 |
| Capung Putih oleh Komunitas Indonesia Dragonfly Society (IDS) ini memenangkan kompetisi foto
dalam Kongres capung sedunia (International Congres of Odontology) 2012 di
Jepang. |
I
Hari ini jutaan orang berduka. Pesawat AA penerbangan 261 yang membawa 160 penumpang jatuh di
Samudera Pasifik di dekat
Kepulauan Anacapa setelah gagal mendarat di
Los Angeles. Dugaan sementara kecelakaan ini disebabkan oleh kegagalan sistem trim horizontal
.
Akibat kelalaian perawatan (kelalaian pelumasan), mekanisme baut
penggerak trim horizontal menjadi macet dan ketika coba dibebaskan,
mekanisme trim tersebut menjadi aus dan patah, membuat trim horizontal
terlepas dari penggerak dan berada di posisi naik dan pesawat menukik
tajam jatuh ke laut.
Hingga kini pencarian masih terus dilakukan. Keluarga para penumpang
dari berbagai negara berdatangan mencari jenazah anggota keluarga mereka
untuk dibawa pulang.
Kotak hitam yang memuat percakapan pilot dan ko-pilot telah ditemukan
dengan bantuan Tentakel-G.1, robot gurita yang didesain dengan sensor
khusus untuk menemukan black-box di kedalaman laut, namun sepanjang
pencarian belum ada satu korban pun dapat ditemukan. Carl, seorang pakar
penerbangan dan pilot senior AA Airlines mengatakan bahwa kemungkinan
korban selamat sangat sedikit, mengingat pesawat yang meluncur dengan
kecepatan super cepat menabrak permukaan laut hingga menimbulkan ledakan
hebat dan membuat pesawat hancur berkeping-keping. Jika sampai dua
minggu ke depan belum juga ditemukan korban, pencarian akan dihentikan.
II
Gadis itu duduk termangu pada sebuah kursi kayu di ruang tunggu
Bandara S. Matanya menyorot kekosongan. Sepi. Pedih yang teramat dalam.
Bibirnya pucat mengering. Dipandanginya pesawat-pesawat membaris di
hangar. Sesekali ia tersenyum kecil. Pada sudut bibirnya menyirat sebuah
kerinduan yang berusaha disembunyikannya. Kerinduan yang membuat
matanya menyerupa cermin.
Awan bergerak memecah langit yang gelap. Memendarkan cahaya bulan
yang semakin menerang. Hembus angin semakin kencang menerbangkan
kertas-kertas kotor dari tempat sampah yang tak terawat atau helaian
tisu kotor sisa orang-orang yang mungkin juga pernah menangis di sini.
Sepanjang lorong yang menderet kursi-kursi kayu panjang, keheningan
menyapa gadis itu dengan cara yang tak biasa. Mulai disusuri ingatannya
yang masih dengan jelas menyimpan banyak peristiwa, tentang ia dan
lelaki itu.
Gadis itu terduduk. Mengambil sesuatu dari dalam ransel birunya.
Sebuah benda persegi panjang berwarna putih. Kanvas. Dipeluknya kanvas
itu begitu erat, seakan tak ingin ia akan melepasnya kemudian. Perlahan
tetes demi tetes air biru meluncur pada kedua lekukan di pipi manisnya.
Bahunya mulai bergetar seakan tak kuasa menahan sakit sebuah kerinduan.
Kehilangan.
^^^
Kita berdua seperti dua ekor capung jarum, kak. Nakal, seenaknya
hinggap di mana pun mereka mau; di rambut putih kakek-kakek, di atas
buah semangka, di pucuk pagar rumah pak RT, atau di dahi orang-orang
yang sedang bertafakur di sungai membersihkan sisa kerja tubuhnya.
Ukuran tubuh yang kecil mungil membuat mereka sulit sekali ditangkap
walaupun terbangnya lebih lamban dibanding spesies capung lainnya. Lucu
sekali. Semuanya kita lakukan berdasar azas kesenangan. Kepadaku kak,
kau selalu bilang bahwa kata ayahmu selagi kita masih kecil, selagi hati
kita belum terlampau kotor, ikuti saja apa keinginan hati ini.
