebuah pendakian yang tanpa
direncanakan – buat saya aja sih. Untungnya temen-temen se-tim udah well-prepared banget, jadi
hangat damai sejahtera deh hehe :D. Jadi ceritanya ada temen kampus yang diajak tetangga kosannya
naik ke papandayan, nah dia mau minjem kompor, nggak tau kenapa timingnya pas banget. Pas dia
nyampe di kosan saya, pas rencana saya sama Nando ke Bandung secara resmi ditunda dengan
beberapa pertimbangan yang cukup bijak.

“Ntar berangkat jam berapa Lan?” (nama temen ane ini Shahlan)
“Nanti jam 7, habis isya'” well guys waktu itu udah jam 4 sore.
“Em, kalo saya ikut aja gimana ya Lan?” Asal nyeletuk aja sih -_-”
“Ayo ikut aja, ngga' papa, entar saya bilangin masnya”

Berhubung ditanggapi dengan antusiasme yang tinggi, ya udah deh habis salat ashar ane berdoa banget
biar dikirimin Tuhan malaikat baik yang terbaik yang akan bekerja keras buat keselamatan ane dalam
petualangan yang bener-bener dadakan ini.

And you know what happened then? Hujannya deres banget malam itu. Tapi ya udahlah kita cao aja ke Terminal Pasar Rebo. Untung udah agak maleman jadi gak macet deeh. Nah sampek di itu terminal remang-remang, kita (Ane, Shahlan ama Mas Tio) ketemu sama anggota tim yang lain, ada Mas Amri (nama STAPALA-nya Badak), Mas Bams (nama STAPALA-nya Suneo), Mbak Sisilia, Mbak Dian atau Mbak Mei, sama Mas ….. fiuh kenapa bisa lupa namanya yak, oke fine udah dicari-cari di dalem memori gak ketemu-ketemu, ntar aja kalo inget, yang jelas Mas ini juga salah satu malaikat tambahan yang dikirimkan sama Tuhan buat ngebawain sandal saya yang putus waktu turun. Jadi bener kaan: “People will forget what you said, people will forget what you did, people will forget even your name :D , but they might not forget how you make them feel”.


Gak pake lama bis nya udah siap stand by mau nganter kita ke Garut. Tarifnya: 42 rebong. Berangkat
jam 11 an sampek Garut sekitar jam 3 pagi. Kita istirahat di ruang tunggu ini nih:


Photo by me, just watch!




Lumayan kan ada tv-nya juga.

Habis salat subuh kita istirahat lagi bentar dan cao cari sarapan. Sempet kaget juga sih sama
tarifnya; sama kayak di Jakarta. Padahal udah berharap banget harga makanan di sini bakalan 30%
lebih rendah dari pada di DKI eh tau tau-nya atau mungkin karena di area terminal aja ya, ga tau deh.

Habis makan kita cari angkot. Yup, buat nganter kita sampek di sini nih:



Entah karena kurang amal atau apa kita dapet angkot laknat yang tarifnya mahal banget. Biasanya per
orang cuma 7 ribu, kita dapetnya 1 orang 15 rebong, fiuh, ini nih ane kasih lihat foto penampakan sopir
angkot laknat yang senyam-senyum sendiri sepanjang perjalanan nganterin kita, haha. Ga papa lah, nyenengin sopir angkot sesekali.


Hal terbaik di pagi itu adalah: ane nemuin ATM BNI tepat jarak 7 meter dari posisi ane turun angkot.
Wkwkwk, iya sih emang kebiasaan gak pernah bawa uang cash banyak-banyak, bahkan kadang juga
gak bawa sama sekali, cuman kartu atm aja. Nah iya kalo posisi hidup lagi di kota, nah ini, di gunung
men! Mau nggesek kartu debit dimana coba??

Perjalanan kita lanjutin pake pick-up, yup mobil yang kap bagian belakangnya dipangkas itu. Tarif: 20
rebong, kalau yang ini sih lumrah soalnya medannya juga ekstrim. Mengancam kehidupan tulang
belakang sama tulang ekor.

Nah akhirnya sampailah kita di sini nih, keren kan?






