I am freelance intelligence. Currently trying to understand capitalism.

Thursday, 31 October 2013

Saya, Halim dan Dia, Pada Satu Hari



          Ada begitu banyak hal yang ingin saya tuliskan akhir-akhir ini. hal-hal yang membentuk tiga garis kerut pada dahi saya yang dulu mulus. Ya, namun waktu di tempat ini rasanya seperti sedang berjalan di atas skateboard. Tidak seperti lima bulan lalu yang mana waktu seperti berjalan di atas Padang Arafah.
okah, saya cerita yang ini dulu aja ya ntar yang lainnya disambung di postingan lain.

          Jadi ceritanya di Indonesia ada orang yang bernama Halim. Tapi jangan salah, dia bukan orang susah yang kerjanya lontang lantung nyari kerja atau pengais sampah yang hidupnya di rumah kardus 3x4 meter atau bahkan seorang ustad yang pinternya ngalahin Muhammad SAW. Jangan salah. Halim bukan orang seperti itu. Dia orang yang jauh lebih susah dari tiga asumsi tadi. 

          Singkat cerita, Halim merupakan seorang pemikir (makannya hidupnya susah terus wkwkwk) yang entah gimana ceritanya kesambet sama buku yang judulnya The Legend of Apalachia: discovering the unconfirmed phylosophy of happiness. entah sudah berapa ratus kali ia membacakan buku itu dihadapan orang-orang yang, yaa, beberapa acuh, beberapa bersimpati dengan menepukkan tangannya satu kali, beberapa lari ketakutan, dan bahkan pernah satu ketika seorang anak kecil memberikan Halim lima dolar lalu menyuruhnya pergi. 

          Cerita tentang Halim berlanjut tanpa saya tahu sebelum beberapa waktu yang lalu, pada akhir pekan gerimis mulai bersemi menghadirkan kuncup-kuncup yang basah dan segar, lalu mekar dan indah. Karena pada saat itulah, pada akhirnya saya dapat berbicara dengan dia yang ternyata masih sangat sehat walau pun banyak desas desus yang mengabarkan bahwa ia tengah sakit keras, ia sekarang sudah gila, bukankah ia sudah meninggal? Tidak tidak ia tidak mungkin meninggal selama kita masih ada.
Kami sedikit berbicara kemudian:

"Hai Halim, iya, anda Halim kan??" Tanya saya padanya
"Iya, oh anda, senang sekali berjumpa lagi, bagaimana kabarnya?"
"Alhamdulillah saya baik-baik, anda bagaimana? ah sebentar, tapi mungkin hanya anda yang senang kita dapat berjumpa lagi, karena sepertinya saya tidak"
"Kabar saya juga baik sebenarnya. Bagaimana bisa begitu? bukankah anda begitu sering memikirkan saya? bagaimana mungkin anda tidak berbahagia ketika kita bertemu?"
"Bukan Halim, bukan demikian. Anda terlalu sering membuat saya pusing dan selalu ingin minum kopi." Saya melirik halim sekejap. "Anda tahu ibu tidak pernah menyetujui permintaan saya untuk sepaket kopi siap seduh, itu tidak baik bagiku ia bilang"
"Ah, mengapa jadi demikian, bukankah kepusingan bisa anda pikir sebagai sebuah kesenangan?"
"Sangat bisa Halim, namun hanya ada 5% kadar tawa pada kesenangan itu. Apakah anda pikir itu sesuatu yang efisien?"
"Hem... padahal anda mengenal saya sebagai seorang Halim."
"Hah? maksud anda?"
"Saya pikir anda akan mau saya ajak berenang, main bola, lari pagi, menyesap teh hangat bersama gerimis, atau main dota 2 jika anda mengenal saya sebagai Halim"
"Jika saya tidak mengenal anda sebagai seorang Halim, lantas anda yang seperti apa yang akan saya kenal"
"Saya yang seperti bunga, kadang dipetik orang dan diberikan kepada kekasihnya, kadang dipetik anak-anak kecil yang iseng, kadang dipetik oleh pekerja-pekerja perusahaan untuk dijadikan pengharum, untuk membuat produk yang akan menguntungkan mereka"
"Saya masih belum mengerti Halim, lantas anda yang seperti bunga apakah sama seperti anda yang seperti Halim?"
"Seperti apa saya seperti apa anda memandang, memikirkan, dan memperlakukan saya"
"Jika saya ingin berteman dengan anda yang seperti bunga, bagaimana saya harus memanggil anda?"
"jika saya seperti bunga, tentu anda bukan teman saya melainkan majikan dan saya budaknya. Ah, tapi jika memang demikian, panggil saja saya puisi. Seperti kebanyakan orang memanggil saya"