Ya, itu dulu. Dulu sekali ketika kakak dan aku masih selalu membawa
bekal ke sekolah, ketika aku masih sering menangis karena dijahili
anak-anak nakal di kelas lalu kakak mengajakku ke sawah, menghiburku
dengan tingkah-tingkah aneh yang memaksaku untuk tertawa. Dengan tubuhmu
yang pendek, gendut, dan pipimu menggembung seperti semangka membuatmu
terlihat seperti boneka beruang. Mencubit pipimu sekeras mungkin menjadi
kegemaranku untuk melampiaskan emosi. Ah kakak itu lucu.
Di sawah itu kak biasanya kita bermain dengan capung-capung. Ada
capung berwarna merah, oranye dengan ekor belirik hitam, hijau, dan
banyak lagi. Lalu kita berlomba menarik hati capung. Masih ingatkah kau
kak? Kita menempelkan daun-daun di atas rambut, menyelipkan dahan-dahan
di sela daun telinga dan kita duduk bersebelahan, berdiam diri di tengah
capung-capung yang sedang sibuk beterbangan. Siapa yang dihinggapi
capung duluan, dia lah pemenangnya. Ah, aku pun heran, dulu tak pernah
kita merasa malu dilihat para petani dan wajah kita nampak tak karuan.
Sungguh, aku rindu keindahan masa kecil itu, kak.
Hari-hari berganti, kita mulai beranjak dewasa, kita sudah bukan anak
SD lagi, kita anak SMP. Kutemukan hal baru dalam dirimu. Kau mulai
gemar melukis, padahal dulu tidak pernah kau melukis, kerjamu hanya
bermain dan bermain saja sepulang sekolah.
Semakin banyak hal baru kita pelajari, menghabiskan waktu untuk kita
bermain bersama seperti sebelumnya. Sepulang sekolah ada ekstra
kulikuler, di akhir pekan ada kegiatan organisasi, bimbingan belajar,
atau kegiatan-kegiatan sekolah lainnya. Namun, itu tak menjadi masalah
toh kita masih sekolah di SMP yang sama. Kita selalu berangkat sekolah
bersama walaupun kadang pulangnya tidak. Yah walaupun aku harus bersabar
untuk duduk termenung di teras rumahmu karena menunggumu bersiap-siap.
Namun aku senang-senang saja, karena mamamu yang ramah dan cantik itu
selalu menemaniku. Kita membicarakan banyak hal, entah mengapa aku
merasa nyaman, seperti berbicara dengan ibuku sendiri.
Kakak masih sering mengajakku ke sawah, namun aku tak bisa. Begitu
pun sebaliknya. Sering pula aku mengajakmu kak dan kau pun tak bisa.
Namun, walau tak sesering dulu yang hampir setiap hari kau datang ke
rumah lalu mengajakku berlarian di sawah, berkejaran dengan
capung-capung elok yang mewarnai petak-petak sawah, masih memilikimu pun
sudah cukup membuatku bahagia. Kehadiran sosokmu begitu berarti bagiku
kak. Kau selalu bersedia mengorbankan waktu belajarmu untuk menemuiku
ketika aku sangat membutuhkanmu, ketika aku sedang kesulitan menghadapi
masalah-masalahku, ketika aku membutuhkan seseorang untuk menemaniku
menangis.
Ah, itu juga dulu. Walaupun tidak dulu sekali. Kini kita sudah
dewasa. Sudah SMA. Eh, maaf. Aku saja yang SMA, kau sudah lulus
seharusnya kak. Kau mengambil program akselerasi di sekolahmu. Ya,
ketika SMA, kita tidak satu sekolah lagi. Bukan hanya itu, kita juga
sudah tidak bisa berangkat sekolah bersama. Bahkan, kita hampir tak
pernah bisa sewaktu-waktu bertemu. Ya, kak, aku sekarang jadi anak
asrama. Sekolahku mewajibkan semua siswanya untuk tinggal di asrama.
Tidak diijinkan untuk pulang ke rumah selain pada waktu libur akhir
semester atau hari raya Idul Fitri. Jangankan main di sawah denganmu
seperti dulu, bertemu dengan orangtuaku pun menjadi sesuatu yang teramat
langka dan istimewa.
Aku masih ingat, ketika itu sekolah tidak sedang libur. Tiba-tiba kau
datang ke asramaku. Sedikit kaget, namun kucoba untuk terlihat biasa.