Yup, ini adalah awal dari banyak hal mengejutkan. Hal-hal menegangkan yang mungkin membuat malaikat baik berdarah-darah buat memperjuangkan keselamatan ane. Sebuah petualangan yang kini menjadi sejarah, at least my own history, emm gini deh, ada kah hiker new bie ngenes selain yang punya blog ini yang pernah ke papandayan dengan 74% perjalanan naik-turun nyeker alias gak pakai pelindung kaki??

Eh bro, bersambung dulu aja yak, mumpung malem minggu nih, ngapelin dota dulu, udah semingguan
gak ketemu.. gagaga.. Bye-bye .. Entar dilanjutin kok ceritanya, kalem, tenang aja.. :)
Read More

Wednesday, 18 December 2013

The Romance

Photo by me, taken at the top of Mount Panderman -2013

Seorang lelaki berjalan dalam lorong yang cukup sepi. Gelap dan berdebu. Namun tenang, dan dingin. Di sebuah bangku di sudut lorong, seorang gadis duduk sendiri seperti menikmati waktu. Menikmati dingin dan debu. 
Lelaki itu nampak lelah dan bahagia. Dan ia seperti ingin waktu berjalan lebih lambat, sedikit. 
Waktu memang seperti berhenti kala mata mereka saling meremas lembut. Ia dan gadis di bangku itu. Mereka tersenyum dan bahagia. 

Akal sehat ku berhenti  
Kala menatap indah matamu 
Hingga melumpuhkan jiwa
Kau mencuri perhatian dan sayangku
Takkan lagi ku pungkiri semua

Taken at top of Panderman, by Adib. Gak nyambung ya, hehe..

...

"... Dear, kamu apa kabar? Di sini dingin banget, hujan lagi. Tadi sore waktu aku mau berangkat wawancara orang buat tesis, pas di stasiun counter mau beli tiket PER, ada anak kecil cewek yang main biola. Bagus banget tau nggak sih... Jadi kangen kamu ^_^ ."

"... Hahaha, sorry dear, lama balesnya, koneksi internet gak pernah good mood di sini. Aku baik kok, ga usah khawatir lagi, tambah gemuk banyak makanan, jiaaah. Hahaha dipakai yak jaketnya sayang, susah tau bikinnya dulu. Eh dear, kemarin di komunitas waktu aku ngajarin anak-anak kecil, ada anak cowok yang item dekil, main biolanya kaku banget kayak kamu, tapi lucuu, hahaha jadi kangen kamu juga sayang."

...

Dulu ku mencintaimu 
Terasa bahagia 
Namun kau hilang tanpa jejak
Membuat bertanya
Apa salah diriku
Hapus memori itu

Tak semudah dibayangkan
Bagai hantu di siang malam 
Mendera batinku
Bayang dirimu

Begitu merasuk kalbu

"Walau akhirnya cinta itu yang membuat kita sakit. kita lalu merasakan yang namanya terjatuh karena kesalahan sendiri. Tidak mati, namun lukanya membuat kita tak bisa berjalan seperti dulu lagi."  

Pas banget kayaknya quote di film itu buat gue sekarang, sedih emang. Bukan waktu sebenernya yang bikin kita pisah. Awalnya gue juga gak ada niat buat deket sama orang lain, tapi karena gue selalu sendirian, ya habis gmn orang pacar juga lagi jauh di sana buat nyeleseiin studi masternya.

"Tapi mungkin dari situ kita bisa mengerti. Bahwa tidak segala sesuatu berjalan sesempurna yang kita ingin. Dan dari ketidaksempurnaan itu kita bisa belajar. Belajar bagaimana memperbaiki sesuatu. Belajar menerima keadaan seseorang secara utuh. Dan belajar menjadi setia dengan tulus."


#Flash Fiction: song, Ada Band; Akal Sehat
252 -kangen sama nampen ini

    
Read More

Sunday, 24 November 2013

Rindu dan Matematika

            Judulnya melankolis banget ya kayaknya, em ngga tau deh yang jelas ini bukan tentang kenangan atau hal-hal yang berbau perasaan. Sebenernya mereka berdua adalah dua hal yang totally different in common jika dilihat gitu aja, yaa gitu aja, dilihat dengan cara yang biasa. Em, tapi belum tentu juga bakalan ada common in difference kalau dillihat dengan cara yang ngga biasa. Terus? Hehe sabar atuh bray.