...

Singkat cerita, saya kemudian bertukar senyum dengan Halim dan kita berpisah tanpa sebuah janji untuk bertemu lagi. 

"Jika saya sudah sedikit lebih dewasa, saya ingin kita bertemu lagi" saya berkata padanya dengan wajah menunduk memandang bayangan wajahnya yang meneduhkan semut-semut merah.

"Semoga demikian" jawab Halim singkat. Dan kita berpisah diiringi gerimis rubah. Ya, gerimis yang turun dikala hari cerah dan angin berhembus seperti Mandella.
Read More

Wednesday, 23 October 2013

Tentang Lelaki yang Menunggu Hujan

1
             Hujan turun semakin deras. Membasahi jalanan yang mulai menggelap. Sunyi. Sepi. Dingin. Di sepanjang jalan tempat lelaki itu berdiri, masih nampak tenda-tenda sederhana mengepulkan uap kopi. Di dalamnya sebuah lampu memendarkan cahaya oranye. Menerangi dan memberi sedikit hawa panas pada pisang goreng dingin yang belum tersentuh tangan pembeli. Sepertinya di sana hangat.
Ah sudahlah. Ia tak akan dapat rasakan kehangatan itu.
Ia hanya seorang lelaki berambut hitam gondrong dan pakaian lusuh penuh debu yang berdiri menggigil di emper sebuah toko berpintu harmonika. Kedua tangannya dilipat. Menyembunyikan jari-jarinya pada ketiak yang menghangatkan. Satu kehangatan yang dapat ia nikmati. Sendirian.
Semua orang mencarinya. Ya. Walau tak satu pun dari mereka tahu seperti apa sosok yang sebenarnya mereka cari. Karena hanya Tuhan, aku, dan orang-orang berjubah putih itu yang mungkin tahu.
            Orang-orang berjubah putih yang kini tak dapat lagi merasakan segarnya udara. Ia, lelaki itu. Sudah mulai nampak kerutan-kerutan pada kulitnya yang gelap.
            Kau tahu, dulu ia adalah seorang penjual rokok di persimpangan gang yang mengarang cerita. Namun itu dulu. Sebelum segerombolan orang berjubah putih datang dan membawanya ke suatu tempat. Tempat yang dijejali tarian angin lembah ketika bulan menerawangkan wajah Rama dan Shinta yang saling memandang. Tempat yang belum pernah ia tahu keberadaanya.
            Di sana ia tak sendiri. Banyak pula orang-orang yang duduk bersila dengan wajah menunduk dan tangan diikat di balik perut.
            Itulah kali pertama ia datang ke tempat itu.

