I am freelance intelligence. Currently trying to understand capitalism.

Wednesday, 18 December 2013

The Romance

Photo by me, taken at the top of Mount Panderman -2013

Seorang lelaki berjalan dalam lorong yang cukup sepi. Gelap dan berdebu. Namun tenang, dan dingin. Di sebuah bangku di sudut lorong, seorang gadis duduk sendiri seperti menikmati waktu. Menikmati dingin dan debu. 
Lelaki itu nampak lelah dan bahagia. Dan ia seperti ingin waktu berjalan lebih lambat, sedikit. 
Waktu memang seperti berhenti kala mata mereka saling meremas lembut. Ia dan gadis di bangku itu. Mereka tersenyum dan bahagia. 

Akal sehat ku berhenti  
Kala menatap indah matamu 
Hingga melumpuhkan jiwa
Kau mencuri perhatian dan sayangku
Takkan lagi ku pungkiri semua

Taken at top of Panderman, by Adib. Gak nyambung ya, hehe..

...

"... Dear, kamu apa kabar? Di sini dingin banget, hujan lagi. Tadi sore waktu aku mau berangkat wawancara orang buat tesis, pas di stasiun counter mau beli tiket PER, ada anak kecil cewek yang main biola. Bagus banget tau nggak sih... Jadi kangen kamu ^_^ ."

"... Hahaha, sorry dear, lama balesnya, koneksi internet gak pernah good mood di sini. Aku baik kok, ga usah khawatir lagi, tambah gemuk banyak makanan, jiaaah. Hahaha dipakai yak jaketnya sayang, susah tau bikinnya dulu. Eh dear, kemarin di komunitas waktu aku ngajarin anak-anak kecil, ada anak cowok yang item dekil, main biolanya kaku banget kayak kamu, tapi lucuu, hahaha jadi kangen kamu juga sayang."

...

Dulu ku mencintaimu 
Terasa bahagia 
Namun kau hilang tanpa jejak
Membuat bertanya
Apa salah diriku
Hapus memori itu

Tak semudah dibayangkan
Bagai hantu di siang malam 
Mendera batinku
Bayang dirimu

Begitu merasuk kalbu

"Walau akhirnya cinta itu yang membuat kita sakit. kita lalu merasakan yang namanya terjatuh karena kesalahan sendiri. Tidak mati, namun lukanya membuat kita tak bisa berjalan seperti dulu lagi."  

Pas banget kayaknya quote di film itu buat gue sekarang, sedih emang. Bukan waktu sebenernya yang bikin kita pisah. Awalnya gue juga gak ada niat buat deket sama orang lain, tapi karena gue selalu sendirian, ya habis gmn orang pacar juga lagi jauh di sana buat nyeleseiin studi masternya.

"Tapi mungkin dari situ kita bisa mengerti. Bahwa tidak segala sesuatu berjalan sesempurna yang kita ingin. Dan dari ketidaksempurnaan itu kita bisa belajar. Belajar bagaimana memperbaiki sesuatu. Belajar menerima keadaan seseorang secara utuh. Dan belajar menjadi setia dengan tulus."


#Flash Fiction: song, Ada Band; Akal Sehat
252 -kangen sama nampen ini

    
Read More

Sunday, 24 November 2013

Rindu dan Matematika

            Judulnya melankolis banget ya kayaknya, em ngga tau deh yang jelas ini bukan tentang kenangan atau hal-hal yang berbau perasaan. Sebenernya mereka berdua adalah dua hal yang totally different in common jika dilihat gitu aja, yaa gitu aja, dilihat dengan cara yang biasa. Em, tapi belum tentu juga bakalan ada common in difference kalau dillihat dengan cara yang ngga biasa. Terus? Hehe sabar atuh bray.

           Pertama saya pengen cerita tentang sejarah dan filosofi dari rindu. Ah, kepanjangen ntar, gak jadi gak jadi. Em, gini aja deh, ada orang yang bilang sama kekasihnya, --- Kita udahan aja ya bebs, setelah beberapa waktu kita jalan bareng, makan baso di bawah jembatan bareng, minum akua di GI bareng, lari-lari pagi bareng, aku ngga ngerasa ada kesamaan diantara kita. Waktu makan baso, kamu pentolnya lima ngga ada mie-nya, aku pentolnya separo mie-nya semangkuk. Waktu minum akua di GI, kamu akua-nya yang botolan aku akua yang gelas. Waktu lari-lari pagi bareng, aku pake sendal jepit kamu pake sepatu roda, gimana mau ngga protol otot bebs?? Em, gimana? Ngga papa kan kita udahan aja? Dari pada diterusin tapi akhirnya kita semakin ngerasa ngga nyaman? Bebs? Masih napas kan? Mau napas buatan? --- Lalu mereka berpisah dan entah bagaimana rindu akan mengatakan sesuatu kelak. Tapi yang jelas tidak ada tokoh yang dapat menjamin bahwa dia akan hadir. Tidak juga sebaliknya. Orang bisa rindu pada sosok yang baru ia temui beberapa jam yang lalu. Orang bisa rindu pada sosok yang berada jauh dari tempatnya mendengar suara sosok itu dari telefon. Begitu juga sebaliknya, orang bisa tidak rindu. Ya, saya cuma mau bilang kalau rindu itu abstrak sih. :p . Namuuun, setelah itu orang mulai mengerti tentang sebuah pola. Dan ya, selalu ada pola dalam hal se-abstrak apa pun. Termasuk juga rindu.


Intermezoo hehe :D
              Lalu bagaimana dengan matematika? Amit-amit dah kalo harus nyeritain sejarah dan perkembangan matematika. Sering sih sebenernya lihat buku yang begituan: pertama baca judulnya, wah keren banget nih kayaknya, coba buka halaman pertama: kampret ini apaan -_-".. Yang jelas sebenernya pada awalnya tidak ada yang jelas dalam matematika. Siapa bilang matematika itu kepastian, bukan. Matematika itu penuh dengan misteri dan ketidakpastian. Namun ada sebuah kebutuhan untuk menyederhanakan ketidakpastian dengan mengamati lalu mencari persamaan dan menuliskan sebuah pola yang lebih sedehana dalam bahasa aplikasi dari sebuah pola dalam bahasa abstraksi. Ya, saya juga cuma mau bilang kalau matematika itu itu abstrak. :D Namuuun, berbeda dengan rindu yang dibiarkan indah dalam abstraknya. Matematika dikonversi lagi menjadi sesuatu yang sederhana dan proporsional dengan permintaan manusia akan perhitungan, perkiraan, dan banyak hal.