           Pertama saya pengen cerita tentang sejarah dan filosofi dari rindu. Ah, kepanjangen ntar, gak jadi gak jadi. Em, gini aja deh, ada orang yang bilang sama kekasihnya, --- Kita udahan aja ya bebs, setelah beberapa waktu kita jalan bareng, makan baso di bawah jembatan bareng, minum akua di GI bareng, lari-lari pagi bareng, aku ngga ngerasa ada kesamaan diantara kita. Waktu makan baso, kamu pentolnya lima ngga ada mie-nya, aku pentolnya separo mie-nya semangkuk. Waktu minum akua di GI, kamu akua-nya yang botolan aku akua yang gelas. Waktu lari-lari pagi bareng, aku pake sendal jepit kamu pake sepatu roda, gimana mau ngga protol otot bebs?? Em, gimana? Ngga papa kan kita udahan aja? Dari pada diterusin tapi akhirnya kita semakin ngerasa ngga nyaman? Bebs? Masih napas kan? Mau napas buatan? --- Lalu mereka berpisah dan entah bagaimana rindu akan mengatakan sesuatu kelak. Tapi yang jelas tidak ada tokoh yang dapat menjamin bahwa dia akan hadir. Tidak juga sebaliknya. Orang bisa rindu pada sosok yang baru ia temui beberapa jam yang lalu. Orang bisa rindu pada sosok yang berada jauh dari tempatnya mendengar suara sosok itu dari telefon. Begitu juga sebaliknya, orang bisa tidak rindu. Ya, saya cuma mau bilang kalau rindu itu abstrak sih. :p . Namuuun, setelah itu orang mulai mengerti tentang sebuah pola. Dan ya, selalu ada pola dalam hal se-abstrak apa pun. Termasuk juga rindu.


Intermezoo hehe :D
              Lalu bagaimana dengan matematika? Amit-amit dah kalo harus nyeritain sejarah dan perkembangan matematika. Sering sih sebenernya lihat buku yang begituan: pertama baca judulnya, wah keren banget nih kayaknya, coba buka halaman pertama: kampret ini apaan -_-".. Yang jelas sebenernya pada awalnya tidak ada yang jelas dalam matematika. Siapa bilang matematika itu kepastian, bukan. Matematika itu penuh dengan misteri dan ketidakpastian. Namun ada sebuah kebutuhan untuk menyederhanakan ketidakpastian dengan mengamati lalu mencari persamaan dan menuliskan sebuah pola yang lebih sedehana dalam bahasa aplikasi dari sebuah pola dalam bahasa abstraksi. Ya, saya juga cuma mau bilang kalau matematika itu itu abstrak. :D Namuuun, berbeda dengan rindu yang dibiarkan indah dalam abstraknya. Matematika dikonversi lagi menjadi sesuatu yang sederhana dan proporsional dengan permintaan manusia akan perhitungan, perkiraan, dan banyak hal.

Intermezoo lagii ckckck
            Jadilah mereka berbeda dan entah masih ada sebuah persamaan atau tidak. Yang jelas semuanya menjadi relatif. Saya tidak suka bilang kalau manusia itu makhluk yang relatif, tapi dalam satu hari aja, ya, well, eh, keluar topik entar jadinya. haha. Ya udah, udah ya, selesai, semoga tulisan ini (dengan open endingya) bisa dimengerti . . 
Read More

Thursday, 7 November 2013

A Reminder (Tfcfoubs)


Entah bagaimana saya belum merasakan, tapi sepertinya itu keren: setelah perjuangan berdarah-darah selama kurang lebih 4 tahun, kemudian berdiri disaksikan orang tua atau kerabat terdekat, mengenakan toga dan mengucap sumpah sebagai seorang sarjana. Lalu mencari spot yang pas buat foto bareng, dan hasilnya dipajang pada dinding di ruang tamu atau kamar orang tua.

Membanggakan sekali sepertinya.  Beberapa minggu istirahat di rumah, menyambung kembali silaturahmi dengan kerabat-kerabat yang sudah lama berisah, sambil minta pertimbangan permintaan perusahaan mana yang sebaiknya dipilih, atau beasiswa di negara mana yang sepertinya baik untuk di ambil.

