I am freelance intelligence. Currently trying to understand capitalism.

Showing posts with label Essay. Show all posts
Showing posts with label Essay. Show all posts

Monday, 8 June 2015

Indikasi Waspada untuk Status Bursa Saham Emerging Market

Hari ini IHSG ditutup pada 5.014,99, yang bisa dikatakan hampir menembus titik psikologisnya di level 5.000,00. Nilai tukar rupiah juga sudah sempat menembus ke level 13.300,00, jauh lebih cepat dari perhitungan saya yang kemungkinan level tersebut baru akan tersentuh pada sekitar akhir bulan agustus, dan dulu saya berfikir bahwa 13.300,00 sudah merupakan level yang paling rendah, namun sekarang saya berubah pikiran.

Ada setidaknya tiga pertimbangan utama yang menurut saya signifikan untuk dilihat dalam menyikapi situasi yang seperti ini guna menentukan langkah kedepan.

Pertama, kemungkinan kebijakan perekonomian Amerika. Setelah teppering off, dan kondisi indikator makroekonomi di AS mulai membaik, Federal Reserve akan mulai menaikkan Fed Rate guna menarik kembali USD yang telah cukup lama beraktivitas di negara-negara lain, khususnya negara-negara emerging market. Namun, Federal Reserve sepertinya masih membutuhkan waktu mengingat kesiapan bank-bank di AS yang masih belum cukup baik jika kebijakan itu dilaksanakan sekarang. Bank-bank akan membutuhkan modal dasar atau kapasitas yang lebih tinggi jika Fed Rate dinaikkan dan itu akan cukup membebani.
Dinaikkannya Fed Rate dan keluarnya investasi asing dari bursa saham Indonesia tentu akan memberikan tekanan yang cukup berat mengingat dana asing masih memiliki proporsi yang besar dalam komposisi dana yang ada di pasar saham Indonesia.  

Kedua, kondisi perekonomian di dalam negeri sendiri. Dalam hal ini saya akan secara khusus membahas Indonesia. Ada beberapa variabel yang menurut saya penting untuk dipertimbangkan, diantaranya:

- Neraca perdagangan
Rupiah sudah melemah cukup tajam sejak 2013, dan seharusnya ekspor kita mendapat rangsangan positif dari keadaan tersebut. Kita dapat berproduksi dan mengeluarkan biaya produksi dalam bentuk rupiah (yang sedang lemah) dan kemudian menjualnya dan mendapatkan pendapatan dalam level nilai USD (yang sedang menguat). Tentu keuntungan yang didapat akan jauh lebih besar, dan keadaan seperti ini seharusnya dapat memacu pertumbuhan ekspor. Namun yang terjadi, neraca perdagangan kita masih sering negatif. Sehingga kita bisa katakan ada sebuah kejanggalan. Pertanyaannya sekarang, apa penyebab kejanggalan tersebut? Jumlah pengusaha/produktivitas yang masih sangat rendah dan tidak mengalami pertumbuhan, atau expor sebenarnya tumbuh namun, permintaan untuk import kita juga tumbuh lebih banyak lagi, atau produk yang kita produksi kurang kompetitif sehingga tidak dapat diekspor, atau apa? Yang jelas, jika dibiarkan terus menerus, hal ini dapat memberikan korelasi negatif terhadap GDP atau pertumbuhan ekonomi, yang bisa menurunkan rating investasi di Indonesia dan berujung pada pelemahan pasar sahamnya.

- Realisasi perencanaan pembangunan
Masih cukup banyak persentase dari anggaran belanja negara yang belum terealisasi. khususnya dalam hal pembangunan infrastruktur. Mungkin Presiden Jokowi berfikir pembangunan infrastruktur sangat diperlukan guna menarik investasi asing yang akan mulai hengkang ke AS atau Eropa ketika Federal Reserve menaikkan suku bungannya. Namun faktanya pada saat ini, realisasi dari pembangunan infrastruktur besar-besaran tersebut masih sangat minim, emiten konstruksi di JCI saja masih membukukan kinerja yang tidak cemerlang. Jika pembangunan ini gagal, maka masalahnya bukan hanya pada tidak terpenuhinya kebutuhan infrastruktur kita, namun juga menurunnya tingkat kepercayaan investor terhadap pemerintah.

- Kinerja emiten
Yang diharapkan oleh investor ialah, kinerja emiten, khususnya dalam hal pertumbuhan aset dan profitabilitas, selalu meningkat signifikan setiap tahunnya. Dan ketika yang terjadi adalah sebaliknya, atau ketika harga saham sudah berada pada PER yang cukup tinggi dan pertumbuhan kinerja sangat sedikit atau bahkan negatif, pasar pasti akan merespon dengan cepat. Atau kita bisa katakan bahwa market di Indonesia itu mendekati efisien. Contohnya ketika rilis data hasil kinerja beberapa emiten indikator pada Q1 2015 tidak sesuai ekspektasi, pasar langsung merespon dengan turunnya IHSG. Jika tekanan dari melemahnya rupiah, meningkatnya pajak (sepertinya mulai bermunculan beraneka macam jenis pajak akhir-akhir ini), menurunnya impor oleh China, dan tantangan-tantangan lain kedepannya membuat kinerja emiten melemah, bukan tidak mungkin IHSG akan terkoreksi cukup tajam.

