I am freelance intelligence. Currently trying to understand capitalism.

Tuesday, 30 December 2014

Sebait Pengingat

Hal paling penting untuk kita perkuat dalam hidup selagi muda adalah; mental, keberpihakan, keberanian, dan karakter. Sederhana saja, bukan untuk sesuatu yang rumit. Hanya untuk dua hal, cinta dan kematian.

@fahmialm
Read More

Saturday, 6 December 2014

Antara kebebasan, kedisiplinan, dan tanggung jawab

Ada orang yang hidupnya begitu bebas. Melakukan hal-hal menyenangkan yang ingin ia lakukan. Orang-orang seperti ini selalu memiliki waktu untuk hal-hal yang mereka sayangi. Namun, bukan berarti hidup mereka tidak memiliki tantangan dan masalah. Justru sebaliknya. Orang yang memilih untuk menjalani hidupnya seperti ini sebenarnya menghadapkan dirinya pada sebuah risiko dan bahaya yang sangat besar. Hanya, mereka tau bagaimana mereka harus menghadapinya.

Namun ada orang yang hidupnya selalu berada dalam rutinitas. Seolah-olah mereka adalah mesin yang dijalankan dan diatur oleh sesuatu lain. Mereka tidak memiliki pilihan untuk keluar dari kehidupannya saat ini. Ketika ada kerabat yang ingin bertemu, mereka seringkali bilang tidak ada waktu. Ketika orang tua mereka sedang rindu dan ingin bertemu, mereka seringkali bilang kalau tidak bisa pulang karena masih banyak pekerjaan atau masih banyak yang harus diurus. Bahkan mungkin ketika masuk waktunya beribadah, mereka juga tidak ada waktu. Orang-orang seperti ini hampir semuanya suka mengeluh, bosan, tidak memiliki motivasi, dan tanpa mereka sadari, mereka menyakiti perasaan orang-orang yang menyayangi mereka.


Namun, apa sebenarnya yang ingin saya katakan dari ilustrasi dua orang di atas?


Masalah, kesulitan, kesibukan, atau kita sebut saja beban, datang kepada seluruh manusia di dunia ini. Namun, ada dua tipe manusia. Manusia yang selalu memilih untuk melihat beban dan manusia yang memilih untuk melihat sesuatu yang selalu ada di samping beban, yakni peluang, pengalaman, dan keindahan. Tapi sayangnya hampir semua orang memilih untuk tidak melihat mereka. Mereka terlalu fokus pada beban, seakan akan jika mereka melakukan hal yang berbeda atau tidak wajar, maka mereka akan mendapatkan banyak masalah.

Oke next!

Kita cukup sering mendengar ada yang bilang, "Mau jadi apa kamu kalau nilai nggak pernah bagus?" atau "Sekolahlah yang benar, biar masa depanmu bagus".
Hmm, emang sekolahnya sendiri udah benar?
Begitulah kadang-kadang. Orang hanya bersedia menerima dan menganggap status quo sudah benar dan itu yang harus mereka jalani.


Tapi sekarang mulai ada juga yang bilang, "Bagus di sekolah, bukan berarti anda akan bagus juga di dunia kerja" atau "Kami tidak menerima mahasiswa yang ip nya diatas 3".

Kenapa?
Ada sebuah kemampuan yang hilang dari orang-orang yang terlalu fokus pada beban, yaitu kemampuan untuk memandang peluang dan kebebasan (berimajinasi, bersosialisasi, mencoba hal-hal baru, berfikir, mencuri, dll.). Itulah mengapa kebanyakan entrepreneur adalah orang-orang yang tidak begitu benar hidupnya atau mulai membanting kemudi dari hidup benarnya. Pak Hermawan Kartajaya misalnya, beliau mengundurkan diri dari direktur Sampoerna dan mendirikan Markplus pada 1 Mei 1990.