Intermezoo lagii ckckck
            Jadilah mereka berbeda dan entah masih ada sebuah persamaan atau tidak. Yang jelas semuanya menjadi relatif. Saya tidak suka bilang kalau manusia itu makhluk yang relatif, tapi dalam satu hari aja, ya, well, eh, keluar topik entar jadinya. haha. Ya udah, udah ya, selesai, semoga tulisan ini (dengan open endingya) bisa dimengerti . . 
Read More

Thursday, 7 November 2013

A Reminder (Tfcfoubs)


Entah bagaimana saya belum merasakan, tapi sepertinya itu keren: setelah perjuangan berdarah-darah selama kurang lebih 4 tahun, kemudian berdiri disaksikan orang tua atau kerabat terdekat, mengenakan toga dan mengucap sumpah sebagai seorang sarjana. Lalu mencari spot yang pas buat foto bareng, dan hasilnya dipajang pada dinding di ruang tamu atau kamar orang tua.

Membanggakan sekali sepertinya.  Beberapa minggu istirahat di rumah, menyambung kembali silaturahmi dengan kerabat-kerabat yang sudah lama berisah, sambil minta pertimbangan permintaan perusahaan mana yang sebaiknya dipilih, atau beasiswa di negara mana yang sepertinya baik untuk di ambil.

Pada bagian bumi lainnya :

Entah bagaimana saya belum merasakan, tapi sepertinya itu keren: setelah bersusah payah untuk belajar, namun karena lingkungan dan akses pengembangan diri tidak begitu mendukung terpaksa mereka harus menutup buku dan memekarkan otot. Kemudian setelah satu bulan bercucuran keringat, mereka pulang dengan sepaket kebahagiaan untuk orang-orang yang mereka sayangi.

Membanggakan sekali sepertinya. Menghabiskan sebagian besar waktu dan tenaga untuk menjaga senyum orang-orang yang mereka sayangi. Kemudian sejenak menyesap kopi dan rokok kecil di sudut sepi bersama teman-teman yang senasib. Bercanda dan berbagi cerita. Berbagi harapan tentang perubahan hidup yang lebih baik.

...

Saya bukan bermaksud untuk menyinggung perihal keseimbangan, melainkan sebuah arti dari perbedaan. Bukan tanpa alasan manusia hidup dalam keragaman ilmu dan kemampuan. Bukan tanpa alasan kemudian muncul istilah keberuntungan dan 'nasib'. Ya, sebenarnya tulisan ini reminder aja sih buat saya sendiri khususnya (haha), bahwa pada setiap kebahagiaan yang datang, turut serta sebuah titipan kebahagiaan untuk orang lain. Bukan juga tanpa alasan sepertinya kemudian muncul istilah tanggung jawab dan kepercayaan Tuhan.     
Read More

Thursday, 31 October 2013

Saya, Halim dan Dia, Pada Satu Hari



          Ada begitu banyak hal yang ingin saya tuliskan akhir-akhir ini. hal-hal yang membentuk tiga garis kerut pada dahi saya yang dulu mulus. Ya, namun waktu di tempat ini rasanya seperti sedang berjalan di atas skateboard. Tidak seperti lima bulan lalu yang mana waktu seperti berjalan di atas Padang Arafah.
okah, saya cerita yang ini dulu aja ya ntar yang lainnya disambung di postingan lain.

          Jadi ceritanya di Indonesia ada orang yang bernama Halim. Tapi jangan salah, dia bukan orang susah yang kerjanya lontang lantung nyari kerja atau pengais sampah yang hidupnya di rumah kardus 3x4 meter atau bahkan seorang ustad yang pinternya ngalahin Muhammad SAW. Jangan salah. Halim bukan orang seperti itu. Dia orang yang jauh lebih susah dari tiga asumsi tadi. 

          Singkat cerita, Halim merupakan seorang pemikir (makannya hidupnya susah terus wkwkwk) yang entah gimana ceritanya kesambet sama buku yang judulnya The Legend of Apalachia: discovering the unconfirmed phylosophy of happiness. entah sudah berapa ratus kali ia membacakan buku itu dihadapan orang-orang yang, yaa, beberapa acuh, beberapa bersimpati dengan menepukkan tangannya satu kali, beberapa lari ketakutan, dan bahkan pernah satu ketika seorang anak kecil memberikan Halim lima dolar lalu menyuruhnya pergi. 

          Cerita tentang Halim berlanjut tanpa saya tahu sebelum beberapa waktu yang lalu, pada akhir pekan gerimis mulai bersemi menghadirkan kuncup-kuncup yang basah dan segar, lalu mekar dan indah. Karena pada saat itulah, pada akhirnya saya dapat berbicara dengan dia yang ternyata masih sangat sehat walau pun banyak desas desus yang mengabarkan bahwa ia tengah sakit keras, ia sekarang sudah gila, bukankah ia sudah meninggal? Tidak tidak ia tidak mungkin meninggal selama kita masih ada.
Kami sedikit berbicara kemudian:

"Hai Halim, iya, anda Halim kan??" Tanya saya padanya
"Iya, oh anda, senang sekali berjumpa lagi, bagaimana kabarnya?"
"Alhamdulillah saya baik-baik, anda bagaimana? ah sebentar, tapi mungkin hanya anda yang senang kita dapat berjumpa lagi, karena sepertinya saya tidak"
"Kabar saya juga baik sebenarnya. Bagaimana bisa begitu? bukankah anda begitu sering memikirkan saya? bagaimana mungkin anda tidak berbahagia ketika kita bertemu?"
"Bukan Halim, bukan demikian. Anda terlalu sering membuat saya pusing dan selalu ingin minum kopi." Saya melirik halim sekejap. "Anda tahu ibu tidak pernah menyetujui permintaan saya untuk sepaket kopi siap seduh, itu tidak baik bagiku ia bilang"
"Ah, mengapa jadi demikian, bukankah kepusingan bisa anda pikir sebagai sebuah kesenangan?"
"Sangat bisa Halim, namun hanya ada 5% kadar tawa pada kesenangan itu. Apakah anda pikir itu sesuatu yang efisien?"
"Hem... padahal anda mengenal saya sebagai seorang Halim."
"Hah? maksud anda?"
"Saya pikir anda akan mau saya ajak berenang, main bola, lari pagi, menyesap teh hangat bersama gerimis, atau main dota 2 jika anda mengenal saya sebagai Halim"
"Jika saya tidak mengenal anda sebagai seorang Halim, lantas anda yang seperti apa yang akan saya kenal"
"Saya yang seperti bunga, kadang dipetik orang dan diberikan kepada kekasihnya, kadang dipetik anak-anak kecil yang iseng, kadang dipetik oleh pekerja-pekerja perusahaan untuk dijadikan pengharum, untuk membuat produk yang akan menguntungkan mereka"
"Saya masih belum mengerti Halim, lantas anda yang seperti bunga apakah sama seperti anda yang seperti Halim?"
"Seperti apa saya seperti apa anda memandang, memikirkan, dan memperlakukan saya"
"Jika saya ingin berteman dengan anda yang seperti bunga, bagaimana saya harus memanggil anda?"
"jika saya seperti bunga, tentu anda bukan teman saya melainkan majikan dan saya budaknya. Ah, tapi jika memang demikian, panggil saja saya puisi. Seperti kebanyakan orang memanggil saya"

...