Ketiga, kondisi perekonomian di China. Bursa saham China mengalami kenaikan yang sudah cukup tajam. Bahkan majalah the economist bulan ini memberikan fokus ulasannya pada indikasi terjadinya buble pada pasar saham China. Faktanya saat ini, ditengah kenaikan bursa sahamnya yang cukup tajam, kondisi perekonomian China sedang menghadapi tekanan lebih banyak jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang mana mereka selalu berhasil mencatatkan pertumbuhan ekonomi di atas 8%. Sebuah pencapaian yang mungkin akan sangat sulit untuk dicapai mulai tahun ini dan seterusnya. Apabila yang terjadi adalah, bursa saham China mengalami buble dan kondisi perekonomian China tertekan, sehingga pertumbuhannya menurun hingga mendekati 5%, kemungkinan koreksi yang cukup tajam atau bahkan terjadinya market crash bisa sangat besar. Jika bursa saham China mengalami crash, maka pengaruhnya akan sangat terasa di bursa saham Indonesia.

Tiga pertimbangan di atas menjadi faktor yang patut dipertimbangkan oleh para investor dalam jangka menengah (1-5 tahun kedepan). Namun jika keadaan berangsur-angsur membaik, kinerja emiten tumbuh sesuai ekspektasi yang didukung oleh pelemahan harga minyak, dan pembangunan di dalam negeri terealisasi dengan sangat baik, serta kekhawatiran atas sentimen-sentimen negatif dari luar negeri dapat diantisipasi dengan baik, bukan tidak mungkin bursa saham indonesia akan melanjutkan rally walaupun jika dilihat secara tehnikal IHSG sekarang mulai berada dalam fase bearish jangka menengah. Namun, kesimpulan saya untuk sementara ini adalah, menetapkan status waspada tingkat awal untuk bursa saham di negara-negara emerging market khususnya Indonesia. Mungkin sekitar akhir tahun 2016, keadaannya akan terlihat lebih jelas, apakah kita akan menghadapi koreksi ringan seperti 2008 lalu, melanjutkan rally, atau menghadapi krisis yang lebih besar, atau bisa jadi mengalami konsolidasi sebelum tumbuh pesat di sekitar tahun 2025, mengingat bonus demografi. 
Read More

Friday, 24 April 2015

Sangat Lucu. Betapa Saya Merasa Sangat Bodoh.

Horace Walpole pernah bilang bahwa dunia ini adalah sebuah lelucon bagi mereka yang berfikir, dan sebuah tragedi bagi mereka yang merasakan. Tapi ada satu pertanyaan yang saya ajukan, sebenarnya dunia sendiri itu apa? 

Seorang gadis duduk di sebuah bangku putih di sudut taman kecil yang sepi, memandang beberapa kuntum teratai yang mengambang dengan anggun. Kuntum yang entah esok atau nanti akan gugur dan hilang. Seakan waktu menyimpan sebuah rahasia yang sangat sulit untuk ditembus. 

Keberadaanku, tubuhku, biosfer, atau andromeda, apakah sungguh sebuah fakta? 

Pertanyaan-pertanyaan itu membuatku merasa lucu. Aku melihat di sekeliling, seperti kecenderungan kebanyakan manusia, dan menyadari betapa orang-orang begitu serius memikirkan hidup mereka. Ada orang yang berusaha belajar begitu keras hingga tak sempat makan dan istirahat karena ingin kebahagiaan dan lain lainnya. Ada juga orang yang santai tidak berusaha belajar keras hingga pada akhirnya terjun kedalam kesulitan yang berat, dan mengambilnya dengan serius hingga merasa sangat depresi atau putus asa. Namun mereka memiliki kesamaan. Mereka, orang-orang itu begitu serius untuk berjalan dalam tatanan rutinitas sosial yang diciptakan oleh pendahulu mereka atau mungkin diciptakan oleh mindset psikologis. Dari situ saya seperti ingin menyimpulkan sesuatu walaupun tanpa dasar yang kuat, bahwa, banyak manusia yang tidak merdeka di dunia ini, pada saat ini. 

Apa sebenarnya dunia? Sesuatu yang di dalamnya ada banyak manusia yang tidak merdeka. Sesuatu yang menurut Walpole sebuah lelucon jika dipikirkan dan sebuah tragedi jika dirasakan. Dan yang lain-lainnya. 

