1
Hujan turun semakin deras. Membasahi jalanan yang mulai
menggelap. Sunyi. Sepi. Dingin. Di sepanjang jalan tempat lelaki itu
berdiri, masih nampak tenda-tenda sederhana mengepulkan uap kopi. Di
dalamnya sebuah lampu memendarkan cahaya oranye. Menerangi dan memberi
sedikit hawa panas pada pisang goreng dingin yang belum tersentuh tangan
pembeli. Sepertinya di sana hangat.
Ah sudahlah. Ia tak akan dapat rasakan kehangatan itu.
Ia hanya seorang lelaki berambut hitam gondrong dan pakaian lusuh
penuh debu yang berdiri menggigil di emper sebuah toko berpintu
harmonika. Kedua tangannya dilipat. Menyembunyikan jari-jarinya pada
ketiak yang menghangatkan. Satu kehangatan yang dapat ia nikmati.
Sendirian.
Semua orang mencarinya. Ya. Walau tak satu pun dari mereka tahu
seperti apa sosok yang sebenarnya mereka cari. Karena hanya Tuhan, aku,
dan orang-orang berjubah putih itu yang mungkin tahu.
Orang-orang berjubah putih yang kini tak dapat lagi
merasakan segarnya udara. Ia, lelaki itu. Sudah mulai nampak
kerutan-kerutan pada kulitnya yang gelap.
Kau tahu, dulu ia adalah seorang penjual rokok di
persimpangan gang yang mengarang cerita. Namun itu dulu. Sebelum
segerombolan orang berjubah putih datang dan membawanya ke suatu tempat.
Tempat yang dijejali tarian angin lembah ketika bulan menerawangkan
wajah Rama dan Shinta yang saling memandang. Tempat yang belum pernah ia
tahu keberadaanya.
Di sana ia tak sendiri. Banyak pula orang-orang yang
duduk bersila dengan wajah menunduk dan tangan diikat di balik perut.
Itulah kali pertama ia datang ke tempat itu.
2
Hujan turun semakin deras. Membasahi jalanan yang mulai
menggelap. Yang nampak dalam pandanganku hanyalah pendar lampu-lampu
kendaraan yang sedang mengantri untuk naik. Kupandangi lekat-lekat
seorang kurir yang diutus oleh Tuan Snouck Van Jugend untuk
mengantarkanku pada seorang lelaki yang tidur dalam sebuah jeruji besi
di Hindia karena mengarang cerita. Ya, aku akan menghamba padanya.
Inilah kali pertama aku mendengar ayam jantan yang
berkokok merdu dikala fajar menyingsing dan embun membasahi rerumputan.
Cukup! Sudah hampir dua malam kurir itu mengajakku
berjalan merasakan panas sengatan matahari dan dingin belaian gerimis.
Tak kunjung sampai aku pada tujuan yang dimaksudkan tuan Jugend.
Seseorang berseragam coklat membukakan pintu setelah tiga
kali si kurir mengucap salam dalam bahasa Indonesia berlogat Belanda.
Aku dibawanya masuk.
Sempat kulihat orang-orang dengan badan penuh debu dan
pakaian tak lagi utuh berjajar rapi di samping gundukan tanah. Sebagian
menenteng cangkul. Sebagiannya lagi menggenggam linggis. Dan setelah
itu; gelap. Tak dapat kulihat apa pun. Sepertinya aku dimasukkan dalam
sebuah ruangan isolasi yang tak punya ventilasi udara pun sedikit.
3
Hujan turun semakin deras. Sederas cucuran keringat
lelaki itu. Lengah sedikit saja, cambuk akan menanggalkan garis merah
pada punggungnya yang telanjang. Rutinitas barunya kini setelah sarapan
pagi berteman kokok ayam jantan adalah mencangkul. Membuat lubang menuju
ke desa-desa yang ingin dijadikan lahan ekonomi orang-orang berjubah
putih itu. Ya memang, sepengamatanku segala yang dilakukan orang di
tempat ini hanya untuk kepentingan orang-orang berjubah putih itu.
Heran, pun belum tahu aku seberapa sakti mereka walaupun kami datang
dari tempat yang sama.
Walaupun aku tak diantarkan pada lelaki itu, setidaknya
sekarang aku telah keluar dari ruang isolasi pengap itu. Dipaksa aku
melayani orang-orang berseragam coklat itu mengarang cerita tentang
peristiwa-peristiwa di tempat ini. Ya, kusebut itu mengarang karena tak
sama dengan faktanya. Dasar orang-orang itu. Seharusnya mereka belajar
dulu pada lelaki itu perihal karang-mengarang, ia jagonya. Bahkan tuan
Jugend yang seorang akademisi senior pun dibuatnya terkesima hingga
mengirimkanku pada lelaki itu.