Singkat cerita, saya kemudian bertukar senyum dengan Halim dan kita berpisah tanpa sebuah janji untuk bertemu lagi. 

"Jika saya sudah sedikit lebih dewasa, saya ingin kita bertemu lagi" saya berkata padanya dengan wajah menunduk memandang bayangan wajahnya yang meneduhkan semut-semut merah.

"Semoga demikian" jawab Halim singkat. Dan kita berpisah diiringi gerimis rubah. Ya, gerimis yang turun dikala hari cerah dan angin berhembus seperti Mandella.
Read More

Wednesday, 23 October 2013

Tentang Lelaki yang Menunggu Hujan

1
             Hujan turun semakin deras. Membasahi jalanan yang mulai menggelap. Sunyi. Sepi. Dingin. Di sepanjang jalan tempat lelaki itu berdiri, masih nampak tenda-tenda sederhana mengepulkan uap kopi. Di dalamnya sebuah lampu memendarkan cahaya oranye. Menerangi dan memberi sedikit hawa panas pada pisang goreng dingin yang belum tersentuh tangan pembeli. Sepertinya di sana hangat.
Ah sudahlah. Ia tak akan dapat rasakan kehangatan itu.
Ia hanya seorang lelaki berambut hitam gondrong dan pakaian lusuh penuh debu yang berdiri menggigil di emper sebuah toko berpintu harmonika. Kedua tangannya dilipat. Menyembunyikan jari-jarinya pada ketiak yang menghangatkan. Satu kehangatan yang dapat ia nikmati. Sendirian.
Semua orang mencarinya. Ya. Walau tak satu pun dari mereka tahu seperti apa sosok yang sebenarnya mereka cari. Karena hanya Tuhan, aku, dan orang-orang berjubah putih itu yang mungkin tahu.
            Orang-orang berjubah putih yang kini tak dapat lagi merasakan segarnya udara. Ia, lelaki itu. Sudah mulai nampak kerutan-kerutan pada kulitnya yang gelap.
            Kau tahu, dulu ia adalah seorang penjual rokok di persimpangan gang yang mengarang cerita. Namun itu dulu. Sebelum segerombolan orang berjubah putih datang dan membawanya ke suatu tempat. Tempat yang dijejali tarian angin lembah ketika bulan menerawangkan wajah Rama dan Shinta yang saling memandang. Tempat yang belum pernah ia tahu keberadaanya.
            Di sana ia tak sendiri. Banyak pula orang-orang yang duduk bersila dengan wajah menunduk dan tangan diikat di balik perut.
            Itulah kali pertama ia datang ke tempat itu.

2
            Hujan turun semakin deras. Membasahi jalanan yang mulai menggelap. Yang nampak dalam pandanganku hanyalah pendar lampu-lampu kendaraan yang sedang mengantri untuk naik. Kupandangi lekat-lekat seorang kurir yang diutus oleh Tuan Snouck Van Jugend untuk mengantarkanku pada seorang lelaki yang tidur dalam sebuah jeruji besi di Hindia karena mengarang cerita. Ya, aku akan menghamba padanya.
            Inilah kali pertama aku mendengar ayam jantan yang berkokok merdu dikala fajar menyingsing dan embun membasahi rerumputan.
            Cukup! Sudah hampir dua malam kurir itu mengajakku berjalan merasakan panas sengatan matahari dan dingin belaian gerimis. Tak kunjung sampai aku pada tujuan yang dimaksudkan tuan Jugend.
            Seseorang berseragam coklat membukakan pintu setelah tiga kali si kurir mengucap salam dalam bahasa Indonesia berlogat Belanda. Aku dibawanya masuk.
            Sempat kulihat orang-orang dengan badan penuh debu dan pakaian tak lagi utuh berjajar rapi di samping gundukan tanah. Sebagian menenteng cangkul. Sebagiannya lagi menggenggam linggis. Dan setelah itu; gelap. Tak dapat kulihat apa pun. Sepertinya aku dimasukkan dalam sebuah ruangan isolasi yang tak punya ventilasi udara pun sedikit.

3
            Hujan turun semakin deras. Sederas cucuran keringat lelaki itu. Lengah sedikit saja, cambuk akan menanggalkan garis merah pada punggungnya yang telanjang. Rutinitas barunya kini setelah sarapan pagi berteman kokok ayam jantan adalah mencangkul. Membuat lubang menuju ke desa-desa yang ingin dijadikan lahan ekonomi orang-orang berjubah putih itu. Ya memang, sepengamatanku segala yang dilakukan orang di tempat ini hanya untuk kepentingan orang-orang berjubah putih itu. Heran, pun belum tahu aku seberapa sakti mereka walaupun kami datang dari tempat yang sama.
            Walaupun aku tak diantarkan pada lelaki itu, setidaknya sekarang aku telah keluar dari ruang isolasi pengap itu. Dipaksa aku melayani orang-orang berseragam coklat itu mengarang cerita tentang peristiwa-peristiwa di tempat ini. Ya, kusebut itu mengarang karena tak sama dengan faktanya. Dasar orang-orang itu. Seharusnya mereka belajar dulu pada lelaki itu perihal karang-mengarang, ia jagonya. Bahkan tuan Jugend yang seorang akademisi senior pun dibuatnya terkesima hingga mengirimkanku pada lelaki itu.
Aku, juga lelaki itu saksikan langsung bagaimana orang-orang berjubah putih itu terbahak-bahak setelah melemparkan sebutir kecil bijih besi hitam, lalu jemarinya bergerak menekan tombol merah pada sebuah benda persegi dalam genggamannya dan rumah-rumah itu terbakar.
             Kebakaran yang biasanya akan dihentikan oleh hujan. Begitulah cara mereka menguasai tanah ini. Tanah orang-orang Hindia. Tanah orang-orang yang tak pernah berjubah.
Lelaki itu, ia genggam erat sebuah pisau mungil dibalik tangannya. Ia menyelusup di ruang tempat benda itu disimpan dikala orang-orang berseragam coklat itu terlelap. Ia congkel kotak tempat orang-orang berjubah putih itu menyimpan butir bijih besi dan benda persegi bertombol merah itu.
Aw, timbul suara berisik ketika kotak itu terbuka. Orang berseragam coklat itu menggerakkan tangannya ke atas, lalu turun mengusap mulutnya yang basah, dan, ia terlelap lagi. Fiuh. Lelaki itu, ia berhasil. Ia bawa benda itu dan lari entah ke mana. Tak dibawa sertanya diriku. Dibiarkannya aku tetap di sini, di tempat yang sungguh menyedihkan.
              Orang-orang berjubah putih itu marah besar pada orang-orang berseragam coklat. Mereka lalu interogasi semua orang dalam sel. Memukuli mereka tanpa terkecuali. Satu orang berjubah putih itu bilang; ia akan bawa mereka ke Pulau Buru untuk merasakan penjara yang lebih kejam jika tak ada yang mau mengaku. Ah, untung lelaki itu telah pergi. Namun orang-orang berjubah putih itu tak menyadarinya. Beruntung sekali ia.
              Ah, baru ku tahu sekarang ternyata benda itu adalah bijih uranium yang di dalamnya terdapat sensor sinyal yang dapat dipicu oleh tombol merah pada benda yang disebut remot kontrol itu. Benda kecil yang memiliki daya ledak tinggi, namun ia tak meledak seperti bom, aku sendiri juga heran. Bijih uranium itu meledak, merapuhkan segala sesuatu yang dikenainya lalu memercikkan api terhadapnya sehingga membuat mereka terbakar. Tak kusangka ternyata ada ciptaan mereka yang lebih keren dibanding diriku.