Namun pada akhirnya saya menemukan sebuah jawaban yang sangat sederhana. Berawal dari sebuah ajaran yang bilang kalau jika kamu suka atau sayang sama orang, jangan sayang-sayang banget, menyayangilah secara normal dan jangan sedih-sedih banget kalo nanti ditinggalin. Seakan saya menemukan sebuah guideline yang mungkin sangat komprehensif mengenai apa itu dunia dan bagaimana kita menjalani hidup di dunia. Ya, semua itu sepertinya ada dalam sebuah kitab yang jarang sekali saya sentuh dan pelajari. 

Sangat lucu. Betapa saya merasa sangat bodoh. 
Read More

Thursday, 5 March 2015

Saya paham kenapa banyak orang apatis di negeri ini

Tapi bukan berarti saya mau sok tahu.
Sebabnya adalah di edukasi. Ada dua tempat; kelas dan rumah. Saya akan ulas satu-satu.

Kelas

Hampir semua pendidik, dari SD sampai Universitas bahkan, merasa dirinya yang paling benar. Dirinya adalah satu-satunya kebenaran yang ada. Dan pendapat Siswa yang berbeda dianggap salah. Padahal siapa yang tahu benar dan salah sebenarnya?? Akibatnya, Siswa akan selalu menebak dan mempercayai apa yang pendidik katakan karena mereka butuh nilai. Ya, semua pihak selalu menuntut nilai atau hasil akhir di negeri ini. Tidak peduli bagaimana prosesnya, yang penting lulus UN. Saya tidak habis pikir. Cacad. Padahal mana yang lebih penting dalam proses belajar? Hasil akhir atau proses?? Selain itu, Siswa juga akan sempit perspektifnya tentang memandang kebenaran. Lebih daripada itu, cara berfikir juga akan sempit.

Rumah

Saya bukannya menyalahkan orang tua. Saya paham semua orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya, tapi tanpa mereka sadari terkadang caranya salah. Maksud saya adalah, begini: orang tua bertanggung jawab untuk mendidik anak, mengarahkan supaya anak tersebut jadi manusia yang baik dan bermanfaat, tapi sebenarnya orang tua juga memiliki harapan terhadap anaknya, nah dari sinilah mulainya. Harapan itu asalnya dari mana? Kebanyakan ya dari ego. Tapi itu bukan masalah, yang akan menjadi masalah adalah ketika orang tua tidak kenal dengan anaknya tapi mendidik dengan cara mendikte, harus seperti ini, tidak boleh seperti itu. Anak tidak dibiarkan untuk mengungkapkan perasaannya, pendapatnya. Pada akhirnya, anak tersebut menjadi orang yang tidak kenal dengan dirinya sendiri bahkan hingga dewasa mungkin. Tanya kenapa? Ya karena dia tidak pernah belajar untuk bertanya pada dirinya sendiri apa sebenarnya pendapat dia mengenai suatu hal. Akibatnya, mereka cenderung jadi orang yang follow the flow, kayak ikan mati.

Sebagai penutup saya ingin katakan satu hal saja: di Indonesia, jika anda jadi orang yang berbeda dengan orang-orang kebanyakan, bukan berarti anda buruk atau aneh. Teruskan saja kerja keras anda mengusahakan sesuatu yang anda yakini terbaik, dan kelak dunia akan mengerti, kalaupun dunia tidak mengerti, masih ada Tuhan yang mungkin bisa mengerti. Anda bisa melakukan itu jika dan hanya jika anda kenal dengan diri anda sendiri, gimana orang bisa ngaku kenal Tuhan, kenal orang-orang lain kalo sama dirinya sendiri aja nggak bisa kenal.
Read More

Wednesday, 4 March 2015

Dulu Perang Dingin, Sekarang Temen Deket, Maunya Apa si?

Haha lucu ya judulnya.. yaa gitu lah emang.
Lo pada pernah belajar sejarah kan? Dan kalo lo belajar sejarah sesuai dengan kurikulum KTSP dan lo sekolah sampe SMA atau sederajat, lo pasti tau kalo dulu tu ada dua kekuatan di bumi ini yang dominan. Yup bener banget, Amerika Serikat sama Uni Soviet atau komunis sosialis dan liberalis kapitalis. Dulu itu mereka musuhan banget kan sampek ada kejadian yang disebut di buku sejarah lo sebagai perang dingin.  Iya, perang dingin, perang tapi diem-dieman nggak pake senjata api, meriam, nuklir. Pokoknya mereka pengen ideologinya itu dianut sama sebanyak mungkin orang di bumi ini. Nah namanya perang pasti ada yang kalah ada yang menang dong? Iya lah, perang dingin juga gitu.

Siapa yang menang? tunggu dulu bro, sabar. Sebenarnya ini bukan cuma sekadar siapa yang menang atau siapa yang kalah. Namun, esensi sebenarnya dari perang dingin itu ialah, manusia itu mau jadi kayak gimana sih di bumi ini. atau bumi ini mau digimanain. Nah, jadi ceritanya mereka berdua itu beda pendapat banget mengenai hal itu. Namanya juga manusia kan ya, sama kayak lo, misal nih lo punya pendapat terhadap sebuah keputusan dan lo yakin pendapat lo itu bener, tapi terus ada orang lain yang punya pendapat beda dan si doi juga yakin banget kalo pendapatnya itu bener, akhirnya gmn? Kayak gitu kurang lebih kalo gue gambarin kejadiannya.