Aku, juga lelaki itu saksikan langsung bagaimana orang-orang berjubah
putih itu terbahak-bahak setelah melemparkan sebutir kecil bijih besi
hitam, lalu jemarinya bergerak menekan tombol merah pada sebuah benda
persegi dalam genggamannya dan rumah-rumah itu terbakar.
Kebakaran yang biasanya akan dihentikan oleh hujan. Begitulah cara
mereka menguasai tanah ini. Tanah orang-orang Hindia. Tanah orang-orang
yang tak pernah berjubah.
Lelaki itu, ia genggam erat sebuah pisau mungil dibalik tangannya. Ia
menyelusup di ruang tempat benda itu disimpan dikala orang-orang
berseragam coklat itu terlelap. Ia congkel kotak tempat orang-orang
berjubah putih itu menyimpan butir bijih besi dan benda persegi
bertombol merah itu.
Aw, timbul suara berisik ketika kotak itu terbuka. Orang berseragam
coklat itu menggerakkan tangannya ke atas, lalu turun mengusap mulutnya
yang basah, dan, ia terlelap lagi. Fiuh. Lelaki itu, ia berhasil. Ia
bawa benda itu dan lari entah ke mana. Tak dibawa sertanya diriku.
Dibiarkannya aku tetap di sini, di tempat yang sungguh menyedihkan.
Orang-orang berjubah putih itu marah besar pada orang-orang
berseragam coklat. Mereka lalu interogasi semua orang dalam sel.
Memukuli mereka tanpa terkecuali. Satu orang berjubah putih itu bilang;
ia akan bawa mereka ke Pulau Buru untuk merasakan penjara yang lebih
kejam jika tak ada yang mau mengaku. Ah, untung lelaki itu telah pergi.
Namun orang-orang berjubah putih itu tak menyadarinya. Beruntung sekali
ia.
Ah, baru ku tahu sekarang ternyata benda itu adalah bijih uranium
yang di dalamnya terdapat sensor sinyal yang dapat dipicu oleh tombol
merah pada benda yang disebut remot kontrol itu. Benda kecil yang
memiliki daya ledak tinggi, namun ia tak meledak seperti bom, aku
sendiri juga heran. Bijih uranium itu meledak, merapuhkan segala sesuatu
yang dikenainya lalu memercikkan api terhadapnya sehingga membuat
mereka terbakar. Tak kusangka ternyata ada ciptaan mereka yang lebih
keren dibanding diriku.
4
Hujan turun semakin deras. Namun lelaki itu tak lagi ada di sini
sekarang.Malam semakin sunyi. Tak ada lagi rumah atau desa yang terbakar
secara tiba-tiba lalu esoknya berubah jadi kebun jarak.
Hah, lelaki itu! Tiba-tiba ia datang. Entah dari mana. Langsung ia
menghampiriku dan membawaku pergi. Untung tak ada orang berseragam
coklat yang tahu. Kalau ada, habislah ia.
Ia suruh aku membantunya menulis satu pengumuman bahwa esok malam, ia
akan bakar kantor orang-orang berseragam coklat. Tempat ia dipenjarakan
dahulu. Ia bilang ingin pasang pengumuman itu di koran. Ia punya teman
yang bekerja di satu media masa di Hindia ini.
Ah, sebenarnya aku malas membantunya. Namun ia memaksa.
5
Biasanya hujan turun semakin deras, namun sepertinya tidak untuk kali
ini. Aku dapat merasakan kesedihannya. Kesedihan yang akan sejenak
berhenti ketika hujan turun dan mencipta abu di atas tanah desa-desa
itu.
Ia selalu setia menunggu hujan. Menunggu kesedihannya berhenti
sejenak. Namun ternyata ia tak sepemberani seperti yang pernah
kubayangkan ketika menculikku dari markas orang-orang berseragam coklat
itu.
Amarah hanya ia pendam dalam dirinya. Dasar bodoh. Tak sedikit sudah
aku mengingatkannya, mengumpatinya; Hei bodoh, jangan diam saja! Jangan
biarkan orang-orang berjubah putih itu menjarah kebahagiaan yang
seharusnya kau miliki. Kau harus berani. Lawan mereka. Jangan biarkan
lagi mereka merampas hidup orang-orang yang kau sayangi. Ah kau hanya
bisa mengarang cerita, tak lebih. Padahal pasti Tn. Jugend akan lebih
bangga padamu jika kau mampu melawan sungguhan.
Hah, percuma sudah kau menculikku kalau pada akhirnya kau urungkan
niatmu untuk membakar tempat itu. Percayalah, teman-temanmu di sana
pasti selamat, mereka dapat lari lewat gorong-gorong yang mereka bikin.
Mereka sudah hafal jalannya. Ayo, tunggu apa lagi? Atau jika mereka
terbakar, itu juga lebih baik. Daripada di sana mereka dipaksa bekerja
sangat keras, disiksa. Kau telah kirimkan pengumuman itu pada temanmu.