4
              Hujan turun semakin deras. Namun lelaki itu tak lagi ada di sini sekarang.Malam semakin sunyi. Tak ada lagi rumah atau desa yang terbakar secara tiba-tiba lalu esoknya berubah jadi kebun jarak.
Hah, lelaki itu! Tiba-tiba ia datang. Entah dari mana. Langsung ia menghampiriku dan membawaku pergi. Untung tak ada orang berseragam coklat yang tahu. Kalau ada, habislah ia.
              Ia suruh aku membantunya menulis satu pengumuman bahwa esok malam, ia akan bakar kantor orang-orang berseragam coklat. Tempat ia dipenjarakan dahulu. Ia bilang ingin pasang pengumuman itu di koran. Ia punya teman yang bekerja di satu media masa di Hindia ini.
Ah, sebenarnya aku malas membantunya. Namun ia memaksa.

5
              Biasanya hujan turun semakin deras, namun sepertinya tidak untuk kali ini. Aku dapat merasakan kesedihannya. Kesedihan yang akan sejenak berhenti ketika hujan turun dan mencipta abu di atas tanah desa-desa itu.
              Ia selalu setia menunggu hujan. Menunggu kesedihannya berhenti sejenak. Namun ternyata ia tak sepemberani seperti yang pernah kubayangkan ketika menculikku dari markas orang-orang berseragam coklat itu.
              Amarah hanya ia pendam dalam dirinya. Dasar bodoh. Tak sedikit sudah aku mengingatkannya, mengumpatinya; Hei bodoh, jangan diam saja! Jangan biarkan orang-orang berjubah putih itu menjarah kebahagiaan yang seharusnya kau miliki. Kau harus berani. Lawan mereka. Jangan biarkan lagi mereka merampas hidup orang-orang yang kau sayangi. Ah kau hanya bisa mengarang cerita, tak lebih. Padahal pasti Tn. Jugend akan lebih bangga padamu jika kau mampu melawan sungguhan.
              Hah, percuma sudah kau menculikku kalau pada akhirnya kau urungkan niatmu untuk membakar tempat itu. Percayalah, teman-temanmu di sana pasti selamat, mereka dapat lari lewat gorong-gorong yang mereka bikin. Mereka sudah hafal jalannya. Ayo, tunggu apa lagi? Atau jika mereka terbakar, itu juga lebih baik. Daripada di sana mereka dipaksa bekerja sangat keras, disiksa. Kau telah kirimkan pengumuman itu pada temanmu. Pasti ia akan menaruhnya di halaman depan koran. Ayolah.
              Ah, lelaki itu. Ia masih tak bergeming. Tak dihiraukannya perkataanku. Dasar lemah. Ia telah kehilangan seluruh anggota keluarganya ketika desanya dibakar. Sedang ia tak dapat berbuat apa-apa karena ia dan para lelaki desanya telah lebih dulu ditangkap atas perintah orang-orang berjubah putih itu.

7
            Hujan turun semakin deras. Lelaki  itu meninggalkanku sendirian pada sebuah ruangan yang gelap. Ah, dasar tak tahu berterimakasih. Padahal aku ingin lihat betapa hebohnya orang-orang di luar sana membaca tulisanmu yang mengancam akan ledakkan markas orang-orang berseragam coklat itu. Betapa mereka akan kebingungan, takut. Lalu orang-orang berjubah putih akan sangat marah dan menyalahkan mereka.
            Lelaki itu pergi entah kemana. Untuk meledakkan markas itu mungkin. Ya, setidaknya itu dapat menyulut semangat lelaki-lelaki lainnya untuk berjuang melawan orang-orang berjubah putih yang menindas mereka.

8
            Hujan turun semakin deras. Pun lelaki itu tak kunjung kembali padaku. Tak pula kudengar ribut-ribut karena markas orang-orang berseragam coklat yang terbakar. Dimana lelaki itu? Apakah ia tewas?
            Seharusnya malam tadi ia telah ledakkan bijih uranium itu. Ah, dasar!
            Seseorang melemparkan sebuah koran dihadapanku. Yang benar saja. Halaman depannya menampakkan gambar bangunan yang terbakar hebat. Di atasnya tertulis; “Rumah Jendral Crist Van Ottoman Meledak”
            Bagaimana mungkin. Ku tahu ia adalah salah seorang jendral kepercayaan Ratu. Ku lanjutkan membaca berita itu. Benar. Jendral itu tewas beserta istrinya. Pasti ini ulah lelaki itu. Ya, aku yakin. Ia urungkan niat ledakkan markas orang-orang berseragam coklat karena tak ingin teman-temannya yang ada di sana ikut terbakar.