Nah si komunis ini pengen (kurang-kurangnya lah) manusia itu hidup sama rata, nggak ada yang terlalu di atas (kaum elit) nggak ada juga yang kelaperan ga bisa makan. Negara yang atur semuanya dan kepentingan semua diutamakan untuk negara. Komunis ini pengen alam dan manusia bisa jalan bareng, hidup stabil semuanya dengan negara sebagai stabilisatornya. Tapi, si kapitalis nggak setuju, dia yakin kalau (kurang-kurangnya lah) manusia itu harus hidup lebih baik, lebih enak, lebih mudah, lebih sejahtera, dengan memaksimalkan semua potensi yang ada di bumi ini. Semua manusia bebas menguasai sesuatu asalkan mereka punya kekuatan. Kepentingan utama bukan untuk negara, melainkan untuk setiap manusia dari manusia itu sendiri. Akhirnya mereka berdua perang dingin guna menyebarkan keyakinan (konsep/ideologi) mereka itu ke sebanyak-banyaknya manusia yang ada di bumi.

...

Nah udah ya sampe situ, terus sekarang coba deh lo lihat sekeliling lo, lo pikir-pikir lagi kehidupan lo sekarang kayak gimana..

Yup, thats right, kapitalis liberalis lah yang menang.
Masih inget nggak dulu waktu China habis konflik gitu dan perekonomian mereka cukup terpuruk (versi GDP)? Setelah itu China ganti pemimpin dan perekonomian mereka tumbuh luar biasa. Tau nggak kenapa bisa kayak gitu? Nggak tau? Ya udah hehe..

Oke sorry-sorry. Jadi setelah ganti pemimpin itu, si pemimpin China yang baru itu mengubah kebijakan perekonomiannya. Bodo amat mau dibilang nggak komunis nggak sosialis, dia yakin China bisa tumbuh jadi negara yang kuat dengan caranya. Nah, apa itu? China itu negara dengan potensi pasar yang sangat-sangat menggiurkan, jadi dia bikin kebijakan buat membolehkan investasi asing untuk masuk ke china. Iya dong, siapa yang nggak tergiur buat investasi di China yang potensi pasarnya kayak gitu. Akhirnya pembangunan pun dipercepat dan wow, anda juga tahu kan jika dicermati di pertumbuhan perekonomian dunia, China itu luar biasa, bahkan sekarang udah beberapa langkah di belakang Amerika Serikat yang pada periode ketika China masih terpuruk dulu perekonomiannya sudah tumbuh terus.

Nah kembali ke perang dingin atau perang ideologi tadi. Berarti China itu nggak lagi full komunis dong? iya lah dia make konsep perekonomiannya kapitalis, siapa aja yang punya kapital (uang khususnya) bisa invest di China dan konsumsi di negaranya juga dirangsang supaya tumbuh kuat. Itulah mengapa tadi gue bilang supaya lo perhatiin sekeliling lo, berapa aja barang dari China yang lo pake?

Nah sekarang antara China dan Amerika, mereka berdua bisa dibilang jadi dua kekuatan utama atau tonggak perekonomian di bumi ini. Ketika Amerika kesusahan dan hampir jatoh, China secara status yang bakalan bantu buat ngangkat, soalnya kalo dia nggak bisa bantu, dia bakalan lebih jatoh juga. Tau kenapa? Karena ya mereka udah deket banget, biasa tuker-tukeran barang, kayak gitulah. Ibaratnya lo sama pacar lo nih, udah tuker-tukeran hati gitu, terus pacar lo sakit, pasti lo juga ngerasa lebih sakit kan? atau amit-amit pacar lo sampe meninggal, lo yang ditinggalin juga bakalan sakit kan? Haha ngaco.

Siap siap dah, jadi gitu kurang-kurangya ending dari sejarah yang sering lo sebut perang dingin itu. Sekarang banyak orang bilang kapitalis itu bejat, cacad, sistem yang nggak islamis, sekarang lo punya gagasan sistem baru nggak yang lebih baik? Faktanya bro, di bumi ini semua negara (kalo gak salah sih) menganut sistem kapitalisme, bahkan kekuatan besar saingannya (komunis sosialis) aja udah menyerah kalah gitu loh dengan apa yang China tunjukkan. Dan mereka jadi temen deket sekarang. Wut, maunya apa sih sebenernya?

