I am freelance intelligence. Currently trying to understand capitalism.

Friday, 22 May 2015

Guruku Sayang Padaku

Jujur saya khawatir, melihat pola pikir orang-orang di negara ini yang perlahan mulai bergeser mengikuti paham negara-negara liberalis. Setahu saya, negara ini punya budaya bahwa orang yang paling keren bukanlah mereka yang punya uang paling banyak. Jika saya lihat tokoh-tokoh masyarakat (whatever fiksi atau beneran) yang sangat nge-hits dulu seperti Benyamin, Si Pitung, dll. mereka itu bukan tokoh dengan uang yang banyak, tapi mereka merupakan tokoh yang memiliki kepedulian tinggi kepada masyarakat dan memperjuangkan kebajikan, bandingin ama Iron man, Kapten Amerika, beda banget kan? Ya of course karena budayanya beda, beda itu bukan berarti satu lebih benar satu lebih buruk lo, beda ya beda, bukan masalah benar atau salah, tapi tentang yang paling baik dan pas itu yang mana. Dari situ setahu saya, di negara ini, budaya mengatakan bahwa orang yang paling keren ya orang-orang seperti si pitung, dkk itu, malah di beberapa cerita rakyat, orang yang banyak uangnya tidak jarang dijadikan tokoh antagonis dengan dibumbuhi sifat-sifat semacam sombong, tamak,  durhaka,  atau apalah. Nah, tapi budaya di negara-negara kapitalis liberalis beda, orang paling keren menurut budaya di negara-negara itu adalah orang-orang yang punya paling banyak kapital.

Oke mungkin sedikit rancu dan debatable pemaparan saya di atas, sederhananya seperti ini mungkin; image tertinggi dari seseorang itu dilihat dari kapital yang dia miliki (di negara-negara liberalis kapitalis) , dan kepedulian yang dia miliki (di negara ini).

Tapi itu setahu saya, dan kenyataannya sekarang nggak gitu-gitu amat. Nah pergeseran persepsi ini sebenarnya sangat berbahaya. Khususnya buat adek saya. Jujur, saya khawatir. Orang-orang yang memilih untuk menjalani profesi-profesi yang mengutamakan kepedulian seperti guru, dokter, pegawai negeri, dll. yang seharusnya tetap profesional walaupun gaji mereka kecil mulai berontak karena pergeseran budaya dalam melihat orang paling keren tadi membuat orang-orang jadi materialistis. No money no serve. Padahal aspek utama dalam tugas-tugas profesi-profesi jasa di atas itu adalah kepedulian dan ketulusan dalam mendidik, melayani, mengobati, dll. Jujur, saya sangat sangat khawatir. Kalau semua guru, dokter, pegawai negeri, jadi materialistis. Udah banyak kan kasus siswa yang kurang perhatian sama gurunya, dikit-dikit dihukum, anjrit, udah nggak bisa ndidik, ngehukumnya nggak mendidik, malah merusak. Karena yang dipikirin ya cuma duit.

Saya cukup sering mendengar cerita dari mama saya waktu di telfon atau ketika liburan di rumah kalau guru-guru TK adek saya dulu cuma kelihatan perhatian pas ada mama saya. Pas udah nggak ada, mama coba amati dari jauh, adek saya mau jatoh mau apa lah juga nggak diurusin, dibiarin aja, malah ada anak yang nangis juga dibiarin aja. Kan bahaya ya. Bisa-bisa juga lebih parahnya lagi, ada orang sekarat dateng ke rumah sakit minta diobatin nggak boleh masuk gara-gara nggak punya uang.