9
             Hujan turun semakin deras. Membasahi jalanan yang mulai menggelap. Sunyi. Sepi. Dingin. Di sepanjang jalan tempat lelaki itu berdiri, masih nampak tenda-tenda sederhana mengepulkan uap kopi. Di dalamnya sebuah lampu memendarkan cahaya oranye. Menerangi dan memberi sedikit hawa panas pada pisang goreng dingin yang belum tersentuh tangan pembeli. Sepertinya di sana hangat.
             Ah sudahlah. Ia tak akan dapat rasakan kehangatan itu. Namun aku dapat rasakan kehangatannya.
Aku akan menemaninya mengarang cerita. Ya. Karena memang aku adalah mesin ketik yang dibeli Tn. Jugend dari sebuah toko di Belanda sana setelah Tn. Jugend membaca cerita yang ditulis lelaki itu tentang penindasan orang-orang berjubah putih terhadap bangsanya. Tuan Jugend menjulukinya pahlawan Asia.
Walaupun ucapanku tak pernah dapat ia dengarkan, setidaknya aku cukup bangga dapat membantunya menulis pengumuman tentang ancaman peledakkan markas yang dimuat di koran dan membakar semangat lelaki-lelaki lainnya. Haha, sungguh besar kekuatan kata-kata yang dituliskan lelaki itu, pun sekadar pada ultimatum singkat. Walaupun kudengar media masa yang memuatnya itu ditutup sekarang.
             Lelaki itu masih berdiri. Sendirian. Menunggu hujan. Bukan menunggu kedatangannya, melainkan menunggu kepulangannya. Tidak untuk memadamkan desa-desa yang terbakar, namun sekadar berteduh. Mengenang wajah cantik istrinya yang baru saja ia nikahi. Mengenang desanya yang dulu indah dan sejahtera.
             Biarkanlah hujan turun kali ini. Membasahi jalanan yang kini lengang. Aku pun juga akan menunggunya. Karena aku akan rusak dan tak berguna jika melawannya.
Lelaki itu menatapku, mengelapku dengan sapu tangannya yang lembab. Mungkinkah ia dapat mengerti perkataanku?


 ......

Cerita ini aku tulis, em kalau tidak salah dua tahun yang lalu, sekedar untuk mengingat tentang perjalanan hidup yang menemui beragam halangan sepatutnya diperjuangkan dari beragam sisi pula. Terimakasih. Semoga kita selalu sempat merasakan bahagia pada waktunya.

Read More

Monday, 7 October 2013

Instalove

Jika telah datang segerombolan burung Nazar ke selatan
Dan gunung-gunung mulai berbicara tentang nasib massa
Aku ingin sekali memelukmu
Walaupun entah dengan apa
Dan kita akan berkata
Inilah keabadian
Yang selalu dibicarakan berjoli-joli manusia
Yang tak pernah lelah untuk penasaran
Tentang bagian terindah dalam percintaan
Read More

Sunday, 6 October 2013

Beberapa Kata dari Daud Yusuf, Mantan Menkeu di Massa Orba

Picture of Daud Yusuf, Teken from Wikipedia
Setelah membacakan memoar dari satu bukunya yang berjudul Emak, bu MC mengajukan satu pertanyaan pada Daud Yusuf. Kira-kira begini:


"........ Yang paling menyedihkan dan paling menggembirakan sampai sekarang dalam pengamatan bapak apa pak?"


"E' ..Sebenarnya, saya lihat semakin lama semakin tidak ada yang menggembirakan. Bayangkan, dua hari yang lalu saya membaca di harian kompas tulisan Budiono, wakil presiden. Menulis tentang pendidikan untuk semua, tapi di situ dia mengatakan: 'saya bermimpi', saya heran, dia duduk di situ bukan untuk bermimpi! Tapi melaksanakan. Dan yang membuat saya kecewa daripada mengapa negeri ini jadi seperti ini, beberapa tahun yang lalu Pak Susilo Bambang Yudhoyono juga mengatakan 'saya bermimpi'! Jadi negeri kita ini (selain) dipimpin oleh orang-orang yang munafik, oleh badut, juga dipimpin oleh orang-orang pemimpi. Inilah yg kadang-kadang membuat saya tidak bisa tersenyum, walaupun dari dahulu juga saya tidak.."


hahahaha, plok plok plok plok....

Ya, mungkin beliau sedang lupa, pada 28 Agustus 1963 dihadapan 250.000 warga Amerika, Martin Luther King pernah berkata: "I have a dream that my four children will one day live in a nation where they will not be judged by the colour of their skin, but by the content of their character".

Dan setahun berikutnya, Luther menerima hadiah nobel. Dalam pidatonya di panggung penghargaan beliau berkata: "I refuse to accept the view that mankind is so tragically bound to the starless midnight of racism and war that the bright daybreak of peace and brotherhood can never become a reality".

Ya, sepertinya bukan karena perkataan "saya bermimpi" dari Pak Budiono maupun Pak SBY anda semakin tidak bisa tersenyum pak. Hahaha...   

Tapi ya, bagaimana pun, itu cukup menjadi sebuah jawaban yang manis setelah pembacaan memoar yang begitu memesona walau pun beliau hanya duduk di kursi dan tidak banyak bergerak.
Tapi ya, bagaimana pun, sepertinya masih ada pesan positif yang dapat kita ambil. Seperti, ya, memang bisa jadi benar pak, jika kata mimpi itu tidak dihidupi. Dan mungkin juga bisa benar ketika kata-kata itu dilimpahkan buat saya dan manusia-manusia usia produktif di negeri ini. Thanks anyway...
Read More

Saturday, 5 October 2013

Entah Ini Apa

Habis hujan di Asrama SMAN 10 Tlogowaru beberapa tahun yang lalu, jiaah :D

Entah sejak kapan hujan mulai bercerita tentang rindu
tentang sesuatu yang membuat cinta terasa ambigu
tapi haruskah cinta melupakan payung?

seorang remaja bertanya tentang bagian terindah dari sebuah percintaan
di sebuah rumah gubuk atau beberapa remah roti
apel putri sinderela atau ciuman sehangat kopi
atau mungkin percumbuan di atas altar

lalu waktu berjalan tanpa ada jiwa lain yang mendahului
beberapa pecinta mulai menanyakan perihal rindu
perihal cinta yang bengis
menuntut cinta untuk beberapa hal yang tak rasional

dan entah sejak kapan burung-burung mulai berkicauan tentang rindu
hingga rindu menjadi cinta dan cinta menjadi rindu
seperti hujan menjadi payung dan payung menjadi hujan
Read More

Monday, 23 September 2013

Intastrofe


Di persimpangan jalan yang tak lagi dilalui kendaraan, seseorang membasahi wajahnya dengan beberapa butir air mata.
Angin masih bertiup ketika malam semakin larut. Menyapa sesosok tubuh lunglai dalam balutan kain spanduk. Bukan dingin yang ia risaukan, melainkan seseorang yang menunggunya di sebuah tempat yang jauh dari sini. Seseorang yang akan selalu menunggunya.
...
Delapan hari berlalu dan sekarang mungkin hari yang ke sembilan. Ia masih menggigil. Menemani burung-burung menjelajah bebukitan asam. Entah tak sempat entah memang telah marah dan melupakan. Pada hari yang biasanya ia dapatkan sebuah pesan dari seseorang. Pada hari yang beberapa tahun lalu ia mendapat senyuman yang begitu manis pada malam yang indah setelah dua hari sebelumnya mengatakan sesuatu. Entah apa yang terjadi sebenarnya, namun ia terlihat begitu rindu sekarang.
...
Jika saja waktu berkenan untuk kembali, ya, andai saja. Sesuatu yang tak lagi mungkin terjadi. Ah, sial. Mengapa penyesalan selalu menyakitkan jika bertemu dengan rindu. 
Read More

Sunday, 22 September 2013

Final Piala AFF (part 2) di Warung Kelontong

Jadi singkatnya di warteg tadi, bapak-bapak yang udah kehabisan energi itu pulang. Saya juga lah ngapain nge-galau sendirian di warteg. Sampai di kosan baru beberapa menit istirahat sambil ber-blogging ria nyamuk-nyamuk udah pada mulai hunting, nah berhubung nyamuk di sini udah pada kebal sama obat nyamuk elektrik yang saya punya dan lotion anti-nyamuk juga lagi habis dan ditambah lagi nggak ada tv di kamar, mau lihat pakai online streaming loadingnya aja udah parah, gimana bufferingnya. Akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke warung kelontong buat beli lotion nyamuk sekalian lanjutin nonton final AFF.