Jadi apa maksudnya gue nulis ini? Gini bro, kalo lo udah pada sadar bahwa sistem di bumi ini sekarang kayak gitu, intinya cuma satu, kapital. Lo bisa berbuat banyak hal di bumi ini kalo lo punya banyak kapital, dan lo cuman bakalan nggak berdaya kalo lo nggak punya kapital yang besar. Jadi buat bikin negara kita maju, kita perlu menyerap sebanyak mungkin kapital yang ada di bumi ini buat masuk. Ngerasain kan sekarang neraca perdagangan kita defisit, rupiah melemah banget, semuanya jadi mahal? hidup jadi lebih susah (dikit), kalo ke luar negeri rasanya mahal banget (nggak semua negara juga si). Udah gitu aja ya kurang-kurangnya dari gue.. Salam mahasiswa!!         
Read More

Saturday, 6 December 2014

Antara kebebasan, kedisiplinan, dan tanggung jawab

Ada orang yang hidupnya begitu bebas. Melakukan hal-hal menyenangkan yang ingin ia lakukan. Orang-orang seperti ini selalu memiliki waktu untuk hal-hal yang mereka sayangi. Namun, bukan berarti hidup mereka tidak memiliki tantangan dan masalah. Justru sebaliknya. Orang yang memilih untuk menjalani hidupnya seperti ini sebenarnya menghadapkan dirinya pada sebuah risiko dan bahaya yang sangat besar. Hanya, mereka tau bagaimana mereka harus menghadapinya.

Namun ada orang yang hidupnya selalu berada dalam rutinitas. Seolah-olah mereka adalah mesin yang dijalankan dan diatur oleh sesuatu lain. Mereka tidak memiliki pilihan untuk keluar dari kehidupannya saat ini. Ketika ada kerabat yang ingin bertemu, mereka seringkali bilang tidak ada waktu. Ketika orang tua mereka sedang rindu dan ingin bertemu, mereka seringkali bilang kalau tidak bisa pulang karena masih banyak pekerjaan atau masih banyak yang harus diurus. Bahkan mungkin ketika masuk waktunya beribadah, mereka juga tidak ada waktu. Orang-orang seperti ini hampir semuanya suka mengeluh, bosan, tidak memiliki motivasi, dan tanpa mereka sadari, mereka menyakiti perasaan orang-orang yang menyayangi mereka.


Namun, apa sebenarnya yang ingin saya katakan dari ilustrasi dua orang di atas?


Masalah, kesulitan, kesibukan, atau kita sebut saja beban, datang kepada seluruh manusia di dunia ini. Namun, ada dua tipe manusia. Manusia yang selalu memilih untuk melihat beban dan manusia yang memilih untuk melihat sesuatu yang selalu ada di samping beban, yakni peluang, pengalaman, dan keindahan. Tapi sayangnya hampir semua orang memilih untuk tidak melihat mereka. Mereka terlalu fokus pada beban, seakan akan jika mereka melakukan hal yang berbeda atau tidak wajar, maka mereka akan mendapatkan banyak masalah.

Oke next!

Kita cukup sering mendengar ada yang bilang, "Mau jadi apa kamu kalau nilai nggak pernah bagus?" atau "Sekolahlah yang benar, biar masa depanmu bagus".
Hmm, emang sekolahnya sendiri udah benar?
Begitulah kadang-kadang. Orang hanya bersedia menerima dan menganggap status quo sudah benar dan itu yang harus mereka jalani.


Tapi sekarang mulai ada juga yang bilang, "Bagus di sekolah, bukan berarti anda akan bagus juga di dunia kerja" atau "Kami tidak menerima mahasiswa yang ip nya diatas 3".

Kenapa?
Ada sebuah kemampuan yang hilang dari orang-orang yang terlalu fokus pada beban, yaitu kemampuan untuk memandang peluang dan kebebasan (berimajinasi, bersosialisasi, mencoba hal-hal baru, berfikir, mencuri, dll.). Itulah mengapa kebanyakan entrepreneur adalah orang-orang yang tidak begitu benar hidupnya atau mulai membanting kemudi dari hidup benarnya. Pak Hermawan Kartajaya misalnya, beliau mengundurkan diri dari direktur Sampoerna dan mendirikan Markplus pada 1 Mei 1990.

Cukup? belum juga. Mereka yang dapat memandang peluang dan kebebasan pun tidak semuanya memilih untuk menjalani kebebasan dan mengambil peluang tersebut. Kenapa? Karena risikonya tinggi. Butuh keberanian dan mental yang memadai untuk itu. Dan memutuskan untuk menjalani hidupnya seperti apa yang mereka inginkan pun, tidak akan lama bisa begitu jika mereka tidak disiplin dan bertanggung jawab.

Then,

life is not how we make it, it's more on how we take it.

Read More

Thursday, 25 September 2014

Memahami teks atau konteks?

Aku lebih suka berteman dengan orang yang bisa salah, dari pada berteman dengan orang yang pasti benar dan selalu benar. orang semacam itu mengerikan. -@noffret ..