2
            Hujan turun semakin deras. Membasahi jalanan yang mulai menggelap. Yang nampak dalam pandanganku hanyalah pendar lampu-lampu kendaraan yang sedang mengantri untuk naik. Kupandangi lekat-lekat seorang kurir yang diutus oleh Tuan Snouck Van Jugend untuk mengantarkanku pada seorang lelaki yang tidur dalam sebuah jeruji besi di Hindia karena mengarang cerita. Ya, aku akan menghamba padanya.
            Inilah kali pertama aku mendengar ayam jantan yang berkokok merdu dikala fajar menyingsing dan embun membasahi rerumputan.
            Cukup! Sudah hampir dua malam kurir itu mengajakku berjalan merasakan panas sengatan matahari dan dingin belaian gerimis. Tak kunjung sampai aku pada tujuan yang dimaksudkan tuan Jugend.
            Seseorang berseragam coklat membukakan pintu setelah tiga kali si kurir mengucap salam dalam bahasa Indonesia berlogat Belanda. Aku dibawanya masuk.
            Sempat kulihat orang-orang dengan badan penuh debu dan pakaian tak lagi utuh berjajar rapi di samping gundukan tanah. Sebagian menenteng cangkul. Sebagiannya lagi menggenggam linggis. Dan setelah itu; gelap. Tak dapat kulihat apa pun. Sepertinya aku dimasukkan dalam sebuah ruangan isolasi yang tak punya ventilasi udara pun sedikit.

3
            Hujan turun semakin deras. Sederas cucuran keringat lelaki itu. Lengah sedikit saja, cambuk akan menanggalkan garis merah pada punggungnya yang telanjang. Rutinitas barunya kini setelah sarapan pagi berteman kokok ayam jantan adalah mencangkul. Membuat lubang menuju ke desa-desa yang ingin dijadikan lahan ekonomi orang-orang berjubah putih itu. Ya memang, sepengamatanku segala yang dilakukan orang di tempat ini hanya untuk kepentingan orang-orang berjubah putih itu. Heran, pun belum tahu aku seberapa sakti mereka walaupun kami datang dari tempat yang sama.
            Walaupun aku tak diantarkan pada lelaki itu, setidaknya sekarang aku telah keluar dari ruang isolasi pengap itu. Dipaksa aku melayani orang-orang berseragam coklat itu mengarang cerita tentang peristiwa-peristiwa di tempat ini. Ya, kusebut itu mengarang karena tak sama dengan faktanya. Dasar orang-orang itu. Seharusnya mereka belajar dulu pada lelaki itu perihal karang-mengarang, ia jagonya. Bahkan tuan Jugend yang seorang akademisi senior pun dibuatnya terkesima hingga mengirimkanku pada lelaki itu.
Aku, juga lelaki itu saksikan langsung bagaimana orang-orang berjubah putih itu terbahak-bahak setelah melemparkan sebutir kecil bijih besi hitam, lalu jemarinya bergerak menekan tombol merah pada sebuah benda persegi dalam genggamannya dan rumah-rumah itu terbakar.
             Kebakaran yang biasanya akan dihentikan oleh hujan. Begitulah cara mereka menguasai tanah ini. Tanah orang-orang Hindia. Tanah orang-orang yang tak pernah berjubah.
Lelaki itu, ia genggam erat sebuah pisau mungil dibalik tangannya. Ia menyelusup di ruang tempat benda itu disimpan dikala orang-orang berseragam coklat itu terlelap. Ia congkel kotak tempat orang-orang berjubah putih itu menyimpan butir bijih besi dan benda persegi bertombol merah itu.
Aw, timbul suara berisik ketika kotak itu terbuka. Orang berseragam coklat itu menggerakkan tangannya ke atas, lalu turun mengusap mulutnya yang basah, dan, ia terlelap lagi. Fiuh. Lelaki itu, ia berhasil. Ia bawa benda itu dan lari entah ke mana. Tak dibawa sertanya diriku. Dibiarkannya aku tetap di sini, di tempat yang sungguh menyedihkan.
              Orang-orang berjubah putih itu marah besar pada orang-orang berseragam coklat. Mereka lalu interogasi semua orang dalam sel. Memukuli mereka tanpa terkecuali. Satu orang berjubah putih itu bilang; ia akan bawa mereka ke Pulau Buru untuk merasakan penjara yang lebih kejam jika tak ada yang mau mengaku. Ah, untung lelaki itu telah pergi. Namun orang-orang berjubah putih itu tak menyadarinya. Beruntung sekali ia.
              Ah, baru ku tahu sekarang ternyata benda itu adalah bijih uranium yang di dalamnya terdapat sensor sinyal yang dapat dipicu oleh tombol merah pada benda yang disebut remot kontrol itu. Benda kecil yang memiliki daya ledak tinggi, namun ia tak meledak seperti bom, aku sendiri juga heran. Bijih uranium itu meledak, merapuhkan segala sesuatu yang dikenainya lalu memercikkan api terhadapnya sehingga membuat mereka terbakar. Tak kusangka ternyata ada ciptaan mereka yang lebih keren dibanding diriku.