Waktu sampai di warung, udah menit 28 babak perpanjangan kedua dan scoreboard masih menunjukkan angka 0_0, haha.. Di warung kecil ini memang ramai, ada sekitar 15 orang, ada yang lagi main catur juga. Beda sama di warteg tadi yang ramai banget walau cuma 3 orang, di sini keliatan tenang-tenang aja.

Well, akhirnya pertandingan harus diselesaikan dengan cara yang lebih jantan : adu pinalti.
'' Wah menang nih kita kalo penalti''
'' Nggak ah, Vietnam kenceng-kenceng tendangannya''
'' Kenceng-kenceng tapi ngelambung, ke samping, ke atas.. haha.. terarah yang penting''

Tendangan pertama dari Vietnam:
'' Wah masuk nih kayaknya'' belum ada yang sempet ngasih tanggapan dan, well masuk. Sial..
''..... masih sepi...''
'' Masuk juga nih kita liat aja tuh, yang jauh yang jauh ambil kuda-kudanya''
'' Iya, masuk ini''
'' Nooh kan apa gue bilang''

'' Ini nggak masuk nih gue tiupin ini biar nggak masuk''
'' Noh kan, apa gue bilang, ngga mungkin masuk die udah gue tiupin''

'' Wah nih nglambung nih Vietnam nih, liat aja tuh mukanya aja udah kayak balon tiup, ngelambung nih pasti die'' dan ternyaya.... gol.. gaga
'' Yah salah dah gua''

Wkwkwkwk boleh boleh bang, nice try, gaga..
'' Nggak masuk nih Vietnam, pake kaki kiri dia'' lalu tendangannya melesat tajam menjebol gawang kita. . Gaga nice try lagi ya bang..
'' Nih masuk nih kita, jauh dia ambil ancang-ancangnya''
'' Haha''
'' Iya bisa nipu kalo jauh, kalo deket kebaca entar'' -__-'' iyo wes bang..

Dan sampailah pada momen yang paling mendebarkan habis tendangan ke-8 Vietnam tidak merubah score 6-6.
'' Wah kok dia sih yang nendang''
'' Dapet bonus nih dia nih kalo masuk''
'' Yah pake kaki kiri dia, nggak masuk lah''
Dan ...... BLENG !!!!!!! Goal bro !!! Wkwkwkwkwkwkwkwk diem lu bang... kakaka ...
Akhirnya Indonesia juara piala AFF U-19 2013 bro !! Waseeeek, ini hal paling membahagiakan selama hari ini. Gagagaga. .
'' Yes yes yes!! Kann ape gua bilang, menang, juara kita''
'' Pelatihnya nangis tuh''
'' Ini se-Asia apa Asia Tenggara ya?" What bang????? Dan lebih parahnya pertanyaan konyol itu dilontarkan sampai dua kali dan tidak juga ada jawab. Well untuk pertama kalinya saya harus angkat suara ini kayaknya..

Yes! Selamat buat Timnas U-19. Selamat buat kita semua bangsa Indonesia.
Bahkan orang yang nggak tau menahu tentang piala AFF, tentang sepak bola pun bisa dengan begitu antusias menyaksikan timnas kita berjuang di lapangan hijau. Betapa indahnya nasionalisme masyarakat Indonesia.

Betapa unik dan indah Indonesia.
Sampai di kosan, well saya baru sadar tumpukan tugas kuliah belum ada yang kesentuh, wkwkwk... Tapi kalo lagi bersemangat gini mah mau sampai pagi ngerjain juga ga masalah, gaga... 
Salam juara AFF 2013 .. kakaka


Read More

Final Piala AFF di Warteg

Saya akhir-akhir ini lumayan kudet, kebanyakan main dota kayaknya, gaga.. sampai-sampai nggak tau kalau malam ini timnas kita main di final lawan vietnam. Parah banget yak, padahal/sebelum-sebelumnya saya selalu update perkembangan dunia persepakbolaan.

Nah jadi ceritanya tadi saya habis muter-muter, pagi jalan-jalan di sekitar bundaran HI menikmati car free day sama barongsai yang nge-dance gangnam style. Habis itu temen saya ngajak ke monas. Karena niatnya emang jalan-jalan ya udah kita memutuskan buat jalan kaki dari HI ke Monas, lumayan juga ternyata, panas.. haha.. habis salat di MI Istiqlal, nyari-nyari buku dulu di Senen. Karena lumayan capek, sampai di kosan saya ketiduran dan baru bangun mendekati isya', sial..

Karena belum sempet masak, dan perut lumayan kosong, saya ke warteg. Di sana udah ada tiga bapak-bapak yang antusias sekali lihat final AFF.
'' Ahh laamee, keburu diambil noh''
'' Bahaya tuh nomor tujuh, gesit dia main potong aja''
'' Lah, bingung gini nih pemain kita, haduuh haduh''
Gagaga, saya jadi kayak makan di gelora delta sidoarjo ini.

Untuk sedikit mengurangi kekudetan, saya ikutan lihat sama bapak-bapak itu akhirnya. Dan kembali:
'' Ah kebanyakan ngocek, kasih lah''
'' Huh ngumpul mulu ne mainnya, nyebar dong''
'' Yaah, dikasih siapa tuh''

Singkatnya, mulai menit pertama sampai sekitar menit ke 28, timnas kita dimarahi habis-habisan sama supporternya di warteg, gagag..

Beberapa menit setelah itu, pola permainan kita mulai terlihat, dan bapak-bapak itu nggak buruk-buruk juga pengamatannya.
'' Nah kalo gini kan enak diliat''
'' Huh untung ada si merah tadi, kalo lewat habis udah''
'' Hah untung bagus dia refleknya, kalo enggak masuk udah itu''
'' Ah coba digoyang dikit tv-nya, masuk pasti itu tadi''

Well, komentar-komentar positif itu ternyata nggak tahan lama bro, wkwkwkwk.. habis itu balik lagi dah:
'' Nggak jalan gini nih passing-passingnya''
'' Coba tadi dia tendang langsung masuk tuh, pake dibawa segala''
'' Terserah dia lah dianya yang main, lu ngomel aje'' (pliss deh bang, dari tadi kalian ngapain kalo nggak ngomel-ngomel sendiri)
'' Kecewa nih, kecewa ''

Sampai mendekati menit 45 dan sepertinya energi mereka sudah terkuras habis.
'' Kok bau pesing ya apaan nih?"
'' Apaan ni gua bikin kopi''
'' Kopi lu pesing tuh''

Yes well, sepertinya mereka sudah ingat deadline buat bayar hutang.. gaga.. Padahal lumayan banyak momen yang bikin saya deg deg-an di akhir babak pertama tadi, tapi bapak-bapak itu kok diem aja ya? Wkwkwk....

Read More

Saturday, 21 September 2013

Di Taman

 
Privat doc. Taken at Batu, near Selecta. Just watch



---         Bila waktu terus memanggil agar dua hati dapat menyatu, bukan aku tak ingin cinta tapi aku takut menyakitimu. Dan kini aku jauh darimu, ada yang hilang dari hatiku...

Seorang perempuan duduk di bangku kayu di sudut sebuah taman. Menunggu senja bersama buah hatinya yang sudah mulai bisa mengucap beberapa kata. Beberapa waktu ia tersenyum memandang jagoannya berlarian mengejar kupu-kupu.
 
                                                                             ...

---        Cinta tak dapat ditebak apa maunya hati, salahkah kita? Hanya tak bisa dustai hati untuk mencinta, bukan maksud menduakanmu aku juga mencintaimu. Ku menjauh hanya untuk berfikir.. Dan kini aku jauh darimu, ada yang hilang dari hatiku. Letih memandang matahari yang memanduku untuk mencarimu.

Ia masih secantik dahulu. Masih seindah ketika aku mengucapkan selamat tinggal.
Di taman yang sama beberapa tahun yang lalu, hujan turun di sore yang cerah. Menyatu bersama untaian air mata. Sesaat melihatmu di sini cukup membuatku bahagia. Cukup untuk  mengobati rindu yang semakin berat terasa. Tiap akhir pekan selalu kusempatkan untuk menatap senja di sini, seperti beberapa tahun yang lalu.

Kuharap kau tak menyadari jika ingatan kita mengenang hal yang sama.

---          Biarlah semua, kini kita terpisah namun hati kita tetap menyatu. Ku sangat rindu ingin     bertemu sampai tujuh purnama kutetap menunggu...




flashfiction/ Salahkah Kita : Robbin ft Asmiranda
Read More

Monday, 16 September 2013

Eklipse

Photo by me, just watch!
pada suatu hari pada suatu purnama
bulan mendekap malam dan kedinginan
seseorang berdiri di sebuah taman yang sepi
menikmati hangat angin dan kesepian
seribu waktu berkeliling mencari keabadian
jauh di dasar hatinya
seseorang meringkuk kedinginan
menanti sebuah waktu yang entah datang entah tidak
menanti sebuah senyum dan sebulir air mata kura-kura
bahkan entah ada entah tidak
di sudut taman, seekor kedasih menyelinap di antara daun-daun
menikmati bulan tanpa perlu merasakan kesepian
sampai di sini saja,
ingatan itu ada, namun mencarinya tidaklah lagi mungkin
dan sepi akan selalu ada tanpa perlu mengalah pada apa pun
namun waktu akan selalu berjalan
dan memutar banyak hal
pada lelaki itu, seseorang yang menggigil dalam hatinya, dan seekor kedasih yang akan berkicau sebentar lagi
Read More

Sunday, 8 September 2013

Dahulu Terasa Indah


Taken at BNS (Batu Night Spectacular) by Eka P.P student of Brawijaya University majoring in geofisika
              Beberapa waktu lalu kita sempat bertemu. Beberapa saat sebelum semuanya berubah dan kenangan-kenangan menjadi pahit untuk dingat.
              Pada getar yang tak lagi sama seperti dulu, masih dapat ku rasakan sesuatu yang sama dari caramu memandangku. Sesuatu yang sama dari senyum yang selalu berbeda. Namun, benarkah semuanya masih sama seperti dulu?
              Gerimis turun ketika aku mengantarkanmu pulang untuk terakhir kalinya. Sejenak aku akan pergi dan tak lagi dapat menemuimu setiap waktu. Menggenggam jemarimu yang kedinginan atau mendengarkanmu bercerita tentang sesuatu. Kurasakan hangat keningmu untuk beberapa saat. Kurasakan hangat air matamu, dan, aku masih dapat merasakannya hingga kini. 

….........dahulu terasa indah, tak ingin lupakan. kemesraan slalu jadi, satu kenangan manis.

             Sepasang burung gereja berkicauan di dahan yang tak lagi kokoh. Menikmati mentari yang ingin menyinari bagian bumi lainnya. Menikmati langit oranye dan hembus angin yang dingin.
“Sudah begitu lama ya?”
             Kita termangu dalam kekakuan. Menatap kosong pada dua ujung sepatu.
“Iya, sampai-sampai aku telah lupa apa kau masih ingat pada wajah ini…”
“Aku dapat menjelaskan semuanya padamu, tolonglah..”
“Ssstt, sudahlah. Aku tentu bukan yang terbaik untukmu. Setelah sekian waktu, biarlah semuanya berubah. Mungkin memang Tuhan menakdirkan demikian.”
            Mungkinkah alam akan turut terdiam kaku dalam penyesalan mendengar ucapan itu?
“Hmph… Lalu apakah kau percaya jika esok matahari masih akan bersinar?”
“Ya, tentu.”
“Lalu mengapa tidak pada matahari dalam hati kita?”
            Kulihat air mata yang sama seperti beberapa tahun yang lalu. Dan kurasakan hangat yang sama.

………..semua kisah pasti ada akhir yang harus dilalui, begitu juga akhir kisah ini, yakinku indah. (Ada band: Manusia Bodoh)
Read More

Kenangan di Bukit Trese



Image
Photo by Alfian D.F Student of University of Indonesia majoring in computer science
Lelangit senja di puncak Bukit Trese tempat dimana aku melihatmu tersenyum untuk terahkir kalinya sudah tak secerah dahulu. Tak seteduh ketika kita mengubur helaian rambut kita di sini.
Aku duduk terpaku memandang gerombolan burung kuntul yang terbang ke selatan. Dulu, kau sering bercerita tentang mereka. Tentang kesamaan hidup kita dengan burung-burung itu. Katamu setiap manusia juga pasti akan berpindah tempat. Mengenai seperti apa tempat yang akan kita singgahi kelak, tergantung bagaimana kita perlakukan tempat yang kita singgahi sekarang. Jika kita merusaknya, maka sebuah tempat yang rusaklah hunian kita kelak. Burung-burung itu, ah bahagianya mereka dapat bermigrasi bersama-sama. Sedang kita?
Apakah kita juga terbang ke selatan seperti mereka? Kedengaran lucu. Hingga lelehan kristal bening membasahi kelopak mataku dan menganak sungai di sepanjang pipi. Entah kala itu kau sedang bercanda atau kerasukan apa. Sarafku kaku, pigmen kulitku memucat, dan seketika seluruh kekuatan dalam diriku lenyap saat kudengar kabar bahwa kau telah benar-benar bermigrasi. Beberapa hari setelah kau berdakwah seperti itu.
Bukit ini mampu menghadirkan kembali sosokmu. Disinilah kau menyematkan cincin putih bermata intan di jari manisku, satu tahun setelah kau menabung untuk membelinya. Kau bilang, Trese itu memiliki makna yang sangat dalam. Berasal dari dua kata bahasa jawa yang digabung dan dilebur. Tresno dan selawase, jadinya Trese. Tresno berarti cinta, kasih sayang, dan selawase berarti selamanya, abadi. Jadi, bukit ini berarti kasih sayang yang abadi. Sebab itulah kau ingin cinta kita selalu abadi dengan menyematkan cincin itu di sini.
Udara di bukit ini memang tak sedingin dahulu, tetapi menghirupnya mampu membawa ingatanku menyelusup ke dalam memori yang menyimpan banyak kenangan bersamamu.
Dulu setelah lelah mencari kayu bakar untuk dijual, kauselalu mengajakku beristirahatdi rumah pohon sederhana yang kau dirikan di bukit ini, sejuk sekali. Kemudian kau bercerita banyak hal untuk menghiburku.
Hah, kenangan itu akan selalu membekas dihati, walaupun telah disudahi ruang dan waktu.
Ketika pagi itu kita sedang mencari kayu bakar hingga hampir ke tengah hutan karena pepohonan di tepi hutan hampir tak ada yang tersisa. Saat itulah, kau mengorbankan nyawamu untuk menyelamatkanku dari seekor ular kobra yang menyerangtiba-tiba. Aku sungguh terkejut karena ular itu sudah tertegak dihadapanku, membuka leher dan menjulurkan lidahnya yang mengerikan. Ular itu melompat ke arahku. Aku memejamkan mata sambil berteriak sekeras mungkin.
Di bukit inilah aku bisa mengenangmu, bersama keabadian cinta itu. Tak akan aku biarkan hijaunya bukit ini menjadi kenangan. Bukit yang selalu memroduksi oksigen untuk bernafas dan mengalirkan airnya yang jernih.Trese, bukit yang memiliki kasih sayang abadi kepada manusia yang terkadang saling menyayangi, namun tidak menyayanginya.
Benar katamu, bukit ini juga turut mengabadikan sebuah cinta diantara kita. Aku berjanji kepadamu, akan kujaga bukit ini, akan kuhijaukan seperti dulu lagi.
Aku memejamkan mata, merasakan hembusan angin yang semakin dingin. Bersama kicauan beburung yang semakin melirih.

Malang, 2012 - dulu, sekarang udah gak pernah nulis ..
Read More

Elegi Senja


Photo by Benidiktus Sarpumwain, Indonesian Adventurer
suatu hari pada sebuah cermin
seseorang berdiri memandang tubuh yang pucat
bibir yang pernah merah kini jadi legam
pipi yang pernah ranum kini melenguh lemak membuku-buku
embun yang dulu menghias mata kini enyah entah kemana
waktu berjalan dengan takdir dan kepastian
malam ini seorang perempuan menggendong orok di emperan toko berpintu harmonika
dan malam menyisakan dingin
seorang tukang sapu bergegas kerja sepulang ibadah subuh
mendapati jalanan yang dipenuhi sampah berserakan
hanya sampah,
bukan perempuan atau anak kecil atau lelaki tua yang cacat
begitulah
tak perlu dipikir mengapa, karena memang sudah seharusnya begitu
alam mengatur manusia bahkan tanpa mereka dapat menyadari
bagaimanapun, pada setiap waktu
selalu ada kepastian bahwa tak selamanya yang indah itu indah atau pun yang buruk itu buruk
berbahagialah kau yang melihat keindahan pada setiap tubuh yang pucat, secuil bibir yang legam, bola pipi yang digelayuti lemak, atau pun mata yang tak lagi dapat melihat
Read More

The Memories



IMG_9908iiii
Photo by Eka P.P student of Brawijaya University majoring in Geofisika
Waktu seperti berjalan di atas sebuah roda yang sangat licin. Beberapa hari yang lalu saya bertemu seorang pedagang koran yang dulu biasa menjajakan korannya ke rumah jika masih ada yang tersisa dan ia sudah harus pulang. Ketika setelah cukup lama tidak berjumpa, ia masih menjalani rutinitasnya seperti dulu. Sepertinya tak ada juga yang berubah dari dirinya. Ia masih sama seperti beberapa tahun lalu.
Setelah sekitar empat tahun tidak bertemu dengan seorang kerabat kami berbicara banyak hal. Dulu dia seseorang yang banyak tingkah dan sering bertengkar, waktu menemaninya menjalani kehidupan yang baru di sebuah tempat rehabilitasi dan ia menjadi seseorang yang sangat sopan dan pendiam.
Human being are always change, but it’s difficult to predict how it would be. Apakah kita akan rindu pada diri kita di masa lalu atau tertawa heran bagaimana bisa kita seperti itu di masa lalu, dunia baru yang kita pilih untuk dijalanilah yang akan menentukan. Namun pada setiap perubahan, selalu ada kenangan yang bisa untuk setiap saat dirindukan. Selalu ada kenangan yang bisa setiap saat melepas ketegangan. Selalu ada kenangan yang bisa menyatukan lagi semua hal yang mungkin akan berubah.
Hari ini berjalan dengan begitu sederhana, akankah esok ketika kita mendapatkan dunia yang baru itu semuanya masih akan tetap sama? Bagaimanapun, masih selalu ada kenangan yang akan menyadarkan kita betapa indahnya waktu pada saat ini.
Read More

Ombak Di Pantai Kuta

photo
Photo by Dyah R. Paramastuti student of Airlangga University majoring in phsychology
-- by Muwaffiqol Fahmi
sejenak kurebah pada pasir yang menggigil
menjejak bibir laut bersama gemuruh ombak di dalam tubuh
membayang katastrofe
degup ini begitu terasa
menakutkan
mereka menggulung-gulung kecil dan seketika membesar mendaprat tubuh
mereka gelombang yang riuh
meluruhkan sendi-sendi penyangga
namun, waktu mengijinkan kami untuk berteman
dan dari sana lah keindahan itu mulai terlihat
Read More