Saya merasa ada sebuah perubahan situasi yang sangat terasa sejak saya mulai menginjak usia remaja. Dulu, ketika kecil saya tidak pernah membayangkan informasi dapat menyebar seluas dan secepat ini. Dulu saya selalu mengalami kesulitan untuk membaca habis surat kabar yang biasa saya beli di akhir pekan. Saya dulu merasa seperti informasi baru berubah setiap minggunya. Ya, saya dulu berfikir dan mengalami hal seperti itu.

Sekarang, saya melihat dunia ini seperti seringkali diramaikan oleh amarah yang kosong. Begitu cepat informasi sampai di pikiran orang-orang, dan begitu cepat pula pikiran mereka merespon tanpa mencoba memahami terlebih dahulu. Akhir-akhir ini begitu banyak kasus yang ramai di media sosial dan kita dapat menjumpai begitu banyak opini yang marah dan kosong.

Saya coba berfikir dan mencari pemikiran-pemikiran teman-teman lain, sampai pada sebuah kesimpulan; opini yang marah dan kosong itu karena pikiran hanya digunakan untuk memahami teks, bukan konteks. Satu hal yang sebenarnya sangat disayangkan juga, banyak kalangan akademisi yang kalau dipikir-pikir mendapatkan pendidikan yang bagus juga hanya menggunakan pikirannya untuk sebatas memahami secara tekstual. haha..  
Read More

Saturday, 3 May 2014

The Idea of Smoking

Ngeroko atau smoking sepertinya terlihat sederhana saja. Tinggal dinyalain pake api, dihisap, dihembusin asepnya, habis, nyalain lagi, selesai. Tapi pernahkah kita memikirkan beberapa hal di balik rokok? em, industrinya mungkin, atau pemiliknya?
Beberapa orang mulai cukup ramai membicarakan mengenai industri rokok dan farmasi. Sesuatu seperti, jebakan kapitalis. Kampanye anti rokok digalakkan di seluruh dunia secara masif oleh mereka para pebisnis besar seperti bloomberg, morgan, dkk. dan dunia industri membuat aturan untuk tidak menerima pekerja yang meroko di posisi yang cukup baik. Jadi yang ngeroko entar cuma bisa jadi kuli deh. Akhirnya, semua orang akan lari ke industri farmasi untuk membersihkan dirinya dari pengaruh nikotin. Nah, industri farmasi yang siap menyambut itu ialah milik kapitalis besar seperti di atas. Artinya, tidak sia-sia sudah mereka menggelontorkan dana yang luar biasa banyak untuk disumbangkan ke pelbagai negara guna kampanye anti-rokok.
Benarkah memang seperti itu skenarionya? ya ngga tau juga deh. Sepertinya masih ada banyak hal di balik skenario di atas, informasi tersebut saya rasa hanya sebesar kapal Titanic dalam samudra. 
Read More

Wednesday, 5 February 2014

Penghapusan Beberapa Posting

Well bray, rencananya sih blog ini mau dihapus sebenernya. Yaa beberapa bulan kemarin lah akhir tahun 2013, sekitar November.
Ada alasan cukup kuat juga sih sebenernya, tapi, setelah dipikir-pikir lagi dan sedikit mengingat memori lama ketika dulu bakar buku harian (buku 2 tahun itu padahal T.T) dan sekarang nyesel, akhirnya diputuskan untuk tetep lanjutin ini blog dan menghapus beberapa konten yang berpotensi membahayakan keselamatan di kemudian hari jika diketahui orang-orang yang belum bisa dipercaya. Jadi mungkin blog ini lebih diarahin buat hiburan dan berbagi cerita-cerita sederhana aja ya.

Salam,
Fahmi
Read More

Sunday, 24 November 2013

Rindu dan Matematika

            Judulnya melankolis banget ya kayaknya, em ngga tau deh yang jelas ini bukan tentang kenangan atau hal-hal yang berbau perasaan. Sebenernya mereka berdua adalah dua hal yang totally different in common jika dilihat gitu aja, yaa gitu aja, dilihat dengan cara yang biasa. Em, tapi belum tentu juga bakalan ada common in difference kalau dillihat dengan cara yang ngga biasa. Terus? Hehe sabar atuh bray.

           Pertama saya pengen cerita tentang sejarah dan filosofi dari rindu. Ah, kepanjangen ntar, gak jadi gak jadi. Em, gini aja deh, ada orang yang bilang sama kekasihnya, --- Kita udahan aja ya bebs, setelah beberapa waktu kita jalan bareng, makan baso di bawah jembatan bareng, minum akua di GI bareng, lari-lari pagi bareng, aku ngga ngerasa ada kesamaan diantara kita. Waktu makan baso, kamu pentolnya lima ngga ada mie-nya, aku pentolnya separo mie-nya semangkuk. Waktu minum akua di GI, kamu akua-nya yang botolan aku akua yang gelas. Waktu lari-lari pagi bareng, aku pake sendal jepit kamu pake sepatu roda, gimana mau ngga protol otot bebs?? Em, gimana? Ngga papa kan kita udahan aja? Dari pada diterusin tapi akhirnya kita semakin ngerasa ngga nyaman? Bebs? Masih napas kan? Mau napas buatan? --- Lalu mereka berpisah dan entah bagaimana rindu akan mengatakan sesuatu kelak. Tapi yang jelas tidak ada tokoh yang dapat menjamin bahwa dia akan hadir. Tidak juga sebaliknya. Orang bisa rindu pada sosok yang baru ia temui beberapa jam yang lalu. Orang bisa rindu pada sosok yang berada jauh dari tempatnya mendengar suara sosok itu dari telefon. Begitu juga sebaliknya, orang bisa tidak rindu. Ya, saya cuma mau bilang kalau rindu itu abstrak sih. :p . Namuuun, setelah itu orang mulai mengerti tentang sebuah pola. Dan ya, selalu ada pola dalam hal se-abstrak apa pun. Termasuk juga rindu.