Pasti ia akan menaruhnya di halaman depan koran. Ayolah.
Ah, lelaki itu. Ia masih tak bergeming. Tak dihiraukannya
perkataanku. Dasar lemah. Ia telah kehilangan seluruh anggota
keluarganya ketika desanya dibakar. Sedang ia tak dapat berbuat apa-apa
karena ia dan para lelaki desanya telah lebih dulu ditangkap atas
perintah orang-orang berjubah putih itu.
7
Hujan turun semakin deras. Lelaki itu meninggalkanku
sendirian pada sebuah ruangan yang gelap. Ah, dasar tak tahu
berterimakasih. Padahal aku ingin lihat betapa hebohnya orang-orang di
luar sana membaca tulisanmu yang mengancam akan ledakkan markas
orang-orang berseragam coklat itu. Betapa mereka akan kebingungan,
takut. Lalu orang-orang berjubah putih akan sangat marah dan menyalahkan
mereka.
…
Lelaki itu pergi entah kemana. Untuk meledakkan markas
itu mungkin. Ya, setidaknya itu dapat menyulut semangat lelaki-lelaki
lainnya untuk berjuang melawan orang-orang berjubah putih yang menindas
mereka.
8
Hujan turun semakin deras. Pun lelaki itu tak kunjung
kembali padaku. Tak pula kudengar ribut-ribut karena markas orang-orang
berseragam coklat yang terbakar. Dimana lelaki itu? Apakah ia tewas?
Seharusnya malam tadi ia telah ledakkan bijih uranium itu. Ah, dasar!
Seseorang melemparkan sebuah koran dihadapanku. Yang
benar saja. Halaman depannya menampakkan gambar bangunan yang terbakar
hebat. Di atasnya tertulis; “Rumah Jendral Crist Van Ottoman Meledak”
Bagaimana mungkin. Ku tahu ia adalah salah seorang
jendral kepercayaan Ratu. Ku lanjutkan membaca berita itu. Benar.
Jendral itu tewas beserta istrinya. Pasti ini ulah lelaki itu. Ya, aku
yakin. Ia urungkan niat ledakkan markas orang-orang berseragam coklat
karena tak ingin teman-temannya yang ada di sana ikut terbakar.
9
Hujan turun semakin deras. Membasahi jalanan yang mulai menggelap.
Sunyi. Sepi. Dingin. Di sepanjang jalan tempat lelaki itu berdiri, masih
nampak tenda-tenda sederhana mengepulkan uap kopi. Di dalamnya sebuah
lampu memendarkan cahaya oranye. Menerangi dan memberi sedikit hawa
panas pada pisang goreng dingin yang belum tersentuh tangan pembeli.
Sepertinya di sana hangat.
Ah sudahlah. Ia tak akan dapat rasakan kehangatan itu. Namun aku dapat rasakan kehangatannya.
Aku akan menemaninya mengarang cerita. Ya. Karena memang aku adalah
mesin ketik yang dibeli Tn. Jugend dari sebuah toko di Belanda sana
setelah Tn. Jugend membaca cerita yang ditulis lelaki itu tentang
penindasan orang-orang berjubah putih terhadap bangsanya. Tuan Jugend
menjulukinya pahlawan Asia.
Walaupun ucapanku tak pernah dapat ia dengarkan, setidaknya aku cukup
bangga dapat membantunya menulis pengumuman tentang ancaman peledakkan
markas yang dimuat di koran dan membakar semangat lelaki-lelaki lainnya.
Haha, sungguh besar kekuatan kata-kata yang dituliskan lelaki itu, pun
sekadar pada ultimatum singkat. Walaupun kudengar media masa yang
memuatnya itu ditutup sekarang.
Lelaki itu masih berdiri. Sendirian. Menunggu hujan. Bukan menunggu
kedatangannya, melainkan menunggu kepulangannya. Tidak untuk memadamkan
desa-desa yang terbakar, namun sekadar berteduh. Mengenang wajah cantik
istrinya yang baru saja ia nikahi. Mengenang desanya yang dulu indah dan
sejahtera.
Biarkanlah hujan turun kali ini. Membasahi jalanan yang kini lengang.
Aku pun juga akan menunggunya. Karena aku akan rusak dan tak berguna
jika melawannya.
Lelaki itu menatapku, mengelapku dengan sapu tangannya yang lembab. Mungkinkah ia dapat mengerti perkataanku?
......
Cerita ini aku tulis, em kalau tidak salah dua tahun yang lalu, sekedar untuk mengingat tentang perjalanan
hidup yang menemui beragam halangan sepatutnya diperjuangkan dari
beragam sisi pula. Terimakasih. Semoga kita selalu sempat merasakan
bahagia pada waktunya.