Ya, semenjak dewasa ini, lebih sering aku merasa malu kalau terlihat ada
yang kurang dari diriku dihadapanmu kak, tak seperti dulu. Entah dari
mana datangnya rasa malu itu aku pun tak tahu. Kuminta ijin pada bu
satpam untuk keluar sebentar denganmu, kubilang kau adalah kakakku.
“Tak jauh dari sini, ada sawah loh kak”
Lalu kau begitu antusias menyuruhku mengajakmu ke sana.
Menghampar luas sawah yang dihuni kawanan padi yang mulai menguning,
membuat siluet indah di antara ujung pandang sawah dan langit dalam
pancaran oranye matahari yang sudah nampak begitu ingin menyinari bagian
bumi lainnya. Namun, aku seperti merasakan ada sesuatu yang kurang pada
sawah ini.
Sejenak kita saling tanya tentang kabar, lalu kau
mengeluarkan sesuatu dari dalam tas ranselmu. Itu sebuah kanvas. Indah
sekali lukisanmu itu kak. Tapi itu apa? Masak ada capung warnanya putih.
Ketika itu aku baru tahu kalau kakak masih selalu pergi ke sawah, namun
lebih sore dari biasanya. Ah, kau begitu melankolis kak, melepas rindu
padaku dengan melukis capung di sawah.
“Dek, capung putih itu unik sekali. Dia selalu terbang dan tak pernah
hinggap. Ya, begitulah seharusnya hidup. Harus selalu berjalan, tak ada
guna berdiam diri, semuanya pasti berubah, itu pasti. Tak perlu kita
mempermasalahkannya, cukup mengambil pelajaran darinya agar kita menjadi
lebih kuat.” Aku rindu dengan nasihat seperti itu kak. Sudah begitu
lama aku tak mendengarnya.
“Oh iya dek, kau mungkin belum pernah menemuinya karena dia hanya
terbang diwaktu matahari mulai akan menanggalkan sinarnya. Apalagi,
sepertinya di sini air sungai, parit, sudah banyak tercemar air sabun.
Kau tahu kan, nimfa capung tak dapat menetas di air tercemar. Jadi jika
di suatu daerah tak ada capung, kita bisa tahu bahwa air di daerah itu
sudah tercemar.”
“Ah kakak lebih banyak tahu sekarang.”
“Yah, hampir setiap minggu kakak mengamati capung dek, sesekali juga untuk melukis mereka, haha”
“Andai aku juga bisa setiap hari melukis capung di sawah seperti kakak”
“Haha, kau tak banyak berubah dek” Kurasakan tatapan itu masih sehangat dahulu.
“Kakak suka sekali dengan capung ini dek, capung putih. Cantik, seperti dirimu.”
Seketika kurasakan ada yang berubah pada tatapan itu kak. Tatapan sebelum kakak berucap;
“Aku sekalian pamit dek”
“Pamit?? Kakak akan ke mana?”
^^^
III
Gadis itu mulai beranjak dari tempatnya duduk. Dipandanginya bulan
sabit yang memendarkan cahaya kerinduan. Perlahan air matanya meleleh
bersama sesungging senyum di bibirnya yang masih pucat. Dalam hati ia
berkata;
“Kak, satu tahun yang lalu aku datang ke sini dengan beribu duka dan
kesangsian. Cepat sekali kau meninggalkanku. Menutup lembaran kisah yang
begitu berarti. Darimu, aku menemukan sosok yang penuh kesabaran dan
kesetiaan. Aku akan selalu menyimpannya, kak. Namun, kuyakin, Tuhan
telah memberikan yang terbaik untukmu, juga untukku.”
Ia menoleh ke belakang. Mengambil ranselnya yang tergeletak pada
bangku kayu ruang tunggu bandara S, lalu berjalan meninggalkan tempat
itu. Wajahnya basah. Sebasah hatinya yang dipenuhi kerinduan.
“Begitulah seharusnya hidup. Harus selalu berjalan, tak ada guna
berdiam diri, semuanya pasti berubah, itu pasti. Tak perlu kita
mempermasalahkannya, cukup mengambil pelajaran darinya agar kita menjadi
lebih kuat”