Pada bagian bumi lainnya :

Entah bagaimana saya belum merasakan, tapi sepertinya itu keren: setelah bersusah payah untuk belajar, namun karena lingkungan dan akses pengembangan diri tidak begitu mendukung terpaksa mereka harus menutup buku dan memekarkan otot. Kemudian setelah satu bulan bercucuran keringat, mereka pulang dengan sepaket kebahagiaan untuk orang-orang yang mereka sayangi.

Membanggakan sekali sepertinya. Menghabiskan sebagian besar waktu dan tenaga untuk menjaga senyum orang-orang yang mereka sayangi. Kemudian sejenak menyesap kopi dan rokok kecil di sudut sepi bersama teman-teman yang senasib. Bercanda dan berbagi cerita. Berbagi harapan tentang perubahan hidup yang lebih baik.

...

Saya bukan bermaksud untuk menyinggung perihal keseimbangan, melainkan sebuah arti dari perbedaan. Bukan tanpa alasan manusia hidup dalam keragaman ilmu dan kemampuan. Bukan tanpa alasan kemudian muncul istilah keberuntungan dan 'nasib'. Ya, sebenarnya tulisan ini reminder aja sih buat saya sendiri khususnya (haha), bahwa pada setiap kebahagiaan yang datang, turut serta sebuah titipan kebahagiaan untuk orang lain. Bukan juga tanpa alasan sepertinya kemudian muncul istilah tanggung jawab dan kepercayaan Tuhan.     
Read More

Thursday, 31 October 2013

Saya, Halim dan Dia, Pada Satu Hari



          Ada begitu banyak hal yang ingin saya tuliskan akhir-akhir ini. hal-hal yang membentuk tiga garis kerut pada dahi saya yang dulu mulus. Ya, namun waktu di tempat ini rasanya seperti sedang berjalan di atas skateboard. Tidak seperti lima bulan lalu yang mana waktu seperti berjalan di atas Padang Arafah.
okah, saya cerita yang ini dulu aja ya ntar yang lainnya disambung di postingan lain.

          Jadi ceritanya di Indonesia ada orang yang bernama Halim. Tapi jangan salah, dia bukan orang susah yang kerjanya lontang lantung nyari kerja atau pengais sampah yang hidupnya di rumah kardus 3x4 meter atau bahkan seorang ustad yang pinternya ngalahin Muhammad SAW. Jangan salah. Halim bukan orang seperti itu. Dia orang yang jauh lebih susah dari tiga asumsi tadi. 

          Singkat cerita, Halim merupakan seorang pemikir (makannya hidupnya susah terus wkwkwk) yang entah gimana ceritanya kesambet sama buku yang judulnya The Legend of Apalachia: discovering the unconfirmed phylosophy of happiness. entah sudah berapa ratus kali ia membacakan buku itu dihadapan orang-orang yang, yaa, beberapa acuh, beberapa bersimpati dengan menepukkan tangannya satu kali, beberapa lari ketakutan, dan bahkan pernah satu ketika seorang anak kecil memberikan Halim lima dolar lalu menyuruhnya pergi. 

          Cerita tentang Halim berlanjut tanpa saya tahu sebelum beberapa waktu yang lalu, pada akhir pekan gerimis mulai bersemi menghadirkan kuncup-kuncup yang basah dan segar, lalu mekar dan indah. Karena pada saat itulah, pada akhirnya saya dapat berbicara dengan dia yang ternyata masih sangat sehat walau pun banyak desas desus yang mengabarkan bahwa ia tengah sakit keras, ia sekarang sudah gila, bukankah ia sudah meninggal? Tidak tidak ia tidak mungkin meninggal selama kita masih ada.
Kami sedikit berbicara kemudian:

"Hai Halim, iya, anda Halim kan??" Tanya saya padanya
"Iya, oh anda, senang sekali berjumpa lagi, bagaimana kabarnya?"
"Alhamdulillah saya baik-baik, anda bagaimana? ah sebentar, tapi mungkin hanya anda yang senang kita dapat berjumpa lagi, karena sepertinya saya tidak"
"Kabar saya juga baik sebenarnya. Bagaimana bisa begitu? bukankah anda begitu sering memikirkan saya? bagaimana mungkin anda tidak berbahagia ketika kita bertemu?"
"Bukan Halim, bukan demikian. Anda terlalu sering membuat saya pusing dan selalu ingin minum kopi." Saya melirik halim sekejap. "Anda tahu ibu tidak pernah menyetujui permintaan saya untuk sepaket kopi siap seduh, itu tidak baik bagiku ia bilang"
"Ah, mengapa jadi demikian, bukankah kepusingan bisa anda pikir sebagai sebuah kesenangan?"
"Sangat bisa Halim, namun hanya ada 5% kadar tawa pada kesenangan itu. Apakah anda pikir itu sesuatu yang efisien?"
"Hem... padahal anda mengenal saya sebagai seorang Halim."
"Hah? maksud anda?"
"Saya pikir anda akan mau saya ajak berenang, main bola, lari pagi, menyesap teh hangat bersama gerimis, atau main dota 2 jika anda mengenal saya sebagai Halim"
"Jika saya tidak mengenal anda sebagai seorang Halim, lantas anda yang seperti apa yang akan saya kenal"
"Saya yang seperti bunga, kadang dipetik orang dan diberikan kepada kekasihnya, kadang dipetik anak-anak kecil yang iseng, kadang dipetik oleh pekerja-pekerja perusahaan untuk dijadikan pengharum, untuk membuat produk yang akan menguntungkan mereka"
"Saya masih belum mengerti Halim, lantas anda yang seperti bunga apakah sama seperti anda yang seperti Halim?"
"Seperti apa saya seperti apa anda memandang, memikirkan, dan memperlakukan saya"
"Jika saya ingin berteman dengan anda yang seperti bunga, bagaimana saya harus memanggil anda?"
"jika saya seperti bunga, tentu anda bukan teman saya melainkan majikan dan saya budaknya. Ah, tapi jika memang demikian, panggil saja saya puisi. Seperti kebanyakan orang memanggil saya"

...

Singkat cerita, saya kemudian bertukar senyum dengan Halim dan kita berpisah tanpa sebuah janji untuk bertemu lagi. 

"Jika saya sudah sedikit lebih dewasa, saya ingin kita bertemu lagi" saya berkata padanya dengan wajah menunduk memandang bayangan wajahnya yang meneduhkan semut-semut merah.

"Semoga demikian" jawab Halim singkat. Dan kita berpisah diiringi gerimis rubah. Ya, gerimis yang turun dikala hari cerah dan angin berhembus seperti Mandella.
Read More

Wednesday, 23 October 2013

Tentang Lelaki yang Menunggu Hujan

1
             Hujan turun semakin deras. Membasahi jalanan yang mulai menggelap. Sunyi. Sepi. Dingin. Di sepanjang jalan tempat lelaki itu berdiri, masih nampak tenda-tenda sederhana mengepulkan uap kopi. Di dalamnya sebuah lampu memendarkan cahaya oranye. Menerangi dan memberi sedikit hawa panas pada pisang goreng dingin yang belum tersentuh tangan pembeli. Sepertinya di sana hangat.
Ah sudahlah. Ia tak akan dapat rasakan kehangatan itu.
Ia hanya seorang lelaki berambut hitam gondrong dan pakaian lusuh penuh debu yang berdiri menggigil di emper sebuah toko berpintu harmonika. Kedua tangannya dilipat. Menyembunyikan jari-jarinya pada ketiak yang menghangatkan. Satu kehangatan yang dapat ia nikmati. Sendirian.
Semua orang mencarinya. Ya. Walau tak satu pun dari mereka tahu seperti apa sosok yang sebenarnya mereka cari. Karena hanya Tuhan, aku, dan orang-orang berjubah putih itu yang mungkin tahu.
            Orang-orang berjubah putih yang kini tak dapat lagi merasakan segarnya udara. Ia, lelaki itu. Sudah mulai nampak kerutan-kerutan pada kulitnya yang gelap.
            Kau tahu, dulu ia adalah seorang penjual rokok di persimpangan gang yang mengarang cerita. Namun itu dulu. Sebelum segerombolan orang berjubah putih datang dan membawanya ke suatu tempat. Tempat yang dijejali tarian angin lembah ketika bulan menerawangkan wajah Rama dan Shinta yang saling memandang. Tempat yang belum pernah ia tahu keberadaanya.
            Di sana ia tak sendiri. Banyak pula orang-orang yang duduk bersila dengan wajah menunduk dan tangan diikat di balik perut.
            Itulah kali pertama ia datang ke tempat itu.

2
            Hujan turun semakin deras. Membasahi jalanan yang mulai menggelap. Yang nampak dalam pandanganku hanyalah pendar lampu-lampu kendaraan yang sedang mengantri untuk naik. Kupandangi lekat-lekat seorang kurir yang diutus oleh Tuan Snouck Van Jugend untuk mengantarkanku pada seorang lelaki yang tidur dalam sebuah jeruji besi di Hindia karena mengarang cerita. Ya, aku akan menghamba padanya.
            Inilah kali pertama aku mendengar ayam jantan yang berkokok merdu dikala fajar menyingsing dan embun membasahi rerumputan.
            Cukup! Sudah hampir dua malam kurir itu mengajakku berjalan merasakan panas sengatan matahari dan dingin belaian gerimis. Tak kunjung sampai aku pada tujuan yang dimaksudkan tuan Jugend.
            Seseorang berseragam coklat membukakan pintu setelah tiga kali si kurir mengucap salam dalam bahasa Indonesia berlogat Belanda. Aku dibawanya masuk.
            Sempat kulihat orang-orang dengan badan penuh debu dan pakaian tak lagi utuh berjajar rapi di samping gundukan tanah. Sebagian menenteng cangkul. Sebagiannya lagi menggenggam linggis. Dan setelah itu; gelap. Tak dapat kulihat apa pun. Sepertinya aku dimasukkan dalam sebuah ruangan isolasi yang tak punya ventilasi udara pun sedikit.

3
            Hujan turun semakin deras. Sederas cucuran keringat lelaki itu. Lengah sedikit saja, cambuk akan menanggalkan garis merah pada punggungnya yang telanjang. Rutinitas barunya kini setelah sarapan pagi berteman kokok ayam jantan adalah mencangkul. Membuat lubang menuju ke desa-desa yang ingin dijadikan lahan ekonomi orang-orang berjubah putih itu. Ya memang, sepengamatanku segala yang dilakukan orang di tempat ini hanya untuk kepentingan orang-orang berjubah putih itu. Heran, pun belum tahu aku seberapa sakti mereka walaupun kami datang dari tempat yang sama.
            Walaupun aku tak diantarkan pada lelaki itu, setidaknya sekarang aku telah keluar dari ruang isolasi pengap itu. Dipaksa aku melayani orang-orang berseragam coklat itu mengarang cerita tentang peristiwa-peristiwa di tempat ini. Ya, kusebut itu mengarang karena tak sama dengan faktanya. Dasar orang-orang itu. Seharusnya mereka belajar dulu pada lelaki itu perihal karang-mengarang, ia jagonya. Bahkan tuan Jugend yang seorang akademisi senior pun dibuatnya terkesima hingga mengirimkanku pada lelaki itu.
Aku, juga lelaki itu saksikan langsung bagaimana orang-orang berjubah putih itu terbahak-bahak setelah melemparkan sebutir kecil bijih besi hitam, lalu jemarinya bergerak menekan tombol merah pada sebuah benda persegi dalam genggamannya dan rumah-rumah itu terbakar.
             Kebakaran yang biasanya akan dihentikan oleh hujan. Begitulah cara mereka menguasai tanah ini. Tanah orang-orang Hindia. Tanah orang-orang yang tak pernah berjubah.
Lelaki itu, ia genggam erat sebuah pisau mungil dibalik tangannya. Ia menyelusup di ruang tempat benda itu disimpan dikala orang-orang berseragam coklat itu terlelap. Ia congkel kotak tempat orang-orang berjubah putih itu menyimpan butir bijih besi dan benda persegi bertombol merah itu.
Aw, timbul suara berisik ketika kotak itu terbuka. Orang berseragam coklat itu menggerakkan tangannya ke atas, lalu turun mengusap mulutnya yang basah, dan, ia terlelap lagi. Fiuh. Lelaki itu, ia berhasil. Ia bawa benda itu dan lari entah ke mana. Tak dibawa sertanya diriku. Dibiarkannya aku tetap di sini, di tempat yang sungguh menyedihkan.
              Orang-orang berjubah putih itu marah besar pada orang-orang berseragam coklat. Mereka lalu interogasi semua orang dalam sel. Memukuli mereka tanpa terkecuali. Satu orang berjubah putih itu bilang; ia akan bawa mereka ke Pulau Buru untuk merasakan penjara yang lebih kejam jika tak ada yang mau mengaku. Ah, untung lelaki itu telah pergi. Namun orang-orang berjubah putih itu tak menyadarinya. Beruntung sekali ia.
              Ah, baru ku tahu sekarang ternyata benda itu adalah bijih uranium yang di dalamnya terdapat sensor sinyal yang dapat dipicu oleh tombol merah pada benda yang disebut remot kontrol itu. Benda kecil yang memiliki daya ledak tinggi, namun ia tak meledak seperti bom, aku sendiri juga heran. Bijih uranium itu meledak, merapuhkan segala sesuatu yang dikenainya lalu memercikkan api terhadapnya sehingga membuat mereka terbakar. Tak kusangka ternyata ada ciptaan mereka yang lebih keren dibanding diriku.

4
              Hujan turun semakin deras. Namun lelaki itu tak lagi ada di sini sekarang.Malam semakin sunyi. Tak ada lagi rumah atau desa yang terbakar secara tiba-tiba lalu esoknya berubah jadi kebun jarak.
Hah, lelaki itu! Tiba-tiba ia datang. Entah dari mana. Langsung ia menghampiriku dan membawaku pergi. Untung tak ada orang berseragam coklat yang tahu. Kalau ada, habislah ia.
              Ia suruh aku membantunya menulis satu pengumuman bahwa esok malam, ia akan bakar kantor orang-orang berseragam coklat. Tempat ia dipenjarakan dahulu. Ia bilang ingin pasang pengumuman itu di koran. Ia punya teman yang bekerja di satu media masa di Hindia ini.
Ah, sebenarnya aku malas membantunya. Namun ia memaksa.

5
              Biasanya hujan turun semakin deras, namun sepertinya tidak untuk kali ini. Aku dapat merasakan kesedihannya. Kesedihan yang akan sejenak berhenti ketika hujan turun dan mencipta abu di atas tanah desa-desa itu.
              Ia selalu setia menunggu hujan. Menunggu kesedihannya berhenti sejenak. Namun ternyata ia tak sepemberani seperti yang pernah kubayangkan ketika menculikku dari markas orang-orang berseragam coklat itu.
              Amarah hanya ia pendam dalam dirinya. Dasar bodoh. Tak sedikit sudah aku mengingatkannya, mengumpatinya; Hei bodoh, jangan diam saja! Jangan biarkan orang-orang berjubah putih itu menjarah kebahagiaan yang seharusnya kau miliki. Kau harus berani. Lawan mereka. Jangan biarkan lagi mereka merampas hidup orang-orang yang kau sayangi. Ah kau hanya bisa mengarang cerita, tak lebih. Padahal pasti Tn. Jugend akan lebih bangga padamu jika kau mampu melawan sungguhan.
              Hah, percuma sudah kau menculikku kalau pada akhirnya kau urungkan niatmu untuk membakar tempat itu. Percayalah, teman-temanmu di sana pasti selamat, mereka dapat lari lewat gorong-gorong yang mereka bikin. Mereka sudah hafal jalannya. Ayo, tunggu apa lagi? Atau jika mereka terbakar, itu juga lebih baik. Daripada di sana mereka dipaksa bekerja sangat keras, disiksa. Kau telah kirimkan pengumuman itu pada temanmu. Pasti ia akan menaruhnya di halaman depan koran. Ayolah.
              Ah, lelaki itu. Ia masih tak bergeming. Tak dihiraukannya perkataanku. Dasar lemah. Ia telah kehilangan seluruh anggota keluarganya ketika desanya dibakar. Sedang ia tak dapat berbuat apa-apa karena ia dan para lelaki desanya telah lebih dulu ditangkap atas perintah orang-orang berjubah putih itu.

7
            Hujan turun semakin deras. Lelaki  itu meninggalkanku sendirian pada sebuah ruangan yang gelap. Ah, dasar tak tahu berterimakasih. Padahal aku ingin lihat betapa hebohnya orang-orang di luar sana membaca tulisanmu yang mengancam akan ledakkan markas orang-orang berseragam coklat itu. Betapa mereka akan kebingungan, takut. Lalu orang-orang berjubah putih akan sangat marah dan menyalahkan mereka.
            Lelaki itu pergi entah kemana. Untuk meledakkan markas itu mungkin. Ya, setidaknya itu dapat menyulut semangat lelaki-lelaki lainnya untuk berjuang melawan orang-orang berjubah putih yang menindas mereka.

8
            Hujan turun semakin deras. Pun lelaki itu tak kunjung kembali padaku. Tak pula kudengar ribut-ribut karena markas orang-orang berseragam coklat yang terbakar. Dimana lelaki itu? Apakah ia tewas?
            Seharusnya malam tadi ia telah ledakkan bijih uranium itu. Ah, dasar!
            Seseorang melemparkan sebuah koran dihadapanku. Yang benar saja. Halaman depannya menampakkan gambar bangunan yang terbakar hebat. Di atasnya tertulis; “Rumah Jendral Crist Van Ottoman Meledak”
            Bagaimana mungkin. Ku tahu ia adalah salah seorang jendral kepercayaan Ratu. Ku lanjutkan membaca berita itu. Benar. Jendral itu tewas beserta istrinya. Pasti ini ulah lelaki itu. Ya, aku yakin. Ia urungkan niat ledakkan markas orang-orang berseragam coklat karena tak ingin teman-temannya yang ada di sana ikut terbakar.

9
             Hujan turun semakin deras. Membasahi jalanan yang mulai menggelap. Sunyi. Sepi. Dingin. Di sepanjang jalan tempat lelaki itu berdiri, masih nampak tenda-tenda sederhana mengepulkan uap kopi. Di dalamnya sebuah lampu memendarkan cahaya oranye. Menerangi dan memberi sedikit hawa panas pada pisang goreng dingin yang belum tersentuh tangan pembeli. Sepertinya di sana hangat.
             Ah sudahlah. Ia tak akan dapat rasakan kehangatan itu. Namun aku dapat rasakan kehangatannya.
Aku akan menemaninya mengarang cerita. Ya. Karena memang aku adalah mesin ketik yang dibeli Tn. Jugend dari sebuah toko di Belanda sana setelah Tn. Jugend membaca cerita yang ditulis lelaki itu tentang penindasan orang-orang berjubah putih terhadap bangsanya. Tuan Jugend menjulukinya pahlawan Asia.
Walaupun ucapanku tak pernah dapat ia dengarkan, setidaknya aku cukup bangga dapat membantunya menulis pengumuman tentang ancaman peledakkan markas yang dimuat di koran dan membakar semangat lelaki-lelaki lainnya. Haha, sungguh besar kekuatan kata-kata yang dituliskan lelaki itu, pun sekadar pada ultimatum singkat. Walaupun kudengar media masa yang memuatnya itu ditutup sekarang.
             Lelaki itu masih berdiri. Sendirian. Menunggu hujan. Bukan menunggu kedatangannya, melainkan menunggu kepulangannya. Tidak untuk memadamkan desa-desa yang terbakar, namun sekadar berteduh. Mengenang wajah cantik istrinya yang baru saja ia nikahi. Mengenang desanya yang dulu indah dan sejahtera.
             Biarkanlah hujan turun kali ini. Membasahi jalanan yang kini lengang. Aku pun juga akan menunggunya. Karena aku akan rusak dan tak berguna jika melawannya.
Lelaki itu menatapku, mengelapku dengan sapu tangannya yang lembab. Mungkinkah ia dapat mengerti perkataanku?


 ......

Cerita ini aku tulis, em kalau tidak salah dua tahun yang lalu, sekedar untuk mengingat tentang perjalanan hidup yang menemui beragam halangan sepatutnya diperjuangkan dari beragam sisi pula. Terimakasih. Semoga kita selalu sempat merasakan bahagia pada waktunya.

Read More