4
              Hujan turun semakin deras. Namun lelaki itu tak lagi ada di sini sekarang.Malam semakin sunyi. Tak ada lagi rumah atau desa yang terbakar secara tiba-tiba lalu esoknya berubah jadi kebun jarak.
Hah, lelaki itu! Tiba-tiba ia datang. Entah dari mana. Langsung ia menghampiriku dan membawaku pergi. Untung tak ada orang berseragam coklat yang tahu. Kalau ada, habislah ia.
              Ia suruh aku membantunya menulis satu pengumuman bahwa esok malam, ia akan bakar kantor orang-orang berseragam coklat. Tempat ia dipenjarakan dahulu. Ia bilang ingin pasang pengumuman itu di koran. Ia punya teman yang bekerja di satu media masa di Hindia ini.
Ah, sebenarnya aku malas membantunya. Namun ia memaksa.

5
              Biasanya hujan turun semakin deras, namun sepertinya tidak untuk kali ini. Aku dapat merasakan kesedihannya. Kesedihan yang akan sejenak berhenti ketika hujan turun dan mencipta abu di atas tanah desa-desa itu.
              Ia selalu setia menunggu hujan. Menunggu kesedihannya berhenti sejenak. Namun ternyata ia tak sepemberani seperti yang pernah kubayangkan ketika menculikku dari markas orang-orang berseragam coklat itu.
              Amarah hanya ia pendam dalam dirinya. Dasar bodoh. Tak sedikit sudah aku mengingatkannya, mengumpatinya; Hei bodoh, jangan diam saja! Jangan biarkan orang-orang berjubah putih itu menjarah kebahagiaan yang seharusnya kau miliki. Kau harus berani. Lawan mereka. Jangan biarkan lagi mereka merampas hidup orang-orang yang kau sayangi. Ah kau hanya bisa mengarang cerita, tak lebih. Padahal pasti Tn. Jugend akan lebih bangga padamu jika kau mampu melawan sungguhan.
              Hah, percuma sudah kau menculikku kalau pada akhirnya kau urungkan niatmu untuk membakar tempat itu. Percayalah, teman-temanmu di sana pasti selamat, mereka dapat lari lewat gorong-gorong yang mereka bikin. Mereka sudah hafal jalannya. Ayo, tunggu apa lagi? Atau jika mereka terbakar, itu juga lebih baik. Daripada di sana mereka dipaksa bekerja sangat keras, disiksa. Kau telah kirimkan pengumuman itu pada temanmu. Pasti ia akan menaruhnya di halaman depan koran. Ayolah.
              Ah, lelaki itu. Ia masih tak bergeming. Tak dihiraukannya perkataanku. Dasar lemah. Ia telah kehilangan seluruh anggota keluarganya ketika desanya dibakar. Sedang ia tak dapat berbuat apa-apa karena ia dan para lelaki desanya telah lebih dulu ditangkap atas perintah orang-orang berjubah putih itu.

7
            Hujan turun semakin deras. Lelaki  itu meninggalkanku sendirian pada sebuah ruangan yang gelap. Ah, dasar tak tahu berterimakasih. Padahal aku ingin lihat betapa hebohnya orang-orang di luar sana membaca tulisanmu yang mengancam akan ledakkan markas orang-orang berseragam coklat itu. Betapa mereka akan kebingungan, takut. Lalu orang-orang berjubah putih akan sangat marah dan menyalahkan mereka.
            Lelaki itu pergi entah kemana. Untuk meledakkan markas itu mungkin. Ya, setidaknya itu dapat menyulut semangat lelaki-lelaki lainnya untuk berjuang melawan orang-orang berjubah putih yang menindas mereka.