Cukup? belum juga. Mereka yang dapat memandang peluang dan kebebasan pun tidak semuanya memilih untuk menjalani kebebasan dan mengambil peluang tersebut. Kenapa? Karena risikonya tinggi. Butuh keberanian dan mental yang memadai untuk itu. Dan memutuskan untuk menjalani hidupnya seperti apa yang mereka inginkan pun, tidak akan lama bisa begitu jika mereka tidak disiplin dan bertanggung jawab.

Then,

life is not how we make it, it's more on how we take it.

Read More

Tuesday, 2 December 2014

Reading My Poems

Saya tidak begitu membayangkan, ketika kecil, tentang hal-hal mengenai puisi.
Saya tidak begitu suka membaca puisi, ketika kecil, karena saya pikir itu alay, berlebihan, dan bukannya nge-feel malah bikin ill-feel.
Namun pernah satu kali saya terpaksa melakukannya untuk sebuah kompetisi akademis, kabar baiknya, saya hanya melakukannya ketika latihan karena ternyata di kompetisi tersebut tidak wajib untuk dilakukan dan ada pilihan bentuk seni lainnya. 
Ya, itu dulu ketika saya SD.

Ketika SMP saya tidak sengaja membaca sebuah buku kumpulan puisi di perpustakaan. Saya hanya penasaran karena bukunya terlihat aneh lalu saya baca dan ternyata itu kumpulan puisi. Dan bingo. I felt something while reading them. Sesuatu seperti, anda merasa berada di sebuah suasana yang anda ciptakan sendiri, anda nikmati dan anda akhiri sendiri. Apakah ceritanya berlanjut? apakah kemudian dari situ saya mulai menulis puisi? no! Faktanya adalah saya tidak ingat apakah saya pernah benar-benar menulis puisi ketika SMP dan tidak ada puisi SMP saya yang hidup di pikiran saya sekarang kecuali satu, sebuah puisi tentang sungai yang menjadi akar kehidupan masyarakan di sebuah tempat yang cukup jauh dari rumah saya namun masih di kota yang sama. Ketika itu saya mengendarai sepeda dan tanpa ada rencana, hanya menggerakkan pedal dan kemudi sesuka hati, sampai akhirnya tiba di tempat itu. Jika dihitung jaraknya dari rumah sekitar 21 kilometer.

Ketika SMA? Inilah waktu ketika saya mulai berani meninggalkan kelas untuk sesuatu yang memang benar-benar saya ingin untuk lakukan. Sebuah waktu transformasi yang sangat menakjubkan yang bahkan saya tidak percaya saya dapat berpikir seperti itu ketika SMA. Begitu banyak pergulatan, refleksi, dan keberanian yang terjadi. Begitu banyak puisi yang saya tulis. Namun hanya beberapa yang masih hidup di dalam kepala saya sekarang. Sisanya? sebagian besar saya tinggalkan di lembar-lembar soal ujian semester, dan sebagian lagi saya bakar ketika saya merasa, waktunya sudah habis untuk ini. Saya biarkan pikiran saya melepas mereka. Meninggalkannya sendirian dengan nasib mereka sendiri. Dan hanya membawa beberapa puisi yang saya pikir akan saya perlukan untuk menjalani kehidupan selanjutnya. 

Sudah sekitar satu tahun saya tidak menulis puisi yang hidup. Beberapa puisi yang saya tulis hanya sebuah latihan merangkai kata-kata dan nada, saya tidak merasa ada yang hidup di sana. Ya, selama satu tahun ini. Bukan karena saya tidak berfikir dan merasa semua hal berjalan dengan baik di dunia ini. Namun karena puisi-puisi SMA saya yang masih hidup, mereka seperti perlahan-lahan berubah, seperti ada editor yang secara otomatis merawat mereka, dan saya menikmatinya. And i don't think to write a poetry anymore. Mungkin sampai saat dimana saya merasa, waktunya sudah habis untuk ini. 
Read More