Mendingan sekalian gitu loh maksud saya kalo mau materialis ya materialis sekalian dari mulai sistem-sistem dasarnya, struktur masyarakatnya, pola pikir, dan profesionalitasnya yang paling penting. Sampai ada tragedi kayak sexual harassment di JIS, bikini party after UN, atau apa lah, udah parah banget kan ya? Dan semua orang masih aja tetep nge-blame anak-anak. Mereka itu anak-anak, jangan disalahin tapi dibenerin, disayang, dididik. Selain khawatir saya sebenernya juga sebel banget sama orang-orang tua yang sebenarnya harus bertanggungjawab, tapi malah jadi pengecut dan cuma bisa nyalahin anak-anak, entah itu gurunya, kepala sekolahnya, semuanya lah. Misalnya juga ada anak yang hamil diluar nikah, pasti anaknya yang disalahin kan? Mereka itu udah tertekan, tambah ditekan lagi, padahal kan yang salah ya bukan sepenuhnya mereka juga, bisa jadi karena orang tua yang salah ngedidiknya, yang nggak update sama perkembangan anaknya, yang nggak perhatian.  

Apakah semua anak harus bayar sama orang tua (guru, ayah, ibu, polisi, dll. juga) yang sibuk sama hal-hal material, buat dapet pendidikan, perhatian, dan kasih sayang mereka?

...

Kenapa sih bisa kayak gitu sebenernya? Kalo saya asal jawab ya sebenernya nggak semua orang di negara kita itu PD (percaya diri) sama budayanya sendiri. Contoh soal, mau nggak lo makan di hotel pas konferensi sama orang-orang negara lain, terus makannya nggak pake sendok garpu tapi cuma pake jari tangan aja? PD nggak?

Kita selalu bilang kalo kita suka telat, emang orang Italy nggak suka telat kayak kita?  

...

Saya tahu saya mungkin salah, emang nggak semua hal yang saya percaya benar waktu SMP masih saya percaya benar sekarang. Maksudnya, saya tahu kalo saya juga bisa salah, tapi jujur, saya khawatir. Nggak papa lah kita jadi bangsa yang nggak kaya raya kayak Amerika, jadi bangsa yang bisa rule and conquer the world, asal kita bisa jadi bangsa yang terdidik. Saya bilang kayak gitu bukan berarti saya nggak ngerti ekonomi. Saya mahasiswa jurusan finance. 
Read More

Monday, 18 May 2015

Kalo Aku Nikah sama Kamu

Aku tidak punya tujuan apa-apa
Sebenarnya aku mulai ragu, pada artikulasi hubungan antara laki-laki dan perempuan yang banyak dijelaskan para seniman dan orang tua
Bukan berarti aku nggak cinta kamu
Aku hanya berfikir, kalau cinta bukan satu-satunya kode yang ada

"Banyak orang rela mengorbankan nyawanya untuk orang-orang yang mereka cintai, apakah kamu tidak percaya bahwa cinta itu ada dan punya tujuan?"

"Apakah kamu yakin jika mereka melakukan itu untuk orang-orang yang mereka cintai? Aku hanya merasa mereka melakukan itu untuk diri mereka sendiri. Mana yang akan kamu pilih, mati atau hidup dalam kematian karena orang yang memberi kita kasih sayang dan yang menjadi media penyaluran kasih sayang kita telah tiada?"

"Maksud kamu?"

"Aku hanya berfikir bahwa setiap manusia seperti itu, melakukan segalanya untuk dirinya sendiri. Membantu orang lain karena dia tahu suatu saat dia akan butuh bantuan, mendengarkan curhatan orang lain karena dia tahu suatu saat dia akan butuh telinga untuk mendengarkan curhatannya"

"Apakah karena itu?"

"Tidak, aku tidak bisa membayangkan jika suatu saat ada yang berubah dan aku tidak bisa memberikan hal-hal yang biasa kuberikan untuk kamu, lalu kamu dihadapkan pada dua pilihan; pergi atau bertahan denganku dalam sakit. Begitu pun sebaliknya. Kupikir aku tidak akan bisa kalau aku harus menghadapinya denganmu"

Aku mungkin salah, dan aku mungkin berubah, tapi itu masih mungkin.




Read More

Wednesday, 6 May 2015

The Great Debater Quote Scene

"Who is the judge?"
The judge is God
"Why is he God?"
Because he decide who win or loses not my opponent
"Who is your opponent?"
He doesn't exist
"Why does he not exist?"
Because he is only a merely descenting voice to the truth I speak  
Read More