8
            Hujan turun semakin deras. Pun lelaki itu tak kunjung kembali padaku. Tak pula kudengar ribut-ribut karena markas orang-orang berseragam coklat yang terbakar. Dimana lelaki itu? Apakah ia tewas?
            Seharusnya malam tadi ia telah ledakkan bijih uranium itu. Ah, dasar!
            Seseorang melemparkan sebuah koran dihadapanku. Yang benar saja. Halaman depannya menampakkan gambar bangunan yang terbakar hebat. Di atasnya tertulis; “Rumah Jendral Crist Van Ottoman Meledak”
            Bagaimana mungkin. Ku tahu ia adalah salah seorang jendral kepercayaan Ratu. Ku lanjutkan membaca berita itu. Benar. Jendral itu tewas beserta istrinya. Pasti ini ulah lelaki itu. Ya, aku yakin. Ia urungkan niat ledakkan markas orang-orang berseragam coklat karena tak ingin teman-temannya yang ada di sana ikut terbakar.

9
             Hujan turun semakin deras. Membasahi jalanan yang mulai menggelap. Sunyi. Sepi. Dingin. Di sepanjang jalan tempat lelaki itu berdiri, masih nampak tenda-tenda sederhana mengepulkan uap kopi. Di dalamnya sebuah lampu memendarkan cahaya oranye. Menerangi dan memberi sedikit hawa panas pada pisang goreng dingin yang belum tersentuh tangan pembeli. Sepertinya di sana hangat.
             Ah sudahlah. Ia tak akan dapat rasakan kehangatan itu. Namun aku dapat rasakan kehangatannya.
Aku akan menemaninya mengarang cerita. Ya. Karena memang aku adalah mesin ketik yang dibeli Tn. Jugend dari sebuah toko di Belanda sana setelah Tn. Jugend membaca cerita yang ditulis lelaki itu tentang penindasan orang-orang berjubah putih terhadap bangsanya. Tuan Jugend menjulukinya pahlawan Asia.
Walaupun ucapanku tak pernah dapat ia dengarkan, setidaknya aku cukup bangga dapat membantunya menulis pengumuman tentang ancaman peledakkan markas yang dimuat di koran dan membakar semangat lelaki-lelaki lainnya. Haha, sungguh besar kekuatan kata-kata yang dituliskan lelaki itu, pun sekadar pada ultimatum singkat. Walaupun kudengar media masa yang memuatnya itu ditutup sekarang.
             Lelaki itu masih berdiri. Sendirian. Menunggu hujan. Bukan menunggu kedatangannya, melainkan menunggu kepulangannya. Tidak untuk memadamkan desa-desa yang terbakar, namun sekadar berteduh. Mengenang wajah cantik istrinya yang baru saja ia nikahi. Mengenang desanya yang dulu indah dan sejahtera.
             Biarkanlah hujan turun kali ini. Membasahi jalanan yang kini lengang. Aku pun juga akan menunggunya. Karena aku akan rusak dan tak berguna jika melawannya.
Lelaki itu menatapku, mengelapku dengan sapu tangannya yang lembab. Mungkinkah ia dapat mengerti perkataanku?


 ......

Cerita ini aku tulis, em kalau tidak salah dua tahun yang lalu, sekedar untuk mengingat tentang perjalanan hidup yang menemui beragam halangan sepatutnya diperjuangkan dari beragam sisi pula. Terimakasih. Semoga kita selalu sempat merasakan bahagia pada waktunya.