Intermezoo hehe :D
              Lalu bagaimana dengan matematika? Amit-amit dah kalo harus nyeritain sejarah dan perkembangan matematika. Sering sih sebenernya lihat buku yang begituan: pertama baca judulnya, wah keren banget nih kayaknya, coba buka halaman pertama: kampret ini apaan -_-".. Yang jelas sebenernya pada awalnya tidak ada yang jelas dalam matematika. Siapa bilang matematika itu kepastian, bukan. Matematika itu penuh dengan misteri dan ketidakpastian. Namun ada sebuah kebutuhan untuk menyederhanakan ketidakpastian dengan mengamati lalu mencari persamaan dan menuliskan sebuah pola yang lebih sedehana dalam bahasa aplikasi dari sebuah pola dalam bahasa abstraksi. Ya, saya juga cuma mau bilang kalau matematika itu itu abstrak. :D Namuuun, berbeda dengan rindu yang dibiarkan indah dalam abstraknya. Matematika dikonversi lagi menjadi sesuatu yang sederhana dan proporsional dengan permintaan manusia akan perhitungan, perkiraan, dan banyak hal.

Intermezoo lagii ckckck
            Jadilah mereka berbeda dan entah masih ada sebuah persamaan atau tidak. Yang jelas semuanya menjadi relatif. Saya tidak suka bilang kalau manusia itu makhluk yang relatif, tapi dalam satu hari aja, ya, well, eh, keluar topik entar jadinya. haha. Ya udah, udah ya, selesai, semoga tulisan ini (dengan open endingya) bisa dimengerti . . 
Read More

Thursday, 7 November 2013

A Reminder (Tfcfoubs)


Entah bagaimana saya belum merasakan, tapi sepertinya itu keren: setelah perjuangan berdarah-darah selama kurang lebih 4 tahun, kemudian berdiri disaksikan orang tua atau kerabat terdekat, mengenakan toga dan mengucap sumpah sebagai seorang sarjana. Lalu mencari spot yang pas buat foto bareng, dan hasilnya dipajang pada dinding di ruang tamu atau kamar orang tua.

Membanggakan sekali sepertinya.  Beberapa minggu istirahat di rumah, menyambung kembali silaturahmi dengan kerabat-kerabat yang sudah lama berisah, sambil minta pertimbangan permintaan perusahaan mana yang sebaiknya dipilih, atau beasiswa di negara mana yang sepertinya baik untuk di ambil.

Pada bagian bumi lainnya :

Entah bagaimana saya belum merasakan, tapi sepertinya itu keren: setelah bersusah payah untuk belajar, namun karena lingkungan dan akses pengembangan diri tidak begitu mendukung terpaksa mereka harus menutup buku dan memekarkan otot. Kemudian setelah satu bulan bercucuran keringat, mereka pulang dengan sepaket kebahagiaan untuk orang-orang yang mereka sayangi.

Membanggakan sekali sepertinya. Menghabiskan sebagian besar waktu dan tenaga untuk menjaga senyum orang-orang yang mereka sayangi. Kemudian sejenak menyesap kopi dan rokok kecil di sudut sepi bersama teman-teman yang senasib. Bercanda dan berbagi cerita. Berbagi harapan tentang perubahan hidup yang lebih baik.

...

Saya bukan bermaksud untuk menyinggung perihal keseimbangan, melainkan sebuah arti dari perbedaan. Bukan tanpa alasan manusia hidup dalam keragaman ilmu dan kemampuan. Bukan tanpa alasan kemudian muncul istilah keberuntungan dan 'nasib'. Ya, sebenarnya tulisan ini reminder aja sih buat saya sendiri khususnya (haha), bahwa pada setiap kebahagiaan yang datang, turut serta sebuah titipan kebahagiaan untuk orang lain. Bukan juga tanpa alasan sepertinya kemudian muncul istilah tanggung jawab dan kepercayaan Tuhan.     
Read More

Thursday, 31 October 2013

Saya, Halim dan Dia, Pada Satu Hari



          Ada begitu banyak hal yang ingin saya tuliskan akhir-akhir ini. hal-hal yang membentuk tiga garis kerut pada dahi saya yang dulu mulus. Ya, namun waktu di tempat ini rasanya seperti sedang berjalan di atas skateboard. Tidak seperti lima bulan lalu yang mana waktu seperti berjalan di atas Padang Arafah.
okah, saya cerita yang ini dulu aja ya ntar yang lainnya disambung di postingan lain.

          Jadi ceritanya di Indonesia ada orang yang bernama Halim. Tapi jangan salah, dia bukan orang susah yang kerjanya lontang lantung nyari kerja atau pengais sampah yang hidupnya di rumah kardus 3x4 meter atau bahkan seorang ustad yang pinternya ngalahin Muhammad SAW. Jangan salah. Halim bukan orang seperti itu. Dia orang yang jauh lebih susah dari tiga asumsi tadi. 

          Singkat cerita, Halim merupakan seorang pemikir (makannya hidupnya susah terus wkwkwk) yang entah gimana ceritanya kesambet sama buku yang judulnya The Legend of Apalachia: discovering the unconfirmed phylosophy of happiness. entah sudah berapa ratus kali ia membacakan buku itu dihadapan orang-orang yang, yaa, beberapa acuh, beberapa bersimpati dengan menepukkan tangannya satu kali, beberapa lari ketakutan, dan bahkan pernah satu ketika seorang anak kecil memberikan Halim lima dolar lalu menyuruhnya pergi. 

          Cerita tentang Halim berlanjut tanpa saya tahu sebelum beberapa waktu yang lalu, pada akhir pekan gerimis mulai bersemi menghadirkan kuncup-kuncup yang basah dan segar, lalu mekar dan indah. Karena pada saat itulah, pada akhirnya saya dapat berbicara dengan dia yang ternyata masih sangat sehat walau pun banyak desas desus yang mengabarkan bahwa ia tengah sakit keras, ia sekarang sudah gila, bukankah ia sudah meninggal? Tidak tidak ia tidak mungkin meninggal selama kita masih ada.
Kami sedikit berbicara kemudian:

"Hai Halim, iya, anda Halim kan??" Tanya saya padanya
"Iya, oh anda, senang sekali berjumpa lagi, bagaimana kabarnya?"
"Alhamdulillah saya baik-baik, anda bagaimana? ah sebentar, tapi mungkin hanya anda yang senang kita dapat berjumpa lagi, karena sepertinya saya tidak"
"Kabar saya juga baik sebenarnya. Bagaimana bisa begitu? bukankah anda begitu sering memikirkan saya? bagaimana mungkin anda tidak berbahagia ketika kita bertemu?"
"Bukan Halim, bukan demikian. Anda terlalu sering membuat saya pusing dan selalu ingin minum kopi." Saya melirik halim sekejap. "Anda tahu ibu tidak pernah menyetujui permintaan saya untuk sepaket kopi siap seduh, itu tidak baik bagiku ia bilang"
"Ah, mengapa jadi demikian, bukankah kepusingan bisa anda pikir sebagai sebuah kesenangan?"
"Sangat bisa Halim, namun hanya ada 5% kadar tawa pada kesenangan itu. Apakah anda pikir itu sesuatu yang efisien?"
"Hem... padahal anda mengenal saya sebagai seorang Halim."
"Hah? maksud anda?"
"Saya pikir anda akan mau saya ajak berenang, main bola, lari pagi, menyesap teh hangat bersama gerimis, atau main dota 2 jika anda mengenal saya sebagai Halim"
"Jika saya tidak mengenal anda sebagai seorang Halim, lantas anda yang seperti apa yang akan saya kenal"
"Saya yang seperti bunga, kadang dipetik orang dan diberikan kepada kekasihnya, kadang dipetik anak-anak kecil yang iseng, kadang dipetik oleh pekerja-pekerja perusahaan untuk dijadikan pengharum, untuk membuat produk yang akan menguntungkan mereka"
"Saya masih belum mengerti Halim, lantas anda yang seperti bunga apakah sama seperti anda yang seperti Halim?"
"Seperti apa saya seperti apa anda memandang, memikirkan, dan memperlakukan saya"
"Jika saya ingin berteman dengan anda yang seperti bunga, bagaimana saya harus memanggil anda?"
"jika saya seperti bunga, tentu anda bukan teman saya melainkan majikan dan saya budaknya. Ah, tapi jika memang demikian, panggil saja saya puisi. Seperti kebanyakan orang memanggil saya"

...

Singkat cerita, saya kemudian bertukar senyum dengan Halim dan kita berpisah tanpa sebuah janji untuk bertemu lagi. 

"Jika saya sudah sedikit lebih dewasa, saya ingin kita bertemu lagi" saya berkata padanya dengan wajah menunduk memandang bayangan wajahnya yang meneduhkan semut-semut merah.

"Semoga demikian" jawab Halim singkat. Dan kita berpisah diiringi gerimis rubah. Ya, gerimis yang turun dikala hari cerah dan angin berhembus seperti Mandella.
Read More