Read More

Monday, 7 October 2013

Instalove

Jika telah datang segerombolan burung Nazar ke selatan
Dan gunung-gunung mulai berbicara tentang nasib massa
Aku ingin sekali memelukmu
Walaupun entah dengan apa
Dan kita akan berkata
Inilah keabadian
Yang selalu dibicarakan berjoli-joli manusia
Yang tak pernah lelah untuk penasaran
Tentang bagian terindah dalam percintaan
Read More

Sunday, 6 October 2013

Beberapa Kata dari Daud Yusuf, Mantan Menkeu di Massa Orba

Picture of Daud Yusuf, Teken from Wikipedia
Setelah membacakan memoar dari satu bukunya yang berjudul Emak, bu MC mengajukan satu pertanyaan pada Daud Yusuf. Kira-kira begini:


"........ Yang paling menyedihkan dan paling menggembirakan sampai sekarang dalam pengamatan bapak apa pak?"


"E' ..Sebenarnya, saya lihat semakin lama semakin tidak ada yang menggembirakan. Bayangkan, dua hari yang lalu saya membaca di harian kompas tulisan Budiono, wakil presiden. Menulis tentang pendidikan untuk semua, tapi di situ dia mengatakan: 'saya bermimpi', saya heran, dia duduk di situ bukan untuk bermimpi! Tapi melaksanakan. Dan yang membuat saya kecewa daripada mengapa negeri ini jadi seperti ini, beberapa tahun yang lalu Pak Susilo Bambang Yudhoyono juga mengatakan 'saya bermimpi'! Jadi negeri kita ini (selain) dipimpin oleh orang-orang yang munafik, oleh badut, juga dipimpin oleh orang-orang pemimpi. Inilah yg kadang-kadang membuat saya tidak bisa tersenyum, walaupun dari dahulu juga saya tidak.."


hahahaha, plok plok plok plok....

Ya, mungkin beliau sedang lupa, pada 28 Agustus 1963 dihadapan 250.000 warga Amerika, Martin Luther King pernah berkata: "I have a dream that my four children will one day live in a nation where they will not be judged by the colour of their skin, but by the content of their character".

Dan setahun berikutnya, Luther menerima hadiah nobel. Dalam pidatonya di panggung penghargaan beliau berkata: "I refuse to accept the view that mankind is so tragically bound to the starless midnight of racism and war that the bright daybreak of peace and brotherhood can never become a reality".

Ya, sepertinya bukan karena perkataan "saya bermimpi" dari Pak Budiono maupun Pak SBY anda semakin tidak bisa tersenyum pak. Hahaha...   

Tapi ya, bagaimana pun, itu cukup menjadi sebuah jawaban yang manis setelah pembacaan memoar yang begitu memesona walau pun beliau hanya duduk di kursi dan tidak banyak bergerak.
Tapi ya, bagaimana pun, sepertinya masih ada pesan positif yang dapat kita ambil. Seperti, ya, memang bisa jadi benar pak, jika kata mimpi itu tidak dihidupi. Dan mungkin juga bisa benar ketika kata-kata itu dilimpahkan buat saya dan manusia-manusia usia produktif di negeri ini. Thanks anyway...
Read More

Saturday, 5 October 2013

Entah Ini Apa

Habis hujan di Asrama SMAN 10 Tlogowaru beberapa tahun yang lalu, jiaah :D

Entah sejak kapan hujan mulai bercerita tentang rindu
tentang sesuatu yang membuat cinta terasa ambigu
tapi haruskah cinta melupakan payung?

seorang remaja bertanya tentang bagian terindah dari sebuah percintaan
di sebuah rumah gubuk atau beberapa remah roti
apel putri sinderela atau ciuman sehangat kopi
atau mungkin percumbuan di atas altar

lalu waktu berjalan tanpa ada jiwa lain yang mendahului
beberapa pecinta mulai menanyakan perihal rindu
perihal cinta yang bengis
menuntut cinta untuk beberapa hal yang tak rasional

dan entah sejak kapan burung-burung mulai berkicauan tentang rindu
hingga rindu menjadi cinta dan cinta menjadi rindu
seperti hujan menjadi payung dan payung menjadi